Archive for October, 2009

Komentar-Komentar yang Terjaring

Setelah membaca beberapa komentar di beberapa postingan saya yang mengeluhkan komentarnya ngga nongol, saya iseng2 ngecek antrian spam di akismet, dan WHOA, ternyata ada banyak 😛

komen_terlantar

komentar yg terlantar

Komentar2 yg layak sudah saya loloskan untuk postingan yang bersangkutan, maaf telat 😀

Advertisements

Time is Waktu

Mulai tanggal 25 Oktober 2009, alias minggu terakhir di bulan Oktober, di beberapa negara di belahan bumi utara kembali memundurkan waktunya satu jam. Dalam rangka apa? Kembali ke waktu normal dari waktu yang dimajukan di awal musim semi (minggu pertama bulan April) dalam rangka Summer Time atau disebut Daylight Saving Time (DST) di Amerika.

DST ini dilaksanakan di negara-negara berlintang tinggi, di mana pada musim panas siang hari berlangsung lebih lama dari malam hari. Siang hari yang sudah lebih lama itu dibuat lebih lama lagi menurut waktu pada jam dengan memajukan waktu 1 jam. Semua negara Eropa menerapkannya, sebagian besar Amerika Utara juga menerapkannya, beberapa negara Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika serta sebagian Australia Selatan juga menerapkannya. Dengan memajukan waktu 1 jam, hasilnya siang hari berakhir lebih malam menurut jam.

Mekanisme dari DST ini adalah memajukan waktu di jam menjadi 1 jam lebih cepat pada hari Minggu pertama bulan April, yang dianggap sebagai awal musim semi, pada jam 02.00 menjadi jam 03.00 dini hari sehingga hari itu memiliki 23 jam. Kemudian waktu berjalan seperti biasa sampai pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, yang dianggap akhir musim gugur, orang-orang kembali memundurkan waktunya pada jam 02.00 menjadi jam 01.00, dan hari itu mengalami 25 jam. Tentu saja mekanisme sebaliknya berlaku di belahan bumi selatan, seperti Australia, Amerika Latin, maupun Afrika bagian selatan. Mereka memajukan waktunya di bulan Oktober, dan memundurkannya kembali di bulan April, karena musim panasnya terjadi pada waktu yang berbeda. Oiya, penentuan hari pe-maju-mundur-an waktu ini juga tidak sama di setiap negara, tapi kebanyakan berkisar pada bulan April dan Oktober 😉

Dengan siang hari yang berlangsung lebih lama, diharapkan masyarakat dapat menghemat penggunaan energi karena aktivitas pada waktu yang menurut jam bisa jadi sudah malam (misal jam 20.00) masih terang benderang karena matahari baru terbenam setelahnya (misal jam 21.00). Karena itu disebut Daylight Saving Time. Selain itu diharapkan juga kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada jam-jam yang seharusnya sudah gelap dapat dikurangi dengan kondisi masih terang karena siang yang diperpanjang.

Tentu saja, terdapat efek samping dari pelaksanaan DST ini yang terkait dengan perbedaan waktu antarnegara. Bahkan sebelum diterapkan DSTpun sudah terdapat beberapa permasalahan dalam pembagian zona waktu di bumi. Bumi ini terbagi menjadi 360 derajat yang diwakili oleh garis-garis meridian (bujur), 180 membujur ke barat (BB) dan 180 membujur ke timur (BT). Normalnya setiap 15 derajat terdapat perbedaan waktu 1 jam. Tetapi demi kepentingan ekonomi ada banyak negara yang memaksakan pembagian zona waktunya melangkahi dari “aturan 15 derajat = 1 jam” :P. Bahkan RRC yang wilayahnya terdiri dari beberapa zona waktu, menyeragamkan waktu di seluruh wilayahnya dengan alasan memudahkan pemerintahan yang seragam dan memudahkan aktivitas ekonomi. Indonesia sendiri membagi wilayahnya menjadi 3 zona waktu, yaitu WIB, WITA, dan WIT.

Kembali ke masalah DST dan pembagian zona waktu antarnegara. Karena Indonesia bagian barat (WIB) yang terletak pada sekitar 95-105-an derajat BT dari meridian utama (0 derajat) maka normalnya WIB memiliki perbedaan waktu 7 jam dengan meridian utama (GMT). Nah, dengan dimajukannya waktu 1 jam pada summer time ini maka perbedaan waktu antara GMT dengan WIB menjadi 6 jam. Perbedaan ini hanya berlaku selama summer time dilaksanakan, yakni pada bulan April-Oktober. Hal ini terutama sering membingungkan penonton siaran langsung sepakbola di Indonesia, karena misalnya kickoff di Inggris pukul 14.00, tapi di jadwal lokal tertulis pukul 20.00 WIB. Tentu saja, dengan memahami pelaksanaan DST/summer time kita menjadi paham mengapa bisa terjadi demikian.

