Archive for March, 2012

Cerita Asep

Ini adalah cerita saya sebagai Asep, alias Anak Sepoer :mrgreen:

Hari Minggu kemarin, saya naik KRL rute Bogor-Jakarta Kota, untuk turun di Gambir mengantar teman pulang naik kereta. Tentu saja kami berdiri karena jalur ini ngga pernah ngga rame bahkan di kala weekend 😛

Dalam perjalanan di KRL itu, naiklah serombongan anak muda di stasiun Depok Baru. Mereka heboh sekali, bercerita dan bercanda dengan suara keras. Sepertinya sih bukan penduduk Depok atau sekitarnya, dan hendak main ke Kota Tua di dekat Stasiun Jakarta Kota. Salah satu dari mereka menjelaskan rute dan stasiun-stasiun yang disinggahi selama perjalanan, sembari menunjuk ke peta jalur KRL di atas pintu keluar. Salah satu temannya (sepertinya orang Medan) nyeletuk,

“Oo jadi sebelum Manggarai kita masuk Tebet (dengan pelafalan ‘e’ seperti pada ‘tempe’) dulu ya?”

Saya otomatis ngakak tertahan, sementara teman-temannya pun beramai-ramai menertawakan 😆 😆

Bukan kenapa-kenapa, saya dah lama aja ngga denger secara langsung celetukan primordial yang polos, seperti halnya ketika mendengar teman saya yang orang (m)Bantul menyebut Bogor dengan ‘mBogor, atau teman lainnya yang dari Kuningan mengucap ‘peripikasi’ ketimbang ‘verifikasi’ 😛

Kami turun di Stasiun Gambir. Sembari menunggu jadwal kereta, iseng-iseng kami ngemil di Dunkin. Ada beberapa orang asing di gerai tersebut. Di arah kiri kami ada ibu-ibu (dari perkiraan umurnya, ngga tau beneran ibu-ibu ato single :P) yang duduk seorang diri, sementara di arah kanan ada serombongan anak muda yang entah dari Prancis atau Belgia, yang jelas buku petunjuk mereka berbahasa Prancis. Si ibu itu tampilannya dekil, kumal, dengan kulit kecoklatan terbakar sinar matahari dan sepasang tatto di 2 punggungnya. Sedangkan serombongan anak muda itu relatif berpenampilan bersih dan rada gaya, seolah-olah baru pertama kali ini keluar rumah :P. Dasar iseng, saya nyeletuk ke teman saya,

“Tuh perhatiin si ibu itu, itulah petualang sejati, tas carrier, bawaan netbook yang enteng, kulit kasar dan kecoklatan terbakar sinar matahari. Bandingin ama rombongan ‘hipster’ di sebelah, kulit masih pucet, sampe Indonesia pun masih mainan hape dan gadget, coba liat tasnya apaan, jangan-jangan koper berroda lagi..” 😛

Tapi ternyata tas rombongan anak muda itu berupa backpack, jadi sayanya aja yang sotoy nebak-nebak plus nuduh kalo mereka hipster, hehehe 😛

Setelah teman saya naik keretanya, saya kembali ke arah Bogor menggunakan KRL lagi. Di dalam kereta, terdapat fenomena mental ‘ekonomi’ yang pernah saya bahas di postingan terdahulu. Sudah jelas di KRL ada aturannya tidak boleh duduk di lantai atau menggunakan kursi lipat, tapi ada aja serombongan keluarga yang dengan santainya duduk ngelekar di pojok gerbong karena ngga kebagain kursi. Saya sih cuma bisa memaklumi, ketimbang capek berdiri mereka memilih untuk duduk di lantai. Tapi menurut saya itu tindakan yang cukup egois, karena dengan duduk di lantai maka akan membuat space mereka lebih banyak (yang artinya membuat sesak) dan mengganggu penumpang lainnya yang berdiri. Fenomena yang mirip terjadi juga di kereta jarak jauh, biasanya di perjalanan malam di kelas ekonomi dan bisnis (karena saya belum pernah naik kelas eksekutif jarak jauh jadi ngga tau di eksekutif ada ato ngga fenomena semacam ini :P). Banyak penumpang tidur di selasar lorong gerbong kereta beralaskan koran dan selimut ketimbang duduk manis di bangkunya masing-masing. Saya maklum, apalagi kalo di kelas ekonomi yang bangkunya tegak lurus ngga enak pisan, tapi ya tetap saja saya terganggu kalo ketemu yang beginian 😛

Itu cerita dari saya sebagai anak sepoer musiman. Jadi pengen naik kereta kelas Argo yang jarak jauh :mrgreen: 😛