Posts Tagged 'far east'

For the Future

Another unimportant post :P. First, take a look/listen to this song:

For The Future – Do As Infinity

I can’t embed since it has “Embedding disabled by request” for this video. However, I managed to embed lower quality video of this song as shown below:

I used to listen to this song around ten years ago. Somehow I felt sentimental back then since I somewhat understand some of the lyric, yet I’ve never really checked the actual lyric nor its meaning. Recently I’ve tried to listen to it, and trying my best to reconstruct the lyric in romanji based on what I heard. The result are below:

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

yaritai koto mo gaman shitetari
yosebaii no ni otona buttari
kotowaru koto mo dekinakattari
hontou no kimi wa doko e itte no

kyou ka shoudo ari no jinsei nante
unzari sono dashou saa ikou

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
hontou no kimi wa
ima misete yo for the future

ato sukoshi ne
mata tsuyoku nareru sa
kagayaku toki wo
kakeruke yo wo for the future

boku wa jiyuu nanda
saa ikou yo

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

saa ichido wa
ano sora wo tobou yo
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

saa ichido wa
ano sora wo tobou yo
furusubi itode
genkai mezase for the future

Then I compare with the actual lyric in romanji from globemoon.net, as shown below:

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Yaritai koto o gaman shitetari
Yoseba ii no ni otona-buttari
Kotowaru koto mo dekina kattari
Hontou no kimi wa doko e itta no

Kyoukasho doori no jinsei nante
Unzari sore deshou
Saa ikou!!

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Tameiki tsuku hima nante nai no sa
FURU SUPIIDO (Full Speed) de genkai mezase
For The Future

Jinsei to yuu na no SUTOORI (Story)
Kono SHINARIO (Scenario) wa kimi ga shuyaku da
Nanika fuman ga aru no dattara
Douzo katte ni kaki naoshichae

Nanimo yaranaide tsubekobe yuu no wa
Tanoshikunai desho
Saa ikou!!

*the yellow part above were not found on the clip that I’ve listen to*

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Hontou no kimi o ima misete yo
For The Future

Ato sukoshi de mata tsuyoku nareru sa
Kagayaku toki o kakenuke yo
For The Future

Bokura jiyuu nanda
Saa ikou yo!!

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Saa ichido wa ano sora o tobou yo
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Saa ichido wa ano sora o tobou yo
FURU SUPIIDO (Full Speed) de genkai mezase
For The Future

And the verdict is, not too shabby 😛 😎

I made some minor mistakes in o as mo, or kakenuke as kakeruke, but the most irritating mistake was FURU SUPIIDO as furusubi itode 😆 😆

I was tricked by Engrish! 😆

Alright, after submit relaxing time is over, now I better back to work on my slide 😛

Advertisements

Sins of Beauty

Di bulan April ini, biasanya bangsa Indonesia lagi heboh-hebohnya mendengungkan emansipasi wanita, karena kebetulan di bulan April ini lahir salah satu tokoh wanita yg namanya nongol di buku pelajaran Sejarah SD sebagai pelopor emansipasi wanita. Nah, berbicara mengenai wanita, tentu biasanya tidak terlepas dari kata “cantik” maupun “kecantikan”. Ngomong2 soal kecantikan, kecantikan seorang wanita tercatat telah dapat memicu terjadinya perang, memecah belah penguasa, dan bahkan menghancurkan suatu pemerintahan. Berikut ini adalah contoh singkat kisah di mana kecantikan berandil besar dalam suatu peristiwa 😉

___

Helen of Troy

Menurut mitologi Yunani, Helen adalah wanita tercantik di Yunani. Dia adalah anak dari Zeus dan Leda. Ketika kecil, dia pernah diculik oleh Theseus untuk dinikahi ketika matang 😈 , tetapi akhirnya diselamatkan oleh kakaknya Castor dan Pollux. Ketika beranjak dewasa, Helen diperebutkan cintanya oleh para pahlawan dan ksatria saat itu. Karena itu, Tyrandeus, ayah tirinya, memaksa semua ksatria dan pahlawan yg memperebutkan Helen untuk bersumpah mematuhi keputusan Helen akan suaminya, serta untuk bersatu membelanya jika ada seseorang yang membawa kabur Helen dengan paksa. Pada akhirnya Helen menikah dengan Menelaus, raja Sparta.

Sementara sebelumnya di Troya, pangeran Troya yg dibuang, Paris, didatangi oleh 3 orang dewi yang sedang bertengkar menentukan siapa di antara mereka yang paling cantik. Hera, Athena, dan Aphrodite tertarik pada kegantengan Paris dan memutuskan untuk menanyakan kepadanya siapa yang paling cantik di antara mereka dan paling pantas untuk mendapatkan apel emas simbol kerupawanan, setelah Zeus menolak memberikan penilaian. Masing2 dewi berusaha menyogok Paris dengan kenikmatan duniawi. Hera menawarkan kekuasaan atas Eropa dan Asia, Athena menawarkan kekuatan militer yang mengalahkan Yunani, sedangkan Aphrodite menawarkan wanita tercantik di dunia yaitu Helen istri Menelaus. Dan akhirnya Paris pun memilih Aphrodite, yang kemudian menjanjikan wanita paling rupawan itu kepadanya di masa depan, padahal saat itu ia sdang berpacaran dengan Oenone, seorang peri hutan. Dua dewi yg lain sangat dendam kepada Paris karena hal ini.

Bertahun-tahun kemudian, Paris kembali ke istana Troya setelah memenangi sayembara pemilihan panglima perang. Identitasnya sebagai pangeran Troya terungkap dan kedudukannya sebagai pangeran pun dipulihkan. Ketika Paris mengadakan kunjungan kenegaraan ke Sparta, ia disambut baik oleh Menelaus dan Helen. Menyadari bahwa Helen adalah wanita yg dijanjikan oleh Aphrodite, Paris membujuk Helen supaya bersedia kawin lari dengannya ke Troya. Helen, yang terbius oleh ketampanan Paris dan juga dibawah pengaruh mantra Aphrodite, menurut. Mereka kemudian kabur ke Troya ketika Menelaus lengah. Alhasil, Menelaus murka dan dengan segera Sparta menyatakan perang dengan Troya setelah mereka menolak mengembalikan Helen. Polis2 Yunani lain pun bersekutu dengan Sparta untuk memerangi Troya. Aliansi ini menghasilkan armada yg terdiri dari 1000 kapal yang mengepung Troya. Pengepungan ini berlangsung selama 10 tahun, tanpa hasil berarti karena Troya sepertinya masih sanggup menahan serbuan Yunani.

Di tahun ke-10, situasi berbalik. Hector, kakak Paris yang pewaris tahta Troya, terbunuh oleh Achilles, pahlawan perang terkenal Yunani. Achilles sendiri kemudian terbunuh oleh Paris setelah bagian atas tumitnya (saya lupa kanan ato kiri) yang merupakan kelemahannya dipanah oleh Paris (makanya ada istilah tendon Achilles). Paris kemudian berduel dengan Menelaus dengan disaksikan oleh Helen dan Raja Priam, ayah Paris yg juga raja Troya. Menelaus hampir saja menang ketika Aphrodite turun tangan menebarkan kabut dan melarikan Paris, dan sekali lagi Troya gagal ditundukkan. Salah satu pahlawan Yunani, Odysseus raja Ithaca, akhirnya mengemukakan strategi briliannya. Ia memerintahkan prajuritnya membuat patung kuda raksasa dari kayu dan meninggalkannya di perkemahannya. Para pahlawan Yunani, termasuk Menelaus dan Odysseus, dan prajurit pilihan bersembunyi dalam patung kuda tersebut, sementara prajurit sisanya disuruh mundur untuk bersiaga. Pasukan Troya yg melihat pasukan Yunani mundur dan hanya meninggalkan patung kuda raksasa mengira Yunani telah menyerah dalam usahanya mengepung mereka, dan menganggap patung kuda kayu tersebut sebagai tanda persembahan untuk mereka. Patung kuda kayu raksasa itu pun digiring masuk ke dalam kota Troya, dan mereka berpesta besar2an menyambut kemenangan mereka. Ketika pasukan Troya sudah mulai mabuk dan tertidur setelah puas berpesta, pasukan khusus Yunani keluar dari patung kuda tersebut dan mulai membantai pasukan dan seisi kota Troya. Pasukan Yunani yang tadinya mundur kembali ke garis depan untuk menghancurkan dan menjarah kota Troya. Di tengah kekacauan itu, Paris terpanah oleh Philoctetes dan terluka parah mematikan. Oleh pengikutnya ia kemudian dibawa ke Oenone yang memiliki obat penyembuh. Tetapi Oenone menolak menyembuhkan Paris sehingga Paris akhirnya mati penasaran. Oenone kemudian bunuh diri dalam kesedihan.

Sementara itu Troya berhasil dihancurkan, istana dan kota dibakar, keluarga kerajaan dan pejabat istana dibantai, dan sisa2 penduduknya kabur keluar Troya. Menelaus mendapatkan kembali apa yg diinginkannya, yaitu Helen, dan segera kembali ke Sparta untuk hidup dalam kemegahan bersama Helen dan mempunyai serang puteri yang bernama Hermione.

___


Diao Chan

Di akhir era Dinasti Han di China kuno, pasca pemberontakan turban kuning, kekuasaan kaisar ada di tangan tiran Dong Zhuo. Ia menyatakan diri sebagai perdana menteri dan mengontrol mutlak Kaisar Xian sebagai bonekanya. Ia membangun istana di Chang’an dan memindahkan ibukota kerajaan ke situ dari yang tadinya di Luoyang. Salah seorang menteri senior, Wang Yun, merasa tidak suka dengan Dong Zhuo dan berusaha menyingkirkannya. Dong Zhuo memiliki seorang anak angkat, seorang pejuang hebat bernama Lu Bu. Ia sangat kuat, dan tak terkalahkan dalam setiap pertarungan. Wang Yun paham bahwa untuk menyingkirkan Dong Zhuo, maka Lu Bu harus dijauhkan dulu darinya. Kebetulan Wang Yun memiliki seorang pelayan sekaligus penari yg bernama Diao Chan. Ia sangat cantik, pandai menyanyi dan menari, dan disebut-sebut sebagai salah satu wanita tercantik dalam masa China kuno. Oleh Wang Yun, Diao Chan diberitahu rencananya untuk memisahkan Dong Zhuo dengan Lu Bu. Karena sejak kecil ia sudah dirawat oleh Wang Yun, Diao Chan tanpa ragu menuruti rencananya.

Maka suatu hari Wang Yun mengundang Lu Bu ke rumahnya untuk makan malam dan membicarakan hal2 pemerintahan. Ketika jamuan makan malam tiba, Diao Chan disuruh menari untuk menghibur Lu Bu. Tertarik oleh kecantikannya, Lu Bu bertanya kepada Wang Yun bolehkah ia mengambil Diao Chan sebagai selirnya. Oleh Wang Yun dia dijanjikan untuk diberi Diao Chan pada hari baik. Lu Bu pun pulang dengan gembira. Beberapa hari kemudian Wang Yun mengundang Dong Zhuo dengan keperluan yg sama, dan juga menyajikan tarian Diao Chan sebagai hiburan. Dong Zhuo pun tertarik dengan kecantikannya, dan oleh Wang Yun ditawarkan apakah mau mengambil Diao Chan sebagai selir. Dong Zhuo langsung setuju dan membawanya pulang ke istananya malam itu juga 👿

Ketika Lu Bu mengetahui bahwa Diao Chan sudah diboyong Dong Zhuo, ia marah2 kepada Wang Yun. Tapi Wang Yun beralasan bahwa Dong Zhuo membawanya untuk kemudian diserahkan kepada Lu Bu, dan mempertanyakan mengapa belum diserahkan juga. Maka Lu Bu pun menuju istana Dong Zhuo dan menemui Diao Chan secara rahasia di taman. Kepada Lu Bu Diao Chan mengaku sambil menangis bahwa dirinya dipaksa dan tidak tenteram bersama Dong Zhuo karena sudah kadung cinta kepada Lu Bu. Sialnya, tiba2 saja Dong Zhuo masuk ke taman itu dan memergoki mereka berdua. Lu Bu segera kabur dan dikejar sambil dilempar sendal oleh Dong Zhuo, dan lolos. Kepada Dong Zhuo, Diao Chan mengaku sambil menangis kalo Lu Bu berusaha membawanya kabur meskipun dia menolak. Akhirnya permusuhan pun timbul di antara Dong Zhuo dan Lu Bu.

Setelah memastikan sudah ada rasa permusuhan, Wang Yun pun menghasut Lu Bu untuk menyingkirkan Dong Zuo dan menguasai Diao Chan serta kerajaan untuknya sendiri. Setelah sempat ragu2, akhirnya Lu Bu membunuh ayah angkatnya dan membawa kabur Diao Chan ke Chang’an. Kaisar Xian yg merasa terancam mengungsi kembali ke Luoyang dan keadaan menjadi vacuum of power secara de facto karena Dong Zhuo si pemegang kekuasaan sebenarnya terbunuh. Para warlord yg tergabung dalam aliansi Guangdong melawan combo Dong Zhuo – Lu Bu yg sebelumnya sudah kewalahan, kembali mendapat angin segar. Pada akhirnya Lu Bu sempat kabur ke berbagai kota, bersekutu dengan Liu Bei, menengahi perselisihan Liu Bei-Yuan Shu, mengkhianati Liu Bei, dan akhirnya ditangkap oleh pasukan gabungan Liu Bei dan Cao Cao di kota Xiapi setelah dikepung beberapa minggu.

Lu Bu akhirnya dihukum mati oleh Cao Cao, sedangkan Diao Chan tidak jelas nasibnya bagaimana. Ada yg bilang kalo dia dihadiahkan ke Guan Yu, tapi kemudian dibunuh oleh Guan Yu untuk menghindari kejadian yg menimpa Dong Zhuo – Lu Bu terulang pada Liu Bei – Guan Yu – Zhang Fei

___


Jadi, inti postingan saya itu, kecantikan wanita itu benar2 berbahaya. Ia bisa memicu perang, menimbulkan pengkhianatan, bahkan menggulingkan kekuasaan. Mengutip sebuah lagu, “wanita, racun duni~a” *halah* 😈 . Senjata terampuh wanita adalah kecantikan dan air matanya, so lads or gents, always treat your lass or lady carefully 😆

Xiang Yu, Han Xin, Tariq ibn Ziad, dan Lelouch Lamperouge

Dua kisah pertama terjadi pada masa penggulingan dinasti Qin dan perang Chu-Han dalam pendirian dinasti Han.

Sekitar tahun 207 SM, bekas wilayah negara bagian Zhao

Saat itu, wilayah yg tadinya negara bagian Zhao sedang memberontak terhadap Dinasti Qin yang baru 15 tahun menyatukan China. Ketika pasukan Qin menyerbu masuk wilayah Zhao, penguasa Zhao meminta bantuan terhadap negara Chu. Penguasa Chu menunjuk penasihatnya, Song Yi, sebagai pemimpin pasukan, dan Xiang Yu, keponakan jenderal Chu sebelumnya, sebagai komandan kedua untuk membantu Zhao melawan Qin. Selama sebulan lebih Song Yi hanya menunggu, sementara Xiang Yu sudah tidak sabaran ingin menyerang. Song Yi beralasan dia ingin menunggu pasukan Qin dan pasukan Zhao saling bertempur dulu sehingga ketika pasukan Qin sudah kepayahan dapat dengan mudah dikalahkan.

Ketika cuaca berubah menjadi sering hujan dan lembap, pasukannya menjadi kelaparan dan kedinginan. Xiang Yu kemudian berinisiatif bahwa mereka harus menyerang sekarang, sebelum moral dan bekal pasukannya habis. Ia berargumen bahwa Zhao bukanlah tandingan Qin karena pasukannya masih baru dan minim pengalaman. Jika Zhao jatuh maka Qin akan semakin kuat dan mengancam Chu. Besoknya Xiang Yu membunuh Song Yi atas nama raja Chu, tanpa ada yang berani melawan. Raja Chu yang diberitahu kabar ini terpaksa mengangkat Xiang Yu sebagai komandan utama, dan kendali pasukan Chu ada sepenuhnya di tangannya.

Nah, selanjutnya Xiang Yu bergegas membawa pasukannya menyeberangi sungai perbatasan Zhao-Chu. Sesampainya di seberang, ia memerintahkan semua kapal dihancurkan dan masing2 pasukan hanya boleh membawa perbekalan untuk 3 hari. Dengan demikian pasukannya sadar betul bahwa untuk bisa bertahan hidup adalah dengan memenangkan pertempuran. Pada akhirnya pasukan Chu bertarung dengan ganas sampai2 1 prajurit Chu dapat bertarung melawan 3 prajurit Qin. Pasukan Chu kemudian memenangkan 9 pertempuran berikutnya dengan pasukan Qin, sehingga moral pasukan Qin semakin merosot dan akhirnya mereka mundur. Apalagi pasukan2 dari wilayah lain yang juga anti-Qin telah tiba dan bergabung dengan pasukan Chu. Ketika pasukan gabungan itu merayakan kemenangannya atas pasukan Qin, Xiang Yu telah menjadi orang yang paling disegani dan ditakuti di antara para jenderal anti-Qin tersebut.

Sekitar tahun 205 SM

Dinasti Qin kemudian digulingkan dan rajanya dibunuh oleh Xiang Yu pada sekitar pertengahan tahun 206 SM. Ia kemudian membagi wilayahnya menjadi 19 kerajaan, mengambil wilayah terbesar untuk dijadikan kerajaan Chu, dan 18 sisanya diberikan pada para jenderal yang berjasa, satu di antaranya adalah Liu Bang yang diberi kekuasaan sebagai raja Han. Ketika terjadi konflik antara Chu dan Han setahun kemudian, raja2 lainnya terpecah menjadi sekutu Xiang Yu dan Liu Bang. Dalam suatu pertempuran pasukan Liu Bang kalah. Berita kekalahan ini menyebabkan raja2 sekutu Liu Bang meninggalkannya dan berbalik bersekutu dengan Xiang Yu. Oleh Liu Bang, diutuslah jenderal terbaiknya, Han Xin untuk menghancurkan raja2 yg mengkhianatinya itu.

Nah, dalam salah satu pertempuran, diceritakan bahwa Han Xin memimpin pasukan yang kalah jumlah 10:1 dari lawannya. Han Xin kemudian memerintahkan pasukannya untuk berbaris berjajar membelakangi sungai. Oleh jenderal lawannya Han Xin ditertawakan karena posisinya sangat rawan untuk dihancurkan. Tetapi karena pasukan Han melihat bahwa tidak ada jalan lain selain bertempur untuk bertahan hidup, maka mereka bertempur habis2an dan menjadi tidak terkalahkan, meskipun nyaris seluruh pasukan musuh mengepungnya.

Ketika pertempuran berlangsung, Han Xin memerintahkan pasukan kavalerinya untuk menerobos pasukan musuh dan menuju markas musuh yang hampir kosong. Di situ kemudian bendera lawan diturunkan dan diganti dengan bendera Han. Ketika pasukan utama musuh kembali karena frustasi tidak dapat mengalahkan pasukan Han Xin, mereka terkejut karena melihat bendera di markasnya telah berganti dan mengira markas mereka telah jatuh. Dalam kepanikan dan kemerosotan moral tersebut pasukan Han Xin dapat dengan mudah menghancurkan musuhnya.

p.s. pada akhirnya Liu Bang-lah yang keluar sebagai pemenang konflik Chu-Han pada sekitar tahun 202 SM dan menjadi penguasa Dinasti Han, dinasti yang paling lama berkuasa di China, yang model pemerintahannya menjadi acuan dinasti2 berikutnya.


Sekitar tahun 711 M, Selat Gibraltar

Maroko dikuasai oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Musa ibn Nusayr pada tahun 709 M. Diceritakan bahwa penduduk asli Maroko (orang Berber) berbondong-bondong masuk Islam dan bergabung dengan pasukan muslim. Di antara mereka terdapat Tariq ibn Ziad yg dipercaya Musa ibn Nusayr sebagai kepala pasukan.

Sementara di seberang lautan, di semenanjung Iberia, Roderick, seorang bangsawan Visigoth, membunuh raja Witza dan mengambil tahtanya. Keluarga raja Witiza dan Julian, penguasa Spanyol selatan, mencari dukungan pasukan kepada Musa untuk mengalahkan Roderick. Musa adalah pejuang alami, dan dia melihat kesempatan untuk menguasai Spanyol dan menghilangkan ancaman Kristen Spanyol terhadap dunia Islam di Afrika Utara. Karena itu setelah mendapat ijin dari khalifah Al Walid ibn Abdul Malik, dia mengutus Tariq ibn Ziad untuk menginvasi Spanyol pada tahun 711 M. Ibarat kata, kesempatan dalam kesempitan, atau, kucing yg dikasi ikan goreng 😀 .

Nah, ketika Tariq dan pasukannya mendarat di sebuah bukit, yg kemudian dinamakan Gibraltar (Jabal Tariq) sesuai namanya, ia memberikan pidato singkat yang menaikkan semangat pasukannya, dan membakar kapal2 yang digunakan sebelumnya. Dengan tiadanya jalan pulang, pasukannya menjadi paham betul pilihan hanya mati atau menang. Akhirnya Tariq dan pasukannya bertempur habis2an dengan pasukan Roderick dan berhasil bertahan sampai Musa mengirim tambahan 5000 pasukan dan mengalahkan Roderick di dekat Cordova. Pasukan muslim kemudian beberapa kali bertempur dan mengalahkan sisa2 pendukung Roderick dan secara efektif menguasai hampir seluruh semenanjung Iberia

p.s. pada akhirnya setelah Roderick dikalahkan, para keluarga Witiza tidak mendapatkan kembali tahtanya. Sebagai gantinya, Musa ibn Nusayr memasukkan Andalusia sebagai bagian dari kekhalifahan.


a.t.b. 2017, Narita Mountain Range, Area 11 (Jepang)

Jepang dikuasai oleh Holy Empire of Britannia, dan di Narita Mountain terdapat markas sisa2 Japan Liberation Front (JLF), yang menentang pendudukan Britannia. Selain 2 pihak tersebut, terdapat juga pihak penentang Brtitannia, yaitu The Order of Black Knights/Kuro no Kishidan (黒の騎士団). Pemimpin Black Knights, Zero alias Lelouch Lamperouge, sebenarnya adalah pangeran Britannia yang disia-siakan ayahnya, sang Raja Charles di Britannia.

Intinya, pihak Britannia sedang dalam operasi menggulung sisa2 JLF di Narita Mountain (bener2 markas di dalam gunung bersalju). Nah, Black Knights yg mendapatkan bocoran info operasi tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, karena pemimpin operasi tersebut adalah Cornelia, kakak lain ibu Lelouch yg ditengarai memiliki informasi yg dibutuhkan Lelouch.

Singkat cerita, operasi Narita ini dilakukan dengan mengepung gunung markas JLF dari berbagai sisi dengan ratusan Knightframe (mecha tempur Britannia). Zero yg tahu taktik yang bakal digunakan Cornelia, setelah memanfaatkan Geass-nya untuk mengelabui penjaga JLF, memposisikan pasukannya di tengah2 lereng gunung tersebut, sambil membawa beberapa tabung bom gelombang electromagnet dan alat pengacau gelombang electromagnet. Pasukannya (anggota Black Knight) tidak tahu-menahu soal taktik yang digunakan Cornelia. Ketika pasukan Britannia sudah memulai operasi, barulah pasukannya sadar akan kondisi mereka yang terkepung dari segala penjuru. Tentu saja, pasukannya sempat kaget dan meragukan Zero. Tetapi, kemudian Zero meyakinkan mereka bahwa semua jalan sudah tertutup, jika ingin bertahan hidup harus bertempur dan menang. Ia juga meyakinkan pasukannya bahwa jalan untuk menang adalah mempercayainya.

Pada awalnya pasukan Britannia mengatasi perlawanan JLF tanpa masalah. Tetapi ketika salah satu unit pasukan Cornelia hendak merangsek ke pintu masuk markas JLF, Zero memerintahkan pasukannya bergerak dan iapun menjalankan muslihatnya. Bom gelombang EM tadi digunakan untuk menggetarkan saluran air bawah tanah, yang berakibat gempa lokal dan terjadi longsor di lereng gunung yang menjadi jalur pasukan pendahulu Cornelia. Pasukan pendahulu dan pasukan JLF yg ada di lokasi itu pun hancur tersapu longsor. Selanjutnya, anggota Black Knights yang sudah tak punya jalan mundur pun bertempur habis2an, baik infantri maupun kavaleri (menggunakan Knightframe).

Pada akhirnya, pertempuran berakhir dengan kemenangan mahal untuk pasukan Britannia. Sisa2 kekuatan JLF kabur setelah bantuannya datang. Pasukan Black Knights kabur selagi pasukan Britannia sibuk dengan JLF, begitu tujuannya untuk menangkap Cornelia gagal. Pasukan Britannia yang tersisa pun mundur setelah kedua lawannya kabur, dan Cornelia, commander in chief, selamat.

p.s. nonton aja Code Geass eps 10-11, huehehe 😛

Jadi, inti dari kisah2 di atas adalah sebuah istilah kuno “bertempur dengan membelakangi sungai”. Suatu kondisi di mana satu2nya jalan adalah maju ke depan, karena secara ekstrim pilihan hanya ada mati atau berjuang mati2an untuk hidup. Xiang Yu, Han Xin, Tariq ibn Ziad, maupun Lelouch Lamperouge secara sadar maupun tidak telah menjalankan salah satu nasihat Sun Zi yang terkenal, “ketika berada di medan kematian, bertempurlah habis2an”. Nasihat ini muncul dalam buku Sun Zi Bingfa (atau lebih dikenal Sun Zi Art of War) pada bab 8 tentang variasi dan adaptasi, dan diulang beberapa kali pada bab 11 tentang berbagai medan pertempuran. Nasihat ini memanfaatkan sifat alami manusia untuk mempertahankan diri, di mana ketika mereka terdesak dan tidak ada jalan keluar maka mereka akan menjadi buas dan cenderung habis2an.

Nasihat yang mirip juga terdapat dalam kumpulan sajak China kuno yang berjudul 36 Strategi, yaitu “欲擒故縱” (yu qin gu zong) – “Pada saat menangkap, lepaslah satu orang.”. Maksudnya, pada saat mengepung musuh pastikan mereka mempunyai jalan keluar, karena mangsa yg terdesak akan cenderung ganas dan akan menimbulkan lebih banyak korban di pihak kita. Hanya saja nasihat itu balik diterapkan ke pasukan kita sendiri, dengan memutus jalan keluar pasukan kita.

Menurut saya sendiri sih, dalam setiap kondisi yang seolah-olah tidak ada jalan keluarnya, dengan menjalani apa adanya sudah merupakan salah satu jalan. Dan biasanya dengan menjalani jalan itu (kok jadi banyak kata jalan ya 😆 ) kita akan mendpati penyelesaian yang sesuai. Komentar saya mengenai kisah2 di atas :

Xiang Yu sebenarnya tidak benar2 terputus dari bantuan. Asal dia bisa bertahan maka cepat atau lambat pasti bantuan dari jenderal lainnya datang. Tetapi dia mengambil insiatif menyerang dan menang, sehingga menaikkan moral pasukannya dan meruntuhkan moral lawannya.

Han Xin memang benar2 gabungan jenius dan hoki. Dia benar2 terputus dari bantuan dan terkepung dalam perbandingan 9:1, tetapi dia bisa menaikkan moral “death or win” pasukannya, dan sempat pula memikirkan strategi ofensif memanfaatkan kavalerinya. Dan hokinya kavaleri itu bisa sampai ke markas lawan dengan selamat 😀

Tariq ibn Ziad juga tidak benar2 terputus dari bantuan. Kasusnya mirip Xiang Yu, asal bisa terus menyerang dan menjaga pasukannya agar jangan habis, bantuan segera datang. Lagipula bagian belakang pasukan Tariq dijaga oleh Julian, dan kebetulan Roderick juga tidak dicintai rakyat Spanyol umumnya, terutama yang dari kalangan Yahudi.

Lelouch Lamperouge,… err… *mengucap ala si kriwil Charles : ”Ruruuuusshu” 😆 *. Oke, sebenernya dia sudah memperhitungkan pintu masuk markas JLF, jalur yang bakal ditempuh pasukan Britannia, dan saluran air bawah tanah mana yang dapat digunakan untuk menciptakan gempa lokal dan longsoran mematikan. Karena longsoran itu setidaknya 20% pasukan Britannia hancur dan pasukan pendukung (yg dipimpin Orenji) menjadi kalap bernafsu menyerang begitu mendengar Black Knights sehingga mengacaukan formasi yg sudah disusun oleh Cornelia. Pasukan dengan formasi yang kacau akan mudah diobrak abrik, apalagi ketika bantuan JLF tiba dan memancing Cornelia untuk ditangkap Ruruuuuushu :mrgreen: . Beruntung si Suzapret dateng sehingga si Aneue seksi pun terselamatkan 😎


sumber : Microsoft Encarta, Kisah Kebijaksanaan China Klasik (Michael C. Tang), Sun Zi Art of War (Chow Hou Wee), Sunrise 😕 😆

Bangsa-bangsa Asia Timur

Serupa tapi tak sama.

Begitulah idiom yang saya rasa cukup pas untuk menggambarkan bangsa2 di Asia Timur. Secara umum terdapat 3 bangsa yang cukup besar di Asia Timur, yaitu China, Korea, dan Jepang. Tiga bangsa tersebut relatif memiliki tampilan luar yang sama, sehingga orang biasanya susah membedakan mana yang orang China, Korea, maupun Jepang jika melihat secara sekilas. Nah, untuk soal tampilan luar boleh saja sama, tapi isi dalamnya alias karakter 3 bangsa itu sama sekali berbeda. Ini dipengaruhi oleh kombinasi kondisi geografis dan faktor sejarah yang menghasilkan karakter yang berbeda-beda di antara 3 bangsa itu.

Oiya, orang2 Mongol saya masukkan sebagai minoritas di China. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap Republik Mongolia, secara kultur mereka awalnya memang berbeda dengan China yaitu sebagai bangsa pengembara. Tetapi setelah menaklukan China mereka menjadi bangsa “beradab” dan malah menyerap budaya China besar2an dalam kehidupan mereka selanjutnya, menjadi bangsa petani dan menetap. Hal yang sama terjadi di daerah taklukan Mongol lainnya di Asia Barat.

China

China merupakan negara benua, sebagian besar wilayahnya merupakan daratan yang berada di pusat benua. Sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia, China menganggap kebudayaan mereka adalah peradaban terbaik, sementara menganggap bangsa2 di sekitarnya sebagai bangsa barbar. Di awal pendiriannya, China merupakan kumpulan dari negara2 yang saling berperang satu sama lain. Mereka menyadari bahwa kedamaian dapat dicapai dengan adanya persatuan dari penguasa tunggal yang kuat. Negara2 yang berperang tersebut akhirnya disatukan oleh kaisar Qin Shi Huangdi yang membentuk Dinasti Qin pada tahun 221 SM. Persatuan ini merupakan nilai penting bagi bangsa China sejak saat itu sampai sekarang. Penerus Dinasti Qin, yaitu Dinasti Han (202 SM – 220 M) merupakan dinasti terlama yang memerintah China, sehingga orang2 China sejak saat itu menganggap diri mereka sendiri adalah orang Han. Sejak masa Dinasti Tang (618 M – 845 M), ketika wilayah China semakin meluas, penduduknya sudah merupakan kumpulan dari berbagai suku “barbar” sebagai minoritas dan suku Han sebagai mayoritas. Dinasti Tang menjalankan kebijakan kosmopolitan, dengan membiarkan suku2 minoritas memiliki identitas kesukuan mereka tetapi tetap berada dalam wadah besar kebudayaan Han. Kemunculan suku barbar yang kemudian menguasai beberapa wilayah China (Jurchen/Manchu dan Liao di timur laut, Tangut di barat) pada masa Dinasti Sung (960 M – 1260 M) semakin mendambah suku2 minoritas yang menjadi bagian China. Ketika silih berganti Dinasti Yuan, Ming, dan Qing berkuasa di China, wilayah China sudah bertambah semakin luas seiring dengan penaklukan2 wilayah sekitar. Puncaknya ketika masa Dinasti Qing, wilayah China adalah seperti wilayah RRC saat ini dan ditambah wilayah Republik Mongolia.

Tentu saja, wilayah yang luas akan sangat rawan perpecahan. Karena itu, seperti sudah disinggung tadi, China menerapkan kebijakan kosmopolitan dan toleransi terhadap penduduk non-Han. Mereka tidak ambil pusing dari suku maupun agama apapun mereka berasal, yang terpenting mereka berada dalam sebuah kebudayaan besar Han yang bersatu. Tapi jika suku2 minoritas ini coba2 memisahkan diri dari China, maka China tidak segan2 menghajar habis2an gerakan separatis itu. Contoh mudahnya antara lain gerakan separatis di Xinjiang-Uighur, gerakan “kembali ke Mongol” di Mongolia Dalam, maupun pelepasan diri Tibet. Gerakan2 separatis tersebut ditekan habis2an dan akhirnya berkompromi untuk membentuk daerah otonomi khusus.

Politik kosmopolitan ini juga diterapkan dalam hubungannya dengan luar negeri, dalam bentuk negara vassal. Negara vassal bisa dikatakan sebagai negara pengikut yang membayar sejumlah upeti terhadap negara “pelindung”nya setiap tahunnya. Jika negara vassal dalam bahaya diserang negara lain, maka negara “pelindung” akan membantu negara vassal tersebut. Jika negara vassal menolak membayar upeti, maka oleh China hanya akan diabaikan dan mungkin suatu saat diinvasi. Upeti yang dibayarkan biasanya hanya berupa barang hasil bumi tak berharga, tetapi oleh China negara vassal itu akan dihadiahi berbagai benda berharga (porselen, sutera, alat ukur). Jadi pada dasarnya hubungan negara vassal-pelindung ini mutualisme, karena itu banyak negara2 di sekitarnya, terutama di jaman Dinasti Yuan (1271-1368) dan Dinasti Ming (1368-1644), yang menjadi negara vassal bagi China. Contoh negara2 vassal tersebut antara lain : Korea, Jepang, Champa (Vietnam), Malaka, Majapahit (ya, Majapahit sempat jadi vassal-nya Dinasti Ming), Ceylon (Sri Lanka).

Jadi, memang sudah sejak dulu bangsa China lebih suka berkompromi menggunakan materi ketimbang berkonfrontasi langsung dengan lawan-lawannya 😉


Korea

Korea merupakan negara semenanjung. Wilayahnya berupa daratan “perpanjangan” dari benua Asia di bagian timur, dan dikelilingi laut di ketiga sisinya, dan kepulauan Jepang di seberang lautan. Posisi ini merupakan posisi strategis untuk mendapatkan kekuasaan. Negara benua (China) dapat menggunakan semenanjung sebagai batu loncatan ke pulau seberang, begitu pula negara pulau (Jepang) dapat menggunakannya untuk menuju benua. Dan sejarah telah membuktikan bahwa semenanjung Korea telah menjadi incaran bangsa2 di sekitarnya untuk dikuasai. Karena faktor inilah, bangsa Korea harus selalu siap sedia jika ada invasi dari bangsa lain. Mereka harus berjuang habis2an untuk mempertahankan diri dan keluarganya. Hasilnya, tidak seperti bangsa China yang suka kompromi, bangsa Korea sangat keras kepala dan teguh pendirian bahkan cenderung kolot. Ini dikarenakan, jika mereka menerima kompromi, artinya mereka kalah sehingga nilai2 keaslian Korea akan hilang karena bercampur dengan nilai2 luar yang masuk. Bangsa Korea sangat menjunjung tinggi keaslian keturunan sebagai identitas ras. Demi keaslian identitas ras, mereka sangat menghindari perkawinan campuran dengan bangsa lain, karena dengan bercampur dengan bangsa lain, artinya identitas Korea-nya hilang dan berarti mereka kalah. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang keras kepala dan “akan melakukan apa saja” untuk melindungi keaslian diri dan keluarga mereka dan cenderung menolak berkompromi dalam bentuk apapun.

Ancaman terhadap Korea datang dari China, Manchu (Jin/Jurchen), Mongol, Jepang, dan bajak laut Jepang. Sampai dengan masa2 awal Dinasti Koryo (918-1392) bangsa Korea masih mampu bertahan menghadapi invasi dari tetangga-tetangganya, terutama China. Tetapi ketika Mongol menyatukan China dalam Dinasti Yuan, Korea tidak bisa berbuat banyak selain mengakui China/Mongol Yuan sebagai negara “pelindung”nya. Meskipun demikian, Korea tetap mempertahankan kekeras kepalaannya dalam menjaga keaslian bangsa Korea dengan melarang percampuran antara bangsa asing dengan penduduk Korea. Ancaman lainnya datang dari Jepang di tahun 1592 dan 1597. Toyotomi Hideyoshi yang baru saja menyatukan Jepang melanjutkan ambisinya untuk menguasai China dengan menggunakan Korea sebagai batu loncatan. Jepang memang berhasil mendarat di semenanjung Korea (dan bahkan mencapai Seoul), tetapi armada Jepang dihancurkan armada Korea sehingga pasukan yang berada di darat terputus suplai logistiknya dan pada akhirnya dapat dikalahkan.

Selain keras kepala dalam mempertahankan identitas Korea-nya, bangsa Korea juga berkarakter kolektif dengan sesamanya. Ini juga tak lepas dari pengaruh invasi berulangkali yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk mempertahankan identitas bangsa. Sesama orang Korea dapat dengan mudah cepat akrab dan saling berbagi teritori pribadi. Mungkin inilah yang membuat Korea memimpin pasar game online, dibandingkan dengan Jepang yang merajai pasar game console.

Karakteristik bangsa Korea sebenarnya merupakan karakter khas bangsa semenanjung yang keras dan tanpa kompromi. Anda dapat lihat bangsa2 di semenanjung Balkan maupun semenanjung Indochina, meskipun berkali-kali diinvasi bangsa asing maupun saling menginvasi, mereka tetap mempertahankan identitasnya masing2 sebagai bangsa tersendiri. Kasus Korea, mereka telah dipersatukan terlebih dahulu di tahun 57 SM oleh Dinasti Shilla.

Jepang

Jepang merupakan negara kepulauan, dengan 4 pulau utama dan wilayah dikelilingi laut. Laut tersebut merupakan benteng alami, yang secara tidak langsung menyelamatkan Jepang dari invasi bangsa asing. Sepanjang sejarah, Jepang hanya takluk oleh bangsa asing pada akhir Perang Dunia II (yang oleh Commodor Perry di tahun 1854 cuma dipaksa membuka diri, belom takluk 😛 ). Invasi Mongol 2 kali tahun 1274 dan 1281 gagal total, salah satunya karena badai kamikaze yang “kebetulan” terjadi dan memporak-porandakan armada Mongol-Yuan.

Karena tidak pernah terusik invasi bangsa asing inilah, maka ancaman terbesar justru datang dari dalam. Orang2 Jepang tidak bisa lari kemana-mana jika terjadi pertempuran di antara mereka dan mau tidak mau harus bertarung sampai penghabisan. Karena itu, orang Jepang menerapkan karakter “damai” dalam kehidupan mereka. Sekitar abad ke-7, Pangeran Shotoku menciptakan Undang2 pertama buat Jepang yang terdiri dari 17 bab, dengan bab pertama berisi tentang keutamaan perdamaian dan keharmonisan. Tentu saja, untuk menjembatani semua pihak jika terjadi perselisihan, harus ada pihak/figur yang “berkekuatan dewa” yang “selalu benar“. Tetapi, tentu saja setiap ada orang dengan kekuatan muncul, pasti kekuatan lama akan ditantang untuk dilengserkan. Jika ini terus berlanjut, maka “perdamaian” yang diharapkan justru tidak akan terjadi. Oleh karena itu, kaisar Jepang yang merupakan “figur penengah” dianggap sebagai keturunan dewa untuk menjaga agar tetap ada “pemimpin dari langit” untuk dipuja rakyat. Sebenarnya kaisar tidak mempunyai kekuasaan apa2 terhadap negerinya. Adalah perdana menteri, kemudian menjadi shogun atau panglima militer tertinggi, yang memegang kekuasaan atas rakyatnya melalui pemerintahan bakufu (pemerintahan militeris). Lucunya, jabatan shogun ini juga diwariskan secara turun temurun 😀 . Sepanjang sejarah Jepang terdapat 3 generasi shogun yang berkuasa cukup lama, yaitu Kamakura/Minamoto (1185-1333), Ashikaga (1333-1573), dan Tokugawa (1600-1860).

Nah, untuk melaksanakan karakter “damai”, orang Jepang cenderung menghindari kontak dengan orang lain karena khawatir menyinggung perasaan. Ketika berkomunikasi dengan orang lain pun, mereka umumnya menggunakan bahasa yang sopan dan cenderung banyak basa basi. Ada istilah honne dan tattemae dalam komunikasi mereka, dimana honne adalah “maksud sebenarnya yang terkandung dalam hati” dan tattemae adalah “omongan yang diucapkan”. Jadi apa yang keluar di mulut belum tentu merupakan maksud sebenarnya. Saking terbiasanya orang Jepang berkomunikasi dengan mempertimbangkan “perdamaian“, mereka bisa saling mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya tanpa harus banyak bicara. Karakteristik ini mirip dengan penduduk pulau di manapun di bumi ini. Contohnya orang Inggris maupun orang Jawa. Mereka cenderung menghindari konflik antar sesamanya dan banyak berbasa-basi dalam berkomunikasi 😛 .

Selain karakter damai, bangsa Jepang juga berkarakter “harmonis” dengan pengaruh2 asing yang masuk ke kebudayaannya. Tidak seperti China yang langsung “melahap” semua pengaruh asing dalam kebudayaan Han bersatu ataupun Korea yang selalu keras kepala mempertahankan keaslian ke-Korea-annya, Jepang sangat fleksibel dalam menyikapi pengaruh luar. Mereka menyerap pengaruh luar, kemudian memprosesnya sedemikian rupa sehingga pengaruh luar itu cocok dengan mereka, dan menghasilkan hal baru yang berciri Jepang. Awalnya pengaruh luar yang datang dari China via Korea adalah Konfusianisme, