Archive for June, 2009

Curiousity Brings a Genie ^^

Kisah ini diambil dari salah satu dongeng di Kisah 1001 Malam (Arabian Nights), saya comot langsung (dengan beberapa penyingkatan) dari buku One Thousand and One Arabian Nights karya Geraldine McCaughren terbitan Elex Media Komputindo 🙂 *banyak2 terima kasih buat mbak Lumi yg bersedia mencarikan dan mengirimkan buku tersebut 🙂 *. Judul asli kisah ini di buku tersebut adalah “Nelayan dan Sebuah Botol”.

Ada seorang nelayan yang cukup beriman meskipun dia lugu dan kurang berpendidikan. Suatu hari yang cerah dia pergi menjaring di tepi pantai.

“Oh Tuhan Sang Penguasa Langit yang membuat banyak ikan di laut, jalaku sudah sampai dasar. Akan mendapat apakah aku hari ini?” katanya.

Pada helaan pertama, tanpa sengaja jaringnya  mendapat seekor ikanpun menarik sebuah bangkai keledai. Diapun pindah ke tempat lain sambil memandang langit dan berkata,

“Oh Tuhan yang menciptakan ikan, keledai, dan nelayan, berkatilah kami agar tidak mendapat keledai lagi.” Lalu dia kembali menebar jalanya. Kali ini y diperolehnya adalah tembikar penuh lumpur.

“Oh Tuhan yang Maha Kuasa, aku bersyukur atas pemberian tembikar ini. Namun aku akan sangat bersyukur jika Engkau berkenan memberiku banyak  ikan.” Dan diapun menebar jalanya lagi, tapi malang, jalanya tersangkut batu karang dan sobek.

“Oh Tuhan, apakah ayah-ibuku pernah membuatmu murka sebelum aku lahir? Atau ini bagian dari leluconmu?” tanyanya sambil memandang langit.

Ketika dia menarik jalanya, ternyata ada sebuah benda padat yg ikut tersangkut. Setelah diamati, benda tersebut adalah sebuah botol tembaga berwarna kehijauan yang tutupnya tersegel rapat. Dia tidak mengetahui apapun tentang botol tersebut, karenanya langsung saja dia membuka segelnya.

“Kira-kira apa isinya ya, kok sampe disegel gini dan dibuang ke laut sagala?” gumamnya sambil mengocok botol tersebut. Seketika keluar  debu yg kemudian berubah menjadi asap tebal dan menjelma menjadi sesosok jin besar dan menyeramkan. Mukanya pucat, dengan hidung besar seperti termos air, mata kuning seperti sulfur, mulut sedalam jurang, janggut merah, dan bentuk kepala agak kotak.Lalu langit pun bergetar ketika si jin berbicara,

“Oh Sulaiman yang agung sang pengawal Tuhan, aku takkan pernah melupakanmu yang merasa paling benar – tapi kau bukan Sulaiman, kodok budut.”

Si nelayan cuma menggeleng kebingungan.

“Siapa yang membuka botol ini?” tanya sang jin.

“Saya, tuan”

“Bergembiralah! Aku membawa kabar baik untukmu, ajalmu, akan tiba hari ini juga!”

Si nelayan protes, “Mana bisa?! Apa salahku?”

“Sudahlah kodok buduk, silakan pilih kau mau mati dengan cara apa. Tapi sebelum kau putuskan akan mati dengan cara apa, biarlah kuceritakan sebuah kisah,” kata sang jin sambil menyentil burung yg kebetulan lewat di dekatnya.

“Aku adalah Jin Ifrit yg memberontak terhadap Sulaiman si putra Daud. Dia berhasil mengalahkan pasukanku, dan menurungku di dalam botol ini karena aku tidak mau bertobat kepada Tuhan. Dia kemudian menyegel botol ini dan membuangnya ke tengah lautan.”

“Tapi Raja Sulaiman telah wafat 2000 tahun yang lalu!” protes si nelayan.

