Playlist of The Day

Dame! – Izumi You

Alive – Raico

Quite representative with today’s mood :|

Quentyn Martell, Semacam Eddard Stark-nya Dorne

Sekitar seminggu yang lalu saya selesai membaca A Dance With Dragons, buku kelima dari seri A Song Of Ice And Fire karya George R.R. Martin. Di buku kelima ini, ada POV karakter yang bernama Quentyn Martell. Quentyn adalah anak kedua dari Doran Martell, penguasa Dorne. Di serial tv-nya Quentyn tidak dimunculkan, di season 5 ini malah Trystane Martell (adiknya Quentyn) yang banyak nongol.

Disclaimer: selanjutnya akan penuh dengan spoiler dari buku kelima! Continue reading ‘Quentyn Martell, Semacam Eddard Stark-nya Dorne’

Seandainya Bangsa Eropa Tidak Datang ke Nusantara

Preambule:

Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah diklat, dan tulisan di bawah ini adalah salah satu tugas diklat tersebut. Iseng-iseng saya posting aja di blog ini, biar ada postingan :mrgreen:

————–

Indonesia menganut azas uti possidetis juris, prinsip di mana suatu negara yang baru merdeka mewarisi wilayah bekas penjajahnya. Indonesia adalah bekas wilayah jajahan Belanda. Wilayah Indonesia saat ini merupakan bekas wilayah Hindia Belanda. Belanda pernah menyepakati traktat perjanjian (treaty) dengan Inggris di Pulau Kalimantan dan Papua dan dengan Portugis di Pulau Timor terkait pembagian wilayah jajahannya. Itulah mengapa Indonesia memiliki batas darat dengan negara lain, yaitu Malaysia di Pulau Kalimantan, Papua Nugini di Pulau Papua, dan Timor-Leste di Pulau Timor (meskipun yang disebut terakhir sepertinya agak sensitif di mata beberapa kalangan).

Apa yang kira-kira terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke Nusantara? Bangsa Eropa pertama yang datang ke nusantara adalah Portugis. Pada tahun 1511 Portugis bahkan berhasil menguasai Malaka, yang pengaruhnya terbentang dari Semenanjung Malaya ke sebagian Pulau Sumatera. Mari kita asumsikan tahun 1511, atau sekitar awal abad XVI, sebagai titik awal perandaian kita.

Bagaimana kondisi geopolitik di nusantara pada sekitar tahun 1511? Di Pulau Jawa terdapat beberapa kerajaan, baik lama maupun baru. Di bagian timur, Kerajaan Majapahit sudah berada di ujung keruntuhannya. Agak ke barat Kerajaan Demak sedang bersiap memberi pukulan penghabisan kepada Majapahit. Lebih ke barat lagi terdapat Kesultanan Cirebon yang baru melepaskan diri dari Kerajaan Sunda.

Di Pulau Sumatera, Kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh bersaing berebut pengaruh di bagian utara. Di bagian tengah terdapat Kerajaan Pagaruyung (Minangkabau) dan Kerajaan Palembang. Sebagian besar wilayah di bagian tengah Sumatera berada di bawah pengaruh Kesultanan Malaka. Sedangkan di bagian selatan berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda.

Di Pulau Kalimantan, Kerajaan Brunei menguasai bagian utara pulau tersebut. Pengaruh Brunei saat itu juga mencapai pesisir Kalimantan dan sebagian Filipina. Selain Brunei, terdapat Kerajaan Kutai Kertanegara dan beberapa kerajaan Melayu lainnya. Suku Dayak yang bermukim di bagian pedalaman pulau relatif tidak terlalu tersentuh oleh pengaruh kerajaan-kerajaan di pesisir pantai Kalimantan.

Di bagian timur nusantara relatif sedikit memiliki catatan sejarah sebelum abad keenambelas. Kerajaan Gowa masih baru tumbuh di Sulawesi bagian selatan. Di sebelah timurnya Kesultanan Ternate sudah memiliki pengaruh sampai ke bagian timur Sulawesi dan bagian barat Papua.

Dengan gambaran geopolitik yang demikian, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke nusantara. Pertama, kerajaan-kerajaan tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kekayaan alamnya masing-masing. Kerajaan dengan sumberdaya alam miskin akan runtuh dengan sendirinya dan mungkin “bergabung” dengan kerajaan di sekitarnya yang lebih kaya. Kerajaan kaya akan tumbuh menjadi kekuatan besar dan menarik kerajaan-kerajaan di sekitarnya untuk tunduk dalam sistem upeti (tributary vassal) atau melebur ke wilayahnya. Hasilnya adalah akan ada banyak sekali negara di nusantara, dengan kekuatan maupun ukuran yang bervariasi.

Kedua, kerajaan dengan sumberdaya tinggi akan menguasai kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Politik penaklukan cukup lazim dilakukan di zaman itu. Kerajaan-kerajaan kecil akan tersapu dengan sendirinya. Ketika kondisi sudah mencapai status quo di mana kerajaan-kerajaan yang tersisa memiliki kekuatan relatif seimbang, kemungkinan akan terjadi aliansi antarkerajaan. Aliansi ini bisa didasarkan pada kesamaan bahasa, budaya, ataupun agama. Hasilnya di nusantara akan terdapat beberapa negara yang cukup besar, setidaknya seukuran lima sampai sepuluh provinsi.

Ketiga, kelanjutan ekstrim dari skenario kedua. Kerajaan dengan kekuatan paling tinggi akan berusaha menaklukan seluruh nusantara. Dalam usaha penaklukannya bisa saja keraajan tersebut menggandeng kerajaan lain dalam suatu aliansi. Setelah seluruh nusantara disatukan barulah kue kekuasaan dibagi di antara dua (atau lebih) kerajaan tersebut. Hasilnya akan ada satu negara besar di nusantara ini.

Dari ketiga skenario tersebut, manakah yang menurut Anda paling mungkin terjadi?



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.