Senbonzakura

Belakangan ini saya sedang suka mendengarkan Senbonzakura, lagu orisinil Vocaloid yang aslinya dinyanyikan suara Hatsune Miku. Entah kenapa akhir-akhir ini suka nyetel lagu ini lagi, mungkin karena sudah bulan Maret (masuk musim semi) meskipun di sini ngga ada sakurašŸ˜›.

Ada banyak versi cover dari Senbonzakura ini, cuma yang saya suka tonton/dengerin ada empatĀ versi, duaĀ dengan vokal dan dua lainnya hanya instrumen.

1. Lindsey Stirling (biola)

link yutub

Pertama kali saya denger Senbonzakura dari mbak Lindsey ini, sekitar setahun yang lalu. Saya emang ngikutin channel-nya Lindsey sih, sejak nemu video cover Skyrim-nya dia dan Peter Hollens beberapa tahun lalu waktu masih asyik main SkyrimšŸ˜›.

2. Hatsune Miku (vokal orisinil)

link yutub

Versi vokal asli, saya suka liat video ini sambil menikmati “keimutan” suara Hatsune MikušŸ˜›

3. Wagaki Band (vokal band -sepertinya- indieĀ Jepang)

link yutub

Versi fusion instrumen musik klasik Jepang dan band rock disertai vokalĀ yang agak “mengklasik”. Sepertinya sih band ini memang alirannya fusion instrumen klasik-rock atau semacam itu. Suara mbak-nya mendayu-dayu mencoba “meng-kuno” gimana gitu.

4. Ga tau namanya, berdasar komentar yutub kemungkinan namanya Muoyun (Chinese ghuzheng)

link yutub

Versi favorit saya, datang dengarĀ musik, pulang liat kucingšŸ˜€

 

Playlist of The Day

Dame! –Ā Izumi You

Alive –Ā Raico

Quite representative with today’s moodšŸ˜

Quentyn Martell, Semacam Eddard Stark-nya Dorne

Sekitar seminggu yang lalu saya selesai membaca A Dance With Dragons, buku kelima dari seri A Song Of Ice And Fire karya George R.R. Martin. Di buku kelima ini, ada POV karakter yang bernama Quentyn Martell. Quentyn adalah anak kedua dari Doran Martell, penguasa Dorne. Di serial tv-nya Quentyn tidak dimunculkan, di season 5 ini malah Trystane Martell (adiknya Quentyn) yang banyak nongol.

Disclaimer: selanjutnya akan penuh dengan spoiler dari buku kelima! Continue reading ‘Quentyn Martell, Semacam Eddard Stark-nya Dorne’

Seandainya Bangsa Eropa Tidak Datang ke Nusantara

Preambule:

Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah diklat, dan tulisan di bawah ini adalah salah satu tugas diklat tersebut. Iseng-iseng saya posting aja di blog ini, biar ada postingan:mrgreen:

————–

Indonesia menganut azas uti possidetis juris, prinsip di mana suatu negara yang baru merdeka mewarisi wilayah bekas penjajahnya. Indonesia adalah bekas wilayah jajahan Belanda. Wilayah Indonesia saat ini merupakan bekas wilayah Hindia Belanda. Belanda pernah menyepakati traktat perjanjian (treaty) dengan Inggris di Pulau Kalimantan dan Papua dan dengan Portugis di Pulau Timor terkait pembagian wilayah jajahannya. Itulah mengapa Indonesia memiliki batas darat dengan negara lain, yaitu Malaysia di Pulau Kalimantan, Papua Nugini di Pulau Papua, dan Timor-Leste di Pulau Timor (meskipun yang disebut terakhir sepertinya agak sensitif di mata beberapa kalangan).

Apa yang kira-kira terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke Nusantara? Bangsa Eropa pertama yang datang ke nusantara adalah Portugis. Pada tahun 1511 Portugis bahkan berhasil menguasai Malaka, yang pengaruhnya terbentang dari Semenanjung Malaya ke sebagian Pulau Sumatera. Mari kita asumsikan tahun 1511, atau sekitar awal abad XVI, sebagai titik awal perandaian kita.

Bagaimana kondisi geopolitik di nusantara pada sekitar tahun 1511? Di Pulau Jawa terdapat beberapa kerajaan, baik lama maupun baru. Di bagian timur, Kerajaan Majapahit sudah berada di ujung keruntuhannya. Agak ke barat Kerajaan Demak sedang bersiap memberi pukulan penghabisan kepada Majapahit. Lebih ke barat lagi terdapat Kesultanan Cirebon yang baru melepaskan diri dari Kerajaan Sunda.

Di Pulau Sumatera, Kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh bersaing berebut pengaruh di bagian utara. Di bagian tengah terdapat Kerajaan Pagaruyung (Minangkabau) dan Kerajaan Palembang. Sebagian besar wilayah di bagian tengah Sumatera berada di bawah pengaruh Kesultanan Malaka. Sedangkan di bagian selatan berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda.

Di Pulau Kalimantan, Kerajaan Brunei menguasai bagian utara pulau tersebut. Pengaruh Brunei saat itu juga mencapai pesisir Kalimantan dan sebagian Filipina. Selain Brunei, terdapat Kerajaan Kutai Kertanegara dan beberapa kerajaan Melayu lainnya. Suku Dayak yang bermukim di bagian pedalaman pulau relatif tidak terlalu tersentuh oleh pengaruh kerajaan-kerajaan di pesisir pantai Kalimantan.