“Seratus tahun pertama aku bersumpah untuk mengabulkan 3 permintaan apapun dari orang yg berhasil membebaskanku dari botol ini.”

“Tapi tak ada yang datang.”

“Dua ratus tahun berikutnya aku bersumpah untuk memberi dia dan keluarganya kemakmuran sepanjang masa.”

“Dan tidak ada yang datang.”

“Lima ratus tahun berikutnya aku bersumpah memberi dia kekuasaan di muka bumi ini.”

“Dan tetap tak ada yang datang.”

“Seribu tahun berikutnya aku bersumpah… dan bersumpah terus sampai kesabaranku habis dan amarahku memuncak. Akhirnya aku bersumpah siapapun yang membuka botol ini akan kubuat dia merasakan penderitaanku selama beribu-ribu tahun terkurung di botol ini. Akan kucincang dia sampai sekecil atom. Suer!!”

Si jin tampak puas dan menyeringai jahat, sementara si nelayan menatapnya dengan hidung beringsut sambil berkata,

“Ck.. ck.. ck.. Ayolah, kamu becanda kan? Masa kamu mengharapkanku percaya cerita begituan?”

Si jin menjadi belingsatan, “KUKUTUK KAU DAN KETURUNANMU MENJADI ANJING BERMUKA KODOK!” teriaknya murka. Tapi si nelayan cuma cengar cengir.

“Udahlah, jujur aja! Kamu dateng dari mana? Ngga mungkin larr orang segedhe gaban kaya’ kamu bisa muat di botol seuprit ini. Tadi memang aku mengocok botol itu, dan tau2 ada asap dan kamu nongol. Aku memang cuma nelayan, tapi pasti tadi kamu ngumpet di mana gitu terus nongol untuk mengejutkanku, kan ya?”

Si jin menjadi semakin murka, sementara si nelayan melanjutkan.

“Coba sekarang aku masuk ke botol ini, pasti tidak bisa.” Dan sang nelayan pun mencoba memasukkan kakinya ke ujung botol tersebut, yang tentu saja tidak bisa masuk. “Lihat, ngga bisa kan? Kalo tubuhku dipotong kecil-kecil baru bisa.”

“Tapi aku ini jin…” sergah si jin Ifrit kesal.

“Yah, aku tahu! Tapi aku pernah bertemu jin yang ukurannya separuh badanmu (si nelayan berkata dengan meyakinkan) dan dia juga bisa melakukan apa yg kau lakukan. Tapi masuk ke dalam botol ini selama 2000 tahun dan masih segar bugar? Nei.. nei… ga mungkin itu! Jangan membodohiku, tuan! Ayolah, jujur saja! Kau datang dari mana?”

Nampaknya jin Ifrit mulai benar2 kesal karena si nelayan tidak mempercayai ceritanya. “Kodok buduk sialan! Ngga tau ya kalo aku ini sang jin penebar maut untuk nelayan2 buduk macem kau? Nih perhatikan! Akan kutunjukkan kekuatanku! Pasti kau bakal terpana melihatnya!”

Tubuh sang jin pun mulai berubah menjadi asap beraneka warna dan dengan kecepatan tinggi masuk ke dalam botol tersebut. Dengan sigap si nelayan menutup botol tersebut dan memasang kembali segelnya. Sekarang sang jin kembali ke tempat di mana Raja Sulaiman mengurungnya 2000 tahun yang lalu.

“Huh, kembalilah ke asalmu, wahai jin pengambil nyawa para nelayan! Aku harus memberitahu rekan2ku tentang hal ini supaya mereka tidak celaka. Semoga Tuhan melindungi kami dari jin2 semacam engkau!”

Kemudian dia melemparkan kembali botol itu ke tengah laut, dan lepaslah ia dari bahaya karena kecerdikannya yang mucul di saat-saat genting sebagai buah dari keimanannya.

