Han Xin dan Tim-Tim Semenjana

Belakangan ini saya sedang menonton drama seri Mandarin di Netflix yang berjudul King’s War, berlatar akhir Dinasti Qin dan perseteruan Liu Bang dan Xiang Yu di awal mula pembentukan Dinasti Han. Nah, di sekitaran episode 60-an akhir atau 70-an awal ada menceritakan Pertempuran Jingxing antara pasukan Kerajaan Han di bawah pimpinan Han Xin dan pasukan Kerajaan Zhao yang dipimpin Chen Yu. Mengenai pertempurannya sendiri saya pernah bikin postingan soal ini, menceritakan kehebatan Han Xin mengatasi pasukan Zhao yang jumlahnya jauh lebih banyak. Pasukan Han bertempur dengan mode bertahan habis-habisan memunggungi sungai, sambil sesekali menyerang balik (tak lupa menyiapkan sebagian kecil pasukan untuk memasang bendera Han di kamp Zhou).

Pola demikian cukup bikin frustrasi lawannya, apalagi lawan yang di atas kertas lebih unggul baik dari segi jumlah maupun pengalaman. Sialnya, saya sering melihat pola demikian di pertandingan-pertandingan Liverpool kalau melawan tim-tim yang di atas kertas seharusnya bisa diatasi sepanjang musim ini, terutama pada paruh musim kedua. Ambil contoh ketika seri melawan Newcastle Sabtu 24 April 2021 kemarin, meskipun kebobolan gol cepat Mo Salah di menit ke-3, Newcastle bisa mempertahankan skor tetap 1-0 sampai turun minum. Oleh komentator dibilang bahwa Steve Bruce (pelatih Newcastle) adalah orang yang bahagia dengan hasil di babak pertama tersebut karena berhasil bertahan tidak sampai kebobolan lebih banyak. Nah di babak kedua Liverpool masih tidak bisa menuntaskan banyak peluangnya menjadi gol, sehingga situasi justru semakin lama semakin merugikan bagi Liverpool. Newcastle secara sporadis menyerang balik dan di penghujung laga bisa menyamakan kedudukan (bahkan bisa menang kalau VAR tidak berulah) sehingga skor akhir 1-1.

Situasi pertandingan demikian juga terlihat ketika Liverpool melawan Leeds United di pekan sebelumnya, juga ketika melawan Burnley di beberapa pekan sebelumnya lagi. Malah pas lawan Burnley komentator (kalau ngga salah Jim Beglin) bilang kalau Burnley tinggal bertahan aja asal jangan sampai kebobolan di babak pertama, moral tetap terjaga sehingga di babak kedua cepat atau lambat bisa melancarkan serangan balik mematikan. Ditambah dengan mandulnya pemain-pemain Liverpool di depan gawang, situasi semakin menguntungkan Burnley. Ketika akhirnya Burnley dikasih pinalti tentu saja tidak disia-siakan untuk akhirnya menang 0-1 di Anfield.

Ketidakmampuan mengkonversi peluang menjadi gol berbuah fatal bagi Liverpool, seperti halnya ketidakmampuan Chen Yu dari Zhao untuk mengeksploitasi kelemahan pasukan Han Xin (kalah jumlah pasukan, kebanyakan prajurit masih baru, perbekalan tinggal sedikit). Alih-alih bertahan menunggu pasukan Han Xin kehabisan perbekalan, Chen Yu malah “bermain” agresif dengan menyerang pasukan Han dengan membabi-buta. Sebelas-dua belas dengan Liverpool, unggul kualitas pemain tetapi tidak mampu memaksimalkan peluang yang tercipta, dengan kondisi lini belakang belum solid-solid amat ya terima nasib saja kalau sering dikadalin tim-tim semenjana. Bisa dibilang taktik Han Xin ini cukup ampuh diterapkan tim-tim kecil ketika melawan tim-tim besar (yang keasyikan menyerang).

OK, cukup sekian rutukan saya karena kembali nonton Liverpool yang bikin deg-degan setelah cukup dimanja dengan “garansi” menang di musim sebelumnya ๐Ÿ˜›

Engkong-engkong di bandara

Di jam-jam terakhir tahun 2017, saya mendadak pengen posting sesuatu, hitung-hitung buat mengisi satu-satunya postingan di tahun 2017 ๐Ÿ˜†

Jadi bulan November kemarin, saya berkesempatan untuk berkunjung ke China. Bukan, saya bukan mau cerita soal gimana perjalanan saya selama di China. Saya pengen cerita pas perjalanan pulangnya saja. Saya pulang dari Nanning, di Provinsi Guangxi, provinsi paling selatan di China. Pesawatnya delay lumayan lama, sampai 6 jam. Nah, di bandara tersebut saya ketemu dengan engkong-engkong berusia sekitar 60-an tahun. Awalnya beliau hanya memandang saya yang ngobrol dengan teman saya (dalam bahasa Indonesia), kemudian ketika saya duduk di sebelahnya beliau menyapa saya dalam bahasa Mandarin. Tentu saja langsung saya jawab kalau saya tidak bisa bahasa Mandarin dalam bahasa Inggris. Eh beliaunya langsung ngajak saya ngobrol dalam bahasa Indonesia :lol:.