Di bagian timur nusantara relatif sedikit memiliki catatan sejarah sebelum abad keenambelas. Kerajaan Gowa masih baru tumbuh di Sulawesi bagian selatan. Di sebelah timurnya Kesultanan Ternate sudah memiliki pengaruh sampai ke bagian timur Sulawesi dan bagian barat Papua.

Dengan gambaran geopolitik yang demikian, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke nusantara. Pertama, kerajaan-kerajaan tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kekayaan alamnya masing-masing. Kerajaan dengan sumberdaya alam miskin akan runtuh dengan sendirinya dan mungkin ā€œbergabungā€ dengan kerajaan di sekitarnya yang lebih kaya. Kerajaan kaya akan tumbuh menjadi kekuatan besar dan menarik kerajaan-kerajaan di sekitarnya untuk tunduk dalam sistem upeti (tributary vassal) atau melebur ke wilayahnya. Hasilnya adalah akan ada banyak sekali negara di nusantara, dengan kekuatan maupun ukuran yang bervariasi.

Kedua, kerajaan dengan sumberdaya tinggi akan menguasai kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Politik penaklukan cukup lazim dilakukan di zaman itu. Kerajaan-kerajaan kecil akan tersapu dengan sendirinya. Ketika kondisi sudah mencapai status quo di mana kerajaan-kerajaan yang tersisa memiliki kekuatan relatif seimbang, kemungkinan akan terjadi aliansi antarkerajaan. Aliansi ini bisa didasarkan pada kesamaan bahasa, budaya, ataupun agama. Hasilnya di nusantara akan terdapat beberapa negara yang cukup besar, setidaknya seukuran lima sampai sepuluh provinsi.

Ketiga, kelanjutan ekstrim dari skenario kedua. Kerajaan dengan kekuatan paling tinggi akan berusaha menaklukan seluruh nusantara. Dalam usaha penaklukannya bisa saja keraajan tersebut menggandeng kerajaan lain dalam suatu aliansi. Setelah seluruh nusantara disatukan barulah kue kekuasaan dibagi di antara dua (atau lebih) kerajaan tersebut. Hasilnya akan ada satu negara besar di nusantara ini.

Dari ketiga skenario tersebut, manakah yang menurut Anda paling mungkin terjadi?

Wie Ben Jij?

Belakangan ini saya sedang iseng belajar Bahasa Belanda. Tentu saja di setiap bahasa ada bagian perkenalan. Nah, untuk memudahkan belajar perkenalan dalam bahasa Belanda, ada satu lagu yang menurut saya lumayan ear catchingĀ untuk didengarkan. Judulnya “Wie Ben Jij”, kurang lebih artinya “what about you?”. Selain ear catching, liriknya juga ada yang menyebut-nyebut nama saya, jadinya ya iseng-iseng saya bikin postingannya ajašŸ˜›

Berikut lagunya, barangkali ada yang mau ikut berdendangšŸ˜›


Continue reading ‘Wie Ben Jij?’

Ser Cleos di APTB

Beberapa hari terakhir ini saya enjadi penumpang bus APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus transjakarta). Dan sebulan terakhir ini saya juga sedang maraton membaca seri A Song of Ice and Fire. Sampai saat ini sudah sampai beberapa bab awal buku kelima A Dance with Dragon.

Apa hubungannya APTB dengan ASoIaF?

Di buku kedua (A Clash of Kings) dan ketiga (A Storm of Swords), ada karakter yang bernama Cleos Frey. Cleos Frey adalah anak dari Emmon Frey dan Gemma Lannister. Ketika Walder Frey Lord of the Crossing memihak pada Robb Stark di awal-awal perang, Emmon Frey (dan otomatis anaknya Ser Cleos) memilih berpihak pada Lannister. Ser Cleos ditawan oleh pihak Stark di suatu pertempuran, dan oleh Lady Catelyn Stark kemudian diutus sebagai pembawa pesan negoisasi antara pihak Stark di Riverrun dan pihak Lannister di King’s Landing. Cleos Frey akhirnya tewas ketika dia beserta Brienne of Tarth dan Jaime Lannister disergap segerombolan penyamun dalam perjalanan mengantar Jaime dan syarat negoisasi terbaru dari Lady Catelyn ke King’s Landing.

Nah, di bus APTB ini saya sudah dua kali melihat mas-mas penumpang ini, yang entah kenapa mirip sekali dengan gambaran daya tentang Cleos Frey 😁😄:mrgreen:. Rambutnya mulai memudar, mukanya mirip berang-berang, hampir selalu tersenyum. Senyumnya mengisyaratkan kecerdikan tapi tidak disertai dengan nyali. Saya lupa gambaran Cleos Frey di sinetron Game of Thrones seperti apa, atau apakah dia dimunculkan atau tidak. Saya juga yakin penilaian saya terhadap mas-mas di APTB itu belum tentu benar:mrgreen:. Pada akhirnya, mas-mas Cleos Frey itu turun di halte Kuningan Barat, sama dengan sayašŸ˜€. Mari lihat apakah besok saya satu bus lagi atau tidak dengan mas-mas Ser Cleos:mrgreen:

*postingan dibuat di APTB, dipost di toilet sebuah gedung di Kuningan :p*

Uji Coba

image

Tes masukkin gambar dari hape:)
Semoga bisa sering-sering posting lagi meskipun postingan ora mutu 😆



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.