Jadi memang, rasa penasaran terkadang membunuh kucing :mrgreen:

Si nelayan yang terlalu penasaran nyaris celaka ketika membuka sebuah botol tanpa tahu isinya. Saya yakin banyak di antara kita yang pernah juga mengalami kejadian yg mirip2 (meskipun tidak selalu bertaruh nyawa) 🙂 . Ketika kita sudah dipenuhi oleh rasa penasaran akan sesuatu, sebaiknya kita selalu mempersiapkan dengan sesuatu yg lain untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu yg mengundang rasa penasaran kita itu 🙂

I Wish You Would’ve Smiled in The Bookstore

I wish you would’ve smiled in the bakery
or sat on tatty satty

That’s the first sentence of song’s lyric titled “The Bakery” by Arctic Monkeys. I’m not going to explain neither the song nor the band, just want to write about my little experience in the bookstore, instead of the bakery 😀

After sending anime DVD to my friend at the post office this afternoon, I went to bookstore to buy some comics that scheduled to be released this week. Aaaand… in the bookstore, I saw couple of cute and attractive girls around. It’s pretty rare at those time, though. Either shop assistants or costumers, I look at them all, because staring is all I can do 😛
As I wait my book being plastic-covered, I read a book titled The Boat by Walter Gilbert. It’s about survival instinct and cannibalism within a safety boat during World War II in west Sumatera offshore. Well, during those fast reading, I was looking around occasionally, and I can see more and more attractive female customers came. But as usual, I was only seeing and seeing at them, and sometimes watching 😛

Then, after finished fast reading that book, I went to wrap-assistant to take my comics, and go home. As I walked to the exit, I saw a shop assistant of some booth within that store, and our eyes coincidentally met. I’m not sure who started it, but we were smiling each other 😛  😎 :mrgreen:
No, I don’t think anything strange nor weird. I’m not expectig any imaginative development or whatsover too. It just, it’s been ages for me being smiled at by a stranger girl, and I suddenly recall these song, The Bakery by Arctic Monkeys 😆 hehehe…

Kapel Bayi

Postingan ini saya buat karena sudah janji kepada mbak Jutek di plurk untuk menuliskan isi “ceramah” ngga genah saya kepada mbak Rukijem tentang Kapel Bayi :mrgreen:

Cerita ini saya ambil dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang. Berikut ini adalah cerita lengkapnya …

