Archive for August, 2008

orang buta dan lentera

Ada seorang buta. Oleh temannya dikasihnya sebuah lentera. Si Buta itu protes.
“Untuk apa saya dikasih lentera, kan saya ngga bisa melihat”, begitu pikirnya.
Temannya bilang, “Kamu mungkin ngga bisa lihat, tapi orang lain kan bisa. Ini berguna supaya orang lain tidak menabrakmu di waktu malam.”
Orang buta itu manggut-manggut.
Ketika malam tiba, Si Buta itu pun berjalan dengan menjinjing lentera itu. Tiba-tiba dia ditabrak sama seseorang.
“Hei! Apa-apaan nih? Ngga liat lentera ini ya?” hardik Si Buta.
“Maaf,” kata si penabrak, “lentera Anda mati, jadi saya tidak melihatnya.”
Si Buta pun berkata dengan malu-malu, “Oh, kalau begitu tolong nyalakan.”

Cerita di atas saya dapet dari 2 sumber, kisah China klasik ama kumpulan kisah Nasrudin(*). Saya ngga tau mana yg duluan, mungkin aslinya dari China terus terbawa ke Turki via jalur sutera atau melalui prajurit2 pengikut Mongol yang menguasai Asia saat itu. Yang jelas, yang saya permasalahkan di sini hikmah dari cerita itu. Sampe sekarang saya masih belum paham, apakah itu sekedar cerita humor rada garing atau mengandung suatu kebijakan. Ada yang tau?

catatan zikil :
(*)Nasrudin Hoja, mullah (cendekiawan) fiktif di  jaman Ottoman awal. Sikapnya nyentrik dan jenaka tapi juga bijaksana. Pertama kali muncul dalam cerita2 yang digunakan oleh para sufi untuk mengajar murid2nya

Advertisements

SHIKE

Entah mengapa saya sedikit teringat masa-masa KKN. Mungkin karena sekarang lagi musim KKN, harusnya dah masuk bulan kedua (dan mulai timbul friksi dan konflik 😛 ). Ya, tahun lalu, bulan Juli-Agustus 2007 saya mengalami KKN bertema Pemberantasan Buta Aksara di suatu desa di Jawa Tengah. Tapi sekarang saya bukan mau ngomongin KKN, meskipun ada hubungannya.
Waktu itu, untuk mengatasi kebosanan biasanya seminggu sekali kami pergi main ke kota terdekat. Nah, kesempatan itu tidak saya sia2kan untuk memenuhi hasrat belanja komik saya. Ketika berada di bagian buku di suatu “mal” di kota terdekat itu, saya melihat sebuah novel yang menarik minat saya. Judulnya “SHIKE”, pengarangnya Robert Shea. Pas saya baca sinopsisnya, saya langsung tertarik, “…petualangan Jebu dan Yukio di bawah Kublai Khan…”. Ngapain orang Jepang di daratan China bersama prajurit Mongol, pikir saya waktu itu. Ternyata itu sinopsis buku ke-2, dan untuk membunuh rasa penasaran saya pun membeli buku ke-1 dan ke-2nya sekaligus (tekor, sikap yg tak terpuji 😀 ). Setelah saya khatamkan, ternyata masih bersambung dan merupakan tetralogi. Saya hanya sempat membeli buku ke-3 di kota itu, dan buku ke-4 saya beli di Jogja (dapet diskon pastinya 😀 ).
Tokoh utama dalam novel ini adalah Jebu, biarawan petarung (shohei, di situ disebut “shike“) aliran sekte Zinja (di situ dibilang mirip Zen, kayanya fiktif), dan Shima no Taniko, putri keluarga bangsawan Shima yang hendak dinikahkan dengan Sasaki no Horigawa, pejabat pemerintahan keluarga Takashi. Nah, inti ceritanya itu percintaan terlarang antara Jebu dengan si Taniko itu, dengan ditambahi latar peperangan dan intrik yang lumayan oke. Nantinya Jebu akan mengabdi kepada Muratomo no Yukio menghadapi keluarga Takashi, kabur ke China, mengabdi pada dinasti Song, ganti mengabdi pada Kublai Khan, dan kembali ke Jepang untuk menghadapi keluarga Takashi sekali lagi.
Setting cerita itu pada akhir jaman Heian di Jepang, dan akhir dinasti Song di China (sekitar tahun 1160-1185). Awalnya saya sempat bingung waktu melihat nama2 tokohnya. Tapi seiring saya membacanya saya mulai paham kalau ini ngga lain ngga bukan tentang Gempei War, diawali pemberontakan Hogen dan Heiji, diliputi peperangan besar antara klan Taira dan Minamoto (Genji), diakhiri dengan pembentukan shogunate bakufu Kamakura, serta ditebar ancaman invasi Mongol 2 kali hampir seabad kemudian. Keluarga Takashi adalah keluarga Taira, sedangkan keluarga Muratomo adalah keluarga Minamoto. Muratomo no Yukio itu Minamoto no Yoshitsune, dan Jebu tentu saja sang Musashibyo Benkei yang termasyhur itu. Muratomo no Hideyori adalah Minamoto no Yoritomo, sedangkan Taniko saya bingung ni orang beneran ada ato ngga.