Hal tersebut bisa juga terjadi pasca pengembalian waktu mundur 1 jam pada bulan Oktober. Seperti pada pertandingan hari Minggu, 25 Oktober 2009 antara Liverpool v.s. Man. United, kickoff waktu Inggris adalah pukul 14.00 CET (Central European Time) tetapi di jadwal lokal (WIB) pukul 21.00 WIB. Itu normal. Tetapi ada saja penonton yang terbiasa menggunakan konversi waktu GMT + 6 untuk WIB karena sebelumnya terbiasa dengan konversi summer time tidak menyadari kalau mulai hari itu (25 Oktober 2009) konversi waktu kembali ke GMT + 7 ^^

Well, apapun konversinya, mau summer time ditambah jadi 2 jam atau 3 jam, pertandingan pada tanggal 25 Oktober 2009 itu dimenangkan Liverpool dengan skor 2-0, intinya itu 😎

kalo mau lebih memahami, bisa baca pengalaman blogger ini dan ini yang sudah pernah mengalami tinggal di negara penganut summer time, atau bac-baca di sini 😉

Tamu Tak Diundang

Saya baru saja menjadi tamu tak diundang :mrgreen:

Jadi begini, saya barusan kondangan ke acara pernikahannya salah seorang senior saya. Nah, sebenernya saya ngga kenal-kenal amat ama mbak senior itu, diundang pun tidak :P. Malah saya tebak dia juga lupa sama saya. Itu senior hubungannya sama saya mungkin hanya pernah jadi asisten praktikum saya dulu pas semester 3 :mrgreen:. Tapi berhubung saya diajak oleh teman-teman saya, yang lebih kenal akrab dengan mbak senior itu, ya sudah saya dateng saja, lagipula jarang-jarang saya dateng ke acara mantenan :mrgreen:

Nah, acaranya itu dimulai jam 12, dan saya janjian sama teman-teman saya untuk ketemu di pom bensin dekat gedung acara jam setengah 12. Tapi jam 12 kurang saya malah masih di pinggir jalan menunggu pulsa tronik masuk hape :P. Karena kelamaan menunggu, bahkan sampai ditelpon oleh teman saya, akhirnya oleh si mbak penjaga konter dikasih nota saja kalau-kalau transaksi gagal, dan sayapun segera pergi. Untung aja mbaknya manis, jadi rada betah juga nunggunya 😈

Ketika bertemu teman-teman, saya baru menyadari keanehan kostum saya, SAYA PAKE SENDAL!! Meskipun itu bukan sendal jepit, tetap saja berasa ga enak karena teman-teman saya bersepatu kulit semua. Karena terlanjur, sayapun cuek saja, toh atasannya pake batik meskipun bawahan pake jins :mrgreen:. Ketika masuk ke gedung acara, saya juga menyadari lagi keanehan lainnya, SAYA GA BAWA ANGPAO!! Itu baru saya sadari ketika selese menulis buku tamu teman di depan saya memasukkan amplop ke dalam guci di meja penerima tamu. Akhirnya ya sudah saya cuek saja nulis di buku tamu, salah tingkah di depan guci angpao, dan nyelonong pergi ngikutin teman saya untuk menyalami mempelai :lol:. Entah apa yg dipikirkan si mbak penerima tamu pas liat saya langsung nyelonong masuk, dikira mahasiswa kelaparan cari makan gratis kali 😆

Nah, sepertinya dugaan saya benar, mbak senior saya itu emang ngga kenal2 amat dengan saya, mukanya tampak bingung ketika bersalaman dengan saya, tapi tampak maklum ketika melihat teman saya yang lain :mrgreen: hehe.

Setelah bersalaman, teman2 dan saya menuju meja prasmanan yang tersebar di 2 sisi ruangan :mrgreen: Karena merasa tidak diundang dan tidak ngasih angpao, saya berencana untuk tahu diri dengan tidak makan banyak-banyak dan hanya ngemil dikit saja. Setelah ngemil sate dan siomay dan es krim (eh itu banyak ya? :lol:), saya berencana berhenti meskipun masih lapar. Tau diri larr, udah ga diundang, ga kasih angpao pula :roll:. Tapi beberapa saat kemudian teman-teman saya ngajakin ambil makan besar, dan spontan iman saya tergoda, dan akhirnya terambilah sepiring nasi beserta beberapa lauknya :lol:. Sebenernya setelah makan saya sedikit tergoda untuk mengambil es krim lagi, tapi saya urungkan, kali ini bener-bener tau diri 😎 (padahal sih kekenyangan :lol:)

Akhirnya kami log out juga dari situ, beberapa saat setelah makan, dan kembali ke kediaman masing-masing. Moral of teh stori : kalo kondangan yg rapi dan bawa angpao, biar ga merasa bersalah pas makan jajanan maupun hidangannya :mrgreen:

Saya Benci Jalanan Pusat Kota di Malam Minggu = =’