Pada zaman dinasti Ming, terdapatlah sebuah biara yang bernama Kuil Lotus dan terletak di kota Nanning di bagian selatan China. Kuil itu memiliki luas beberapa ribu meter persegi dan sejumlah besar bangunan. Ada sekitar ratusan biksu tinggal di kuil tersebut. Pengunjung yang datang biasanya diajak berkeliling dan dilayani dengan sebaik-baiknya.
Yang terkenal dari kuil ini adalah Kapel Bayi-nya. Seorang wanita yang menginginkan anak dapat menjadi hamil jika dia berdoa semalaman di sana. Syaratnya adalah wanita yang datang untuk berdoa haruslah masih muda dan sehat. Mereka harus berpuasa dulu 7 hari di rumah sebelum berdoa di kuil. Di dalam kuil, setiap wanita harus berkonsultasi dulu dengan tongkat suci. Jika diramal bagus oleh tongkat suci, wanita itu boleh menginap semalam di sebuah kamar di Kapel Bayi untuk berdoa sendirian. Jika ramalannya tidak bagus, para biksu akan meminta wanita itu untuk berdoa sungguh2 dan kembali ke rumah dan mulai berpuasa selama 7 hari lagi.
Kamar2 di Kapel Bayi tidak berjendela. Ketika seorang wanita masuk ke kamar itu semalaman, para biksu menyarankan seorang anggota keluarganya untuk berjaga di luar pintu. Kebanyakan wanita2 tersebut hamil dan melahirkan bayi yg sehat setelah berdoa di situ.
Kuil itu sangat terkenal sehingga tidak hanya keluarga di dekat situ yang tertarik untuk berdoa di Kapel Bayi. Setiap hari ada sekumpulan orang pergi bersembahyang di biara itu dan membawa berbagai macam sesajian. Ketika para wanita itu ditanya bagaimana Buddha mengabulkan doa mereka, beberapa dari mereka menjawab bahwa Buddha memberitahu mereka di dalam mimpi bahwa mereka akan segera hamil, beberapa lainnya malu2 dan menolak mengatakan apa2. Beberapa dari para wanita itu tidak pernah lagi datang ke tempat itu, sementara beberapa lainnya rutin datang ke biara itu.
Kabar ini terdengar  oleh gubernur baru di distrik itu, Wang Dan. Gubernur Wang merasa curiga, “kenapa para wanita harus menginap semalaman di kuil?”
Diapun  pergi ke sana untuk melihatnya sendiri. Tempat itu cukup ramai, dengan dekorasi biara yg cerah dan dikelilingi oleh pohon cemara yg tinggi. Ketika salah seorang biarawan melihat sang gubernur, dia segera memanggil kepala biara dan mengadakan parade untuk menyambutnya. Setelah selesai membakar dupa dan berdoa di hadapan patung Buddha, gubernur Wang berkata kepada sang kepala biara, “Saya mendengar kemasyhuran kuil suci ini, dan bermaksud merekomendasikan anda kepada kaisar untuk menjadi kepala seluruh biarawan di distrik ini.”
Kepala biara sangat senang mendengarnya.
“Saya mendengar Kapel Bayi anda bisa menghasilkan keajaiban, bagaimana cara kerjanya?”
Kepala biara menjawab bahwa para wanita diwajibkan untuk berpuasa selama 7 hari dan apabila mereka benar2 tulus, doa mereka akan terwujud saat bermalam di Kapel Bayi. Gubernur Wang kemudian menanyakan apakah Kapel Bayi dijaga pada malam harinya. Para biarawan menerangkan bahwa tidak ada jalan masuk selain pintu menuju ruang doa, dan ada anggota keluarga yg diminta berjaga semalaman di luar ruangan.
“Kalau begitu,” kata gubernur, “saya juga ingin mengirimkan istri saya kemari.”
“Jika tuanku menginginkan anak,” kata kepala biara, “Istri tuan tidak perlu datang kemari. Cukuplah berdoa sungguh2 di rumah dan saya yakin akan dikabulkan.”
“Tetapi mengapa wanita lain harus datang ke sini?”
“Ketika orang terhormat seperti tuanku gubernur berdoa, saya yakin Buddha akan mendengar doanya secara khusus.”
“Terima kasih,” kata gubernur. “Saya ingin melihat ruangan ajaib itu.”
Ruang aula dipenuhi pengunjung yang berdoa di depan patung Dewi Kuanyin, Dewi Kebajikan, dengan seorang bayi di kedua tangannya dan 4 bayi di sekitar kakinya. Setelah membungkuk sejenak kepada Dewi Kebajikan, gubernur Wang mengunjungi ruang doa. Seluruh ruangan berkarpet. Ranjang, meja, dan kursi sangat bersih dan tertata rapi. Satu2nya pintu masuk hanyalah pintu. Tidak ada retak sedikitpun di dinding sehingga bahkan seekor tikuspun tidak bisa masuk.
Gubernur Wang kemudian pulang dengan masih memendam rasa penasaran tentang keajaiban Kapel Bayi. Dia kemudian menyuruh sekretarisnya untuk membawa dua pelacur kepadanya.
“Minta mereka berpakaian seperti ibu rumah tangga. Kamu sewa mereka dan kirim mereka untuk menginap semalam di Kuil Lotus. Berikan salah satu dari mereka sebotol tinta hitam dan yang lainnya sebotol tinta merah. Jika ada orang mendekati mereka suruh mereka untuk menandai kepala orang tersebut dengan tinta itu.”
Sekretarisnya menemukan 2 pelacur, Zhang Mei dan Li Wan. Sekretaris itu dan seorang pejabat pemerintahan kemudian menyamar sebagai suami kedua pelacur tersebut dan membawa mereka ke biara.