tetralogi SHIKE

tetralogi SHIKE

tampak samping

tampak samping

Poin2 yang menarik dari novel ini (hati2 spoiler!) :
-saat Jebu menghadang Yukio di jembatan untuk merampas pedang 100 samurai (buku 1)
-saat Yukio dan Jebu bertualang di China sebagai pelarian, dan Taniko dipersembahkan sebagai “hadiah” bagi Kublai Khan oleh Horigawa di China (keseluruhan buku 2)
-Gempei war, perang besar antara Takashi dan Muratomo, yang dibantu prajurit Mongol dan sisa2 samurai yang terlatih di medan perang Mongol (buku 3)
-pertempuran pasukan Jepang menghadang invasi Mongol di Teluk Hakata (buku 4)
-adegan “perang bunga” antara Jebu dan Taniko (halah…)
Nah, keanehan-keanehan khas novel (yg sedikit melenceng dari sejarah) yaitu :
-Minamoto no Yoshitsune sama sekali ngga pernah ke China untuk bertempur dengan Kublai Khan 😀
-Jebu diceritakan merupakan anak dari Jamuga, musuh Genghis Khan, yg lari ke Jepang (jadi orang Mongol, what the heck..). Jamuga ngga pernah ke Jepang dan mati di daratan Mongol oleh Genghis Khan
-Pasukan Mongol yg membantu pihak Muratomo (Minamoto) kayanya ngga ada di literatur sejarah deh
-Di akhir Gempei War, Yoshitsune dikhianati oleh Yoritomo dan dipaksa bunuh diri di Hiraizumi (Jepang Utara, masih pulau Honshu), dan Benkei pun mati setelah tertembus banyak panah pasukan Yoritomo. Di novel ini Yukio (Yoshitsune) emang mati bunuh diri, setelah dikepung pasukan Mongol suruhan Hideyori (Yoritomo), tetapi Jebu (Benkei) selamat dan meneruskan kisah cintanya dengan Taniko
-invasi Mongol ke Jepang terjadi tahun 1272 dan 1281, kalo dihitung-hitung harusnya umur Jebu dan Taniko saat invasi Mongol sudah seabad. Tapi nyatanya Taniko masih sehat merawat cicit-nya dan Jebu masih sehat bertempur melawan armada Mongol, dan keduanya masih sehat dalam “perang bunga” (halah…)
Secara keseluruhan, saya paling suka buku ke-2, dengan setting daratan China dan pertempuran2 antara pasukan Mongol dengan pasukan Dinasti Song, serta antara Pasukan Kublai Khan melawan pasukan Arik Buka (kayanya Albuqa Khan), sepupunya dalam merebut tahta Kaisar Mongol. Untuk tahu lebih banyak tentang Gempei War, mending baca Heike Monogatari (Tales of Heike) karya Yoshikawa Eiji, cuma sayangnya belum diterjemahkan ke bahasa Indon T_T. Saya sih cuma baca manga Shanao Yoshitsune buat referensi Gempei war 😀