Si engkong ini adalah pensiunan pegawai provinsi Guangxi, meskipun dia tidak bilang apakah pegawai negeri atau bukan. Dia bercerita kalau dia dulu lahir di Malaysia, dan tumbuh besar di situ sampai umur 18 tahun. Kemudian dia sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja selama beberapa tahun. Lalu di umur 20-an dia pergi ke China untuk bekerja di sana, dan akhirnya menjadi warga negara China. Macam-macam hal dia ceritakan, mulai dari sejarah hidupnya (yang sudah saya tuliskan di awal paragraf ini), apa pekerjaannya, apa kegiatannya setelah pensiun, bagaimana pemerintah China memperlakukannya, bagaimana pembangunan di China yang begitu ambisius, dan tak lupa nasihat khas orang tua terhadap anak muda matjam saya :lol:.

Dalam pekerjaannya dulu dia sering bertemu dengan orang Indonesia. Menurut dia banyak orang Indonesia (biasanya pengusaha atau mahasiswa) yang datang ke Guangxi, dan biasanya dia diminta oleh pemerintah Guangxi sebagai penterjemah. Dia menunjukkan beberapa nama orang Indonesia di buku catatannya untuk meyakinkan saya. Setelah pensiun, dia lebih banyak pelesir dan bersilaturahmi dengan saudara-saudaranya (dia masih punya banyak saudara di Malaysia dan Indonesia) untuk mengisi hari tuanya. Dia bilang dia ke Indonesia untuk mengunjungi saudaranya di Jakarta, Sumbawa, dan Timor-Leste. Menurutnya pemerintah China sangat generousย terhadap para pensiunan pegawainya. Pelesiran dia kali ini menurut dia dibiayai dari dana pensiunnya.

Mengenai pembangunan di China, menurut dia pemerintah China benar-benar menggenjot pembangunan infrastruktur. Penduduk-penduduk yang tinggal di lokasi proyek direlokasi ke gedung apartemen, sehingga lahan yang ditinggalkan bebas dibangun atau dikerjakan sesuatu oleh pemerintah. Saya iseng bertanya apakah penduduk tersebut pindah dengan sukarela? Kata dia, “Ya yang meminta pindah dan membeli lahannya memang perusahaan, tetapi di belakangnya ada pemerintah jadi ya warga menurut-menurut saja. Lagipula pembayarannya pantas, kok.” Saya cuma nyengir saja :P.

Saya jadi teringat salah satu mahasiswa di Wuhan yang menjadi panitia selama kegiatan saya di China. Dia tinggal di Wuhan dari lahir, dan menurut dia kota tersebut berubah sangat banyak dalam 5 tahun terakhir. Ketika kecil keluarganya tinggal di rumah di pinggiran sungai Yangtze, kemudian ketika dia berusia sekitar 6 tahun mereka pindah ke gedung apartemen yang disediakan oleh pemerintah, dan tinggal di situ sampai sekarang.

Nah, soal wejangan khas orang tua, dia mencontohkan dirinya sendiri yang masih tampak sehat dan masih lincah di usia mendekati 70. Nasihatnya mirip-mirip wejangan yang familiar di sini: jangan minum (alkohol), jangan berjudi, dan jangan main perempuan. Menurutnya itu rahasia sehat sampai tua. Saya manggut-manggut saja.

Akhirnya kamipun naik pesawat ketika tiba waktunya, dan kami berpisah ketika pesawat mendarat di Jakarta keesokan harinya.

Demikian postingan satu-satunya di tahun 2017 ini, selamat datang 2018 :mrgreen:

Useless

I was in the supermarket this afternoon, for weekly grocery shopping.

I was looking at some breads and croissants, when suddenly a boy-with 5 euro bills on his hand-approached me and called me.

“Meneer!”

“Ja?”

“Ik adaldh klalfhalhfl  lkfhalhflahf alskfhalfhal lafsdfowe? (speaking in Dutch)”

Here’s the thing, I think he asked about the price of the breads, or maybe he asked me to pick some breads for him since he’s still too short to pick by himself. But I didn’t know how to answer, well, to be fair I didn’t really understand what he said ๐Ÿ˜ .

My respond was just shrugging and said, “I don’t know…”

adam-lallana-liverpool-1

Gosh, I feel so useless, even I can’t explain simple thing like that to kid -_-. Luckily there were two ladies who want to buy breads as well. So the boy turned to those ladies as I didn’t give him expected respond.

Well, I realised that being foreigner here in Netherlands, I rarely have a chance to speak Dutch, except basic cashier-chat in the shop or supermarket. Even them (the cashiers), just like most people here, switch to English when they see doubt or nervousness in my face. I guess that’s OK for teenagers or adults, but that doesn’t work with kids. I recall that when I played badminton with my friends, suddenly three kids came in and playing around with unused rackets and shuttlecocks.

I wanted to explain them how to play it, but I didn’t know how to tell them ^^. In the end I just gave them example and tried my best to explain in silly-sounded-Dutch-mixed English ^^.

So, I think it’s better to learn local language if you live in a place whose language unfamiliar to you, even if they can communicate with you in another common language. To be fair, I know that’s quite obvious. I write that just because I want to put something here for closing this post. ๐Ÿ˜›