Selain 2 wanita tersebut, ada sekitar selusin wanita yang hendak berdoa di Kapel Bayi. Pada jam 8 malam, semua ruangan dikunci dan anggota keluarga berjaga di luar ruangan. Semua biarawan kembali ke ruangan mereka. Zhang Mei menanggalkan pakaiannya, memadamkan lilin, dan berbaring di tempat tidur. Pada pukul 10, bel berbunyi dan kesunyian kemudian menyelimuti kuil tersebut. Tiba2 Zhang Mei mendengar suara dari bawah ruangan. Kemudian dia melihat salah satu papan lantai bergeser dan seseorang berkepala gundul muncul dari bawah. Itu adalah kepala seorang biarawan.
Zhang Mei tidak bergerak. Biarawan itu berjinjit ke samping ranjang, menanggalkan jubahnya, dan menyusup ke ranjang. Zhang Mei merasakan biarawan itu memegangi kakinya.
“Anda siapa?” tanyanya, mencoba mendorongnya pergi. “Ini adalah kuil suci.”
“Saya dikirim oleh Buddha untuk memberimu anak,” sang biarawan berbisik sambil memeluk erat Zhang Mei.
Merekapun mulai bermain cinta. Rupanya biarawan itu sangat tinggi staminanya sehingga Zhang Mei yg pelacur berpengalaman pun sampai kewalahan. Ketika selesai, Zhang Mei mengoleskan tinta pada kepala si biarawan tanpa ketahuan. Sebelum pergi, biarawan itu memberikan bungkusan kecil.
“Ini adalah pil untuk membantu anda hamil. Minumlah 3/10 ons tiap pagi dengan air selama seminggu dan kamu akan mempunyai anak.”
Kemudian biarawan itu pergi, dan Zhang Mei terkantuk kelelahan. Beberapa saat kemudian dia disentuh oleh seorang biarawan.
“Apa? Kamu lagi?” teriaknya, mengira kalo itu biarawan yg sama. “Saya lelah.”
“Saya adalah orang lain. Saya akan membuatmu merasa bahagia,” kata biarawan itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. “Minumlah pil ini, maka kamu akan merasa segar sepanajng malam.”
Setelah minum pil itu, Zhang Mei merasa seluruh tubuhnya dialiri keangatan yg menyeluruh. Sama seperti biarawan pertama, Zhang Mei juga mengoleskan tinta merah ke kepala si biarawan. Biarawan itu tidak pergi sampai menjelang subuh.
Sementara di kamar lain, Li Wan juga mengalami kejadian serupa. Dia didatangi 2 biarawan secara bergiliran, dan diberi pil pelancar hamil serta pil pelancar bercinta. Li Wan pun tidak lupa memberi tanda ke kepala 2 biarawan yg mendatanginya.
Gubernur Wang meninggalkan kediamannya sekitar pukul 4 pagi disertai seribu pasukan polisi menuju Kuil Lotus. Ketika tiba di biara, mereka mengumumkan kedatangannya dengan memukul pintu keras2. Gubernur langsung menuju ke kediaman kepala biara, yg ternyata sudah bangun. Gubernur Wang lalu memerintahkan membawa surat ijin kuil dan mengumpulkan seluruh biarawan ke halaman depan kuil.
Kepala biara yg panik segera membunyikan bel dan beberapa saat kemudian seluruh biarawan telah berkumpul. Gubernur kemudian memerintahkan pasukannya memeriksa kepala para biarawan. Dua di antara mereka ditemukan tinta merah di kepalanya, sementara dua lainnya tinta hitam.
“Dari mana kalian mendapat tanda itu?” tanya gubernur.
Keempatnya bingung.
“Mungkin ada seseorang yg iseng terhadap kami.”
“Baiklah. Akan kutunjukkan siapa yg iseng.”
Kemudian kedua pelacur itu dibawa masuk. Mereka menceritakan kepada gubernur apa yg terjadi. Seluruh biarawan menjadi panik. Beberapa wanita juga diinterogasi, beberapa mencoba menyangkal. Dari pemeriksaan seluruh badan, ditemukan pil yg sama seperti yg diterima dua pelacur tadi. Para suami menjadi sangat marah dan membawa istri2nya pulang.
Sebuah penyelidikan mengungkapkan bahwa para biarawan sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Para wanita haruslah bertubuh sehat dan masih muda, dan para biarawan harus memiliki tubuh kuat dan vitalitas tinggi. Dikombinasikan dengan pil khusus pembantu kehamilan, tingkat kehamilan menjadi tinggi. Ketika para wanita menyadari kalo mereka dilecehkan, hampir semuanya tidak berani menceritakan karena takut merusak reputasi keluarga. Beberapa dari mereka senang2 saja melakukannya dan rutin kembali ke situ.
Gubernur kemudian menahan para biarawan dan membakar habis Kuil Lotus.

Jadi, anda berminat membuka usaha “Kapel Bayi”? 😈

Pertempuran yang Terjadi Selama Muhibah Dinasti Ming di Awal Abad XV

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat postingan tentang kasim, alias laki-laki yang dikebiri. Nah, dalam sejarah China klasik, keberadaan kasim sering dianggap sebagai penyebab kejatuhan berbagai dinasti dan rezim yang berkuasa. Umumnya kasim memiliki pengaruh yang besar di istana, dan sering terjadi bahwa para kasim-lah pemegang kekuasaan sebenarnya bersama ibu suri di istana. Tentu saja tidak semua kasim memiliki reputasi yang buruk. Ada beberapa kasim yang berkontribusi positif terhadap penguasanya, atau bahkan terhadap dunia. Ch’ai Lun adalah contoh kasim jaman Dinasti Han yang berjasa menemukan kertas, dan Zheng He adalah kasim Dinasti Ming yang berjasa “menyulut” globalisasi awal Asia-Afrika melalui jalur laut melalui 7 kali perjalanan muhibahnya dalam rentang tahun 1405-1433.
Nah, perjalanan muhibah Zheng He ini dikenal sebagai ekspedisi “damai” yang mementingkan perdagangan di Asia Tenggara dan Samudera Hindia. Tetapi meskipun begitu, tetap saja terjadi beberapa pertempuran antara armada superbesar tersebut (sekitar 40 ribu kapal) dengan beberapa penguasa lokal, baik yang disengaja maupun tidak. Berikut ini peta lokasi dan penjelasan beberapa pertempuran yang terjadi antara armada Zheng He dengan penguasa lokal :

battle_zhenghe-fix

1406, pelayaran pertama – PERANG RAJA BARAT DAN RAJA TIMUR DI JAWA

Pada pelayaran pertama, armada China berkunjung ke bagian timur Pulau Jawa pada tahun 1406. Saat itu di Jawa sedang terjadi perang saudara antara Wirabumi, putra selir Hayam Wuruk, dengan Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk. Ketika akan mangkat, Hayam Wuruk berwasiat kepada Wikramawardhana untuk untuk meneruskan tahtanya, sementara Wirabumi menjadi penguasa di Blambangan, bagian timur Pulau Jawa. Setelah Hayam Wuruk mangkat, terjadilah perang saudara. Perang pertama pecah pada tahun 1401, sedangkan perang kedua terjadi pada tahun 1404-1406, dengan hasil Raja Timur digulingkan Raja Barat pada tahun 1406.
Ketika armada Zheng He sedang mengadakan pertemuan dan perdagangan dengan perantau Tionghoa di Gresik, yang merupakan bekas kekuasaan Raja Timur Wirabumi, anak buah Zheng He diserang oleh Raja Barat karena disangka hendak berkomplot dengan sisa-sisa kekuasaan Raja Timur. Dalam serbuan tersebut setidaknya 170 anak buah Zheng He tewas, sehingga Zheng He terpaksa mundur ke dekat Semarang untuk melindungi perantau Tionghoa di sana. Setelah menyadari kekeliruanya, Wikramawardhana segera mengirim utusan ke China untuk menghadap Kaisar Ming untuk meminta maaf. Oleh Kaisar Yong Le, Wirakramawardhana diwajibkan mengganti kerugian sebesar 60.000 tail emas. Pada tahun 1406, utusan Wikramawardhana dikirim ke China untuk menyerahkan 10.000 tail emas sebagai cicilan ganti rugi. Karena dianggap telah menyadari kesalahannya, Kaisar Ming menghapuskan sisa hutangnya dan sejak itu hubungan Ming-Jawa terpelihara dengan baik.

1407, pelayaran pertama – BAJAK LAUT CHEN ZHUYI DI PALEMBANG

Pada awal Dinasti Ming, sudah ada orang-orang perantau Tionghoa yang menetap di Palembang. Salah satunya adalah Chen Zhuyi yang berasal dari Chaozhou. Karena melanggar hukum di China, dia melarikan diri ke Palembang. Awalnya dia bekerja untuk raja Sriwijaya. Kemudian ketika raja Sriwijaya mangkat, dan Sriwijaya runtuh diserbu Majapahit, dia menghimpun bajak laut setempat dan menguasai perairan antara Palembang dan Jambi. Saat itu, selain Chen Zhuyi, kelompok perantau Tionghoa pimpinan Liang Daoming dan Shi Jiqing juga mendominasi Palembang dengan tetap tunduk pada Majapahit.
Ketika armada Zheng He kembali dari Calicut dan sampai di Palembang tahun 1407, Chen Zhuyi bermaksud untuk merompak armada tersebut, dengan berpura-pura mengikuti titah kaisar Ming untuk bertobat. Maksud jahat Chen tersebut dilaporkan oleh Shi Jiqing kepada Zheng He. Ketika kapal-kapal Chen Zhuyi mendekati armada Ming pada malam hari untuk serangan mendadak, anak buah Zheng He sudah siap sehingga Chen Zhuyi dan kelompoknya balik dikurung dan ditembaki dengan meriam. Pada pertempuran tersebut setidaknya lebih dari 5000 anak buah Chen Zhuyi tewas, 10 kapalnya terbakar, 7 kapalnya tertawan, dan stempel simbol kekuasaan Chen Zhuyi disita. Chen Zhuyi dan 2 komplotannya ditawan dan dibawa ke Nanjing untuk dieksekusi. Setelah perairan Palembang bebas ancaman bajak laut, Shi Jiqing diberi gelar duta Xuan Wei oleh kaisar Ming dan menjadi pemimpin perantau Tionghoa yang sah. Sebelumnya, ketika Sriwijaya runtuh, oleh Majapahit Shi Jiqing diangkat untuk mengurusi administrasi dan keagamaan di Palembang. Menurut Ming Shi, catatan sejarah Dinasti Ming, Shi Jiqing tetap tunduk kepada Majapahit meskipun menerima gelar dari kaisar Ming.