Maison Ikkoku

Maison Ikkoku, salah satu manga awal karya Takahashi Rumiko(*1). Kalo ngga salah dibuat tahun 80-an, karena setting-nya sendiri tahun 1981-1987. Merupakan manga seinen(*2) yg dirilis dalam 15 tankoubon di Jepang sono pada tahun 80-an juga, dan dirilis ulang dalam format bunkouban(*3) di tahun 1997 dalam 10 buku. Di Indonesia diterbitkan oleh Level Comics mengikuti format bunkouban tahun 1997 yang terdiri dari 10 buku itu dari tahun 2006-2007.
Nah, mengapa saya tiba2 membicarakan komik jadul ini? Gampang aja, karena komik ini recomended. Gambarnya biasa aja, khas Rumiko-sensei, tapi ceritanya cukup menghibur dan bikin ngakak. Bahkan teman saya yg berjenggot Osama dan bercelana ngatung pun terbahak-bahak ketika saya paksa untuk membacanya 😀 . Sebenarnya saya dah lama pengen baca ni komik, sejak pertama kali diterbitkan LC tahun 2006. Tapi karena dana terbatas dan komik baru lebih menggoda, terpaksa keinginan itu dipending dulu. Sampe sebulanan yang lalu, ketika saya lagi suntuk2nya skripsi dan ngga ada hiburan, dan kebetulan jadwal komik inceran lagi rada kosong, saya memutuskan untuk memborong 10 jilid komik itu sampe bangkrut. Itu pun dengan bertahap, 1-2 di Togamas; 3 hari kemudian 3-5 di Toga lagi; 4 hari kemudian 6-9 di Toga lagi; dan 1 hari kemudian 10 di Gramed (yg bikin kesel karena selain ngga kena diskon, ngga ada layanan sampul, parkir bayar 1000 pula) gara2 di Toga dan Galaxy Media habis.
Garis besar ceritanya tentang kehidupan apartemen (lebih tepatnya kos2an) Ikkoku dengan penghuninya yg aneh2. Tokoh utama Godai Yusaku, di awal cerita merupakan ronin(*4) yg ngga jadi pindah apartemen karena pengurus barunya, Otonashi Kyoko, merupakan wanita cantik lagi janda dan masih muda. Intinya si Godai kena hitome bore(*5) ama Kyoko dan ngga jadi pindah, dan cerita selanjutnya berkisah seputaran Godai dari masih jadi ronin sampe kerja dan hubungannya dengan Kyoko. Lengkapnya baca ndiri aja deh, saya kan bukan peresensi yg handal 😀
Kesan2 saya setelah mengkhatamkan Maison Ikkoku ini (hati2 spoiler) :
1. Jadi pengen pindah kos2an yg kanirinnya wanita cantik 😀 <j/k>
2. Sialan, si Godai ngga perlu bersusah payah ngerjain skripsi buat lulus, cuma ujian tertulis kelulusan aja -_-‘
3. Universitas si Godai itu universitas swasta yg bisa bikin diam dan bisa bikin kepala HRD perusahaan ada acara mendadak, sedangkan utk saya sepertinya jurusan yg bisa bikin diam T_T
4. Kalo ngga dapet kerjaan di perusahaan kantoran, jadi guru di SMA cewe aja, sapa tau dapet daun muda 😛 khekhekhe…
5. Duh Gusti paringana bojo ayu… (jeritan hati yg paling dalam), masih adakah cewe cakep yg mau diajak hidup susah?
oiya, sori ngga ada gambar, males naro, tanya om google aja kalo mo tau gambarnya

catatan zikil :
*1) Takahashi Rumiko, mangaka terkenal di Jepang, sempat menjadi salah satu wanita terkaya di Jepang beberapa tahun lalu (ngga tau sekarang masih ato ngga). Karya2nya yg lain Urusei Yatsura, Ranma 1/2, Inu Yasha
*2) seinen, genre manga yg mirip2 shounen, hanya saja ditujukan untuk pembaca pria dewasa dengan tokoh dan cerita yg disesuaikan
*3) bunkouban, penjilidan manga yg lebih tebal dari tankoubon. Jika tankoubon (rilis komik di Indon kebanyakan) rata2 memuat 10an chapter, maka bunkouban rata2 memuat 15-18an chapter
*4) ronin, arti jaman dulu samurai tak bertuan, banyak nongol di sengoku era. Arti jaman sekarang lulusan SMA yg gagal masuk universitas dan nganggur
*5) hitome bore, cinta pada pandangan pertama