Saya baru saja beli tiket KA jurusan Jogja-Jakarta dan sebaliknya untuk beberapa hari ke depan, karena ada sedikit urusan di Jakarta :mrgreen:. Saya berangkat menggunakan sepeda motor sekitar pukul 18.40, dan mampir sebentar di warung padang untuk mengisi perut. Setelah kenyang, saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tugu di dekat Malioboro untuk reservasi tiket. Nah, di Jalan Pangeran Mangkubumi jalanan mulai padat, meskipun itu jalan satu arah. Rupanya selain malam Minggu, di Malioboro sedang ada acara Jogja Carnival sebagai puncak acara ulang tahun kota Yogyakarta. Banyak orang yang menuju Malioboro untuk menyaksikan acara itu, dan kalo jalur utara mau tidak mau ya melewati Jl. P. Mangkubumi itu yang melewati Stasiun Tugu. Dengan sedikit susah payah saya berhasil masuk ke Stasiun Tugu.

Ternyata parkiran di tempat parkir resmi sudah penuh, dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menonton Jogja Carnival dan memarkir motornya di Stasiun Tugu. Saya jadi bersungut-sungut sendiri, ini yg bener-bener dateng ke stasiun buat beli tiket kereta malah ga kebagian parkiran = =’. Tapi akhirnya dapet juga sih parkiran rada ilegal di jalan masuk menuju bangunan stasiun :P. Di dalam stasiun, saya langsung menuju ke loket pembelian. Setelah mengantri di belakang 2 orang bule, saya tanya ke mbak petugasnya tentang tiket ke Jakarta untuk 2 hari ke depan. Ternyata di situ tidak bisa melakukan pemesanan, jadi harus ke bagian reservasi yang untuk menuju ke sana harus masuk (bayar peron) dan nyeberang rel di bangunan seberang. Kebetulan antrian di belakang saya adalah seorang mas-mas yg juga mencari tiket ke Jakarta. Rupanya dia baru tiba dari Solo, sehingga ketika masuk stasiun tidak jadi ditagih uang peron. Karena saya nginthil di belakangnya, saya dikira teman si mas-mas itu jadi tidak ditagih uang peron juga 😆

Nah, akhirnya saya memesan tiket pulang pergi Jogja-Jakarta dan Jakarta-Jogja seharga *euwh, rada mahal* 220rb. Ketika keluar peron, sebagai warga negara yang baik, saya menyempatkan membayar 1500 untuk biaya peron ke mbak-mbak petugas jaga pintu peron-nya 😎  dengan sedikit kekuatiran sebenernya kalo-kalo nanti perjalanannya jadi ga afdol :mrgreen:

Keluar dari stasiun, jalanan sudah macet dan berjalan merayap perlahan = =’. Sebagai pengendara sepeda motor, saya harus berkali-kali mengalah dengan pemakai jalan lainnya. Rupanya akses menuju Malioboro menggunakan kendaraan ditutup. Di Jl. Abu Bakar Ali saya sempat dipepet dan didului sebuah motor. Sebenernya saya ngga masalah didahului, apalagi dalam kondisi padat merayap seperti itu, tetapi yang menjadi masalah adalah itu motor motor pitung alias pitungpuluhan yang asap knalpotnya menyaingi fogging nyamuk = =’. Euwh, setelah sukses di-fogging motor pitung, saya kembali dipepet oleh bus Trans-Jogja, lagi-lagi saya mengalah dan mundur sejenak mengambil posisi di belakang si busway ijo itu. Ngga lama kembali saya dipepet lagi, kali ini oleh taksi = =’. Dan kembali saya mengalah memposisikan diri di belakang taksi. Tapi ada hikmahnya saya memposisikan di belakang taksi, terbebas sejenak dari fogging si motor pitung :mrgreen:

sekitar tugu

sekitar tugu

Selepas Jl. Abu Bakar Ali di bunderan Kridosono, baru jalanan mulai rada lengang. Tapi ketika sampai di kawasan boulevard UGM mulai banyak mobil-mobil yang berseliweran. Dan saya sempat curiga bakal macet lagi mengingat di GSP sedang ada konser orkestra World Peace Concert :|. Ternyata biasa saja, tidak macet dan lancar-lancar saja dilewatinnya, dan saya pun segera melenggang ke kediaman saya di dekat ringroad :mrgreen:

Perjalanan ini menyiksa sebenernya, karena badan saya sedang agak kurang sehat sisa masuk angin hari sebelumnya, dan kebetulan di siang harinya saya langsung makan es buah 😛 dan es kopi (ditraktir sih :P). Angin malam memang tidak bagus untuk orang-orang yang sedang meriang 😎

Dengan alasan meriang pula saya ga ikutan nonbar Sunderland vs Liverpool bareng anak-anak BR Jogja 😐 (dan berakhir kalah pula = =’)

*menjadi orang pintar dengan minum wind reject*

(ninja)

CS applied at schooldays ;p

CS

CS

acknowledgement to olenk’s facebook 😆