1411, pelayaran ke-3 – PERTEMPURAN DENGAN CEYLON

Ketika armada Zheng He menyinggahi Ceylon (Sri Lanka) pada pelayaran pertamanya, penguasa Ceylon bersikap tidak bersahabat sehingga armada Ming melanjutkan perjalannya ke Calicut, India. Pada pelayarannya yang ke-3, armada Ming kembali singgah di Ceylon pada tahun 1411 dengan membawa prasasti 3 bahasa sebagai tanda hubungan diplomatik.
Saat itu, pulau Ceylon terbagi menjadi 3 negara yang saling berperang, dan penguasa yang ditemui Zheng He adalah Alakeswara. Raja Alakeswara menolak pemasangan prasasti tersebut karena menganggapnya mengusik kedaulatannya, dan mengerahkan pasukan untuk mengusir armada China dengan kekerasan. Armada Zheng He kabur ke India, dan beberapa waktu kemudian kembali lagi ke Ceylon untuk membalas perlakuan sang raja. Tanpa kesulitan, armada Ming yang memang sudah siap bertempur membungkam perlawanan Ceylon dan menawan Raja Alakeswara ke Nanjing. Terkesan dan takut dengan kekuatan China, akhirnya Alakeswara menjalin hubungan sebagai negara vassal Ming dan membayar upeti kepada China setiap tahunnya. Pembayaran upeti tersebut berlangsung sampai lebih dari 40 tahun hingga tahun 1459. Prasasti 3 bahasa tersebut didirikan di Dondra Head, tanjung selatan Sri Lanka, dan saat ini tersimpan di Museum nasional di Colombo.

1415, pelayaran ke-4 – PERANG SIPIL DI SAMUDERA PASAI

Pada sekitar awal abad ke-15, Kerajaan Samudera Pasai tengah berperang dengan Kerajaaan Nakur (Batak). Dalam suatu pertempuran, raja Pasai meninggal terkena anak panah beracun. Karena putra mahkota, Zaynul Abidin masih kecil dan belum mampu membalas dendam, permaisuri berjanji di hadapan rakyatnya untuk menikahi siapapun yang berhasil membalaskan dendamnya dan merebut wilayah Pasai yang dikuasai Nakur. Seorang nelayan tampil ke muka dan bertempur dengan gagah berani ketika menghadapi Kerajaan Nakur. Bahkan raja Nakur pun berhasil dibunuh olehnya. Maka si nelayan itu pun menjadi suami permaisuri Pasai dan menjadi raja Samudera Pasai, dikenal sebagai ”Raja Tua”.
Ketika Zaynul Abidin tumbuh dewasa, ia membunuh ayah tirinya dan menjadi penguasa Kerajaan Samudera Pasai. Anak si nelayan sebelum menikahi permaisuri, Sekandar (Iskandar), segera mengungsi ke pegunungan dan menghimpun kekuatan untuk menghadapi Zaynul Abidin. Demi stabilitas politik, Zaynul Abidin meminta bantuan armada Zheng He ketika singgah di Pasai tahun 1415. Zheng He disambut dengan baik oleh Zaynul Abidin dan saling bertukar cendera mata. Sekandar yang merasa iri akhirnya menyerang armada Zheng He, dan berhasil dibalas sehingga Sekandar dan keluarganya melarikan diri ke Lambri (Banda Aceh). Akhirnya Sekandar berhasil ditawan di dibawa ke Nanjing untuk dihukum.

Begitulah. Mungkin masih ada pertempuran-pertempuran kecil yang terjadi antara armada tersebut dengan penguasa lokal maupun bajak laut setempat, terutama di pesisir barat Afrika, hanya saja tidak terdapat catatan yang menjelaskan peristiwanya, mungkin karena pertempurannya terlalu kecil sehingga tidak dianggap penting. Adapun maksud dari perjalanan muhibah Zheng He sendiri masih diperdebatkan sampai sekarang. Kebanyakan kalangan berpendapat kalau perjalanan ini memang perjalanan “damai”, dalam artian usaha “pamer kekuatan” kaisar Ming (Yong Le) untuk menaklukan negara-negara “barbar” ke dalam sistem upeti mereka. Dan negara-negara tersebut juga kebanyakan tidak terlalu memusingkan makna dari sistem upeti tersebut, karena dengan hanya membayar upeti berupa hasil bumi yg bisa jadi kurang berharga, mereka dapat berdagang banyak benda-benda berguna dari China seperti keramik, sutera, alat ukur, obat-obatan, teh, dan sebagainya yang malah memberikan keuntungan kepada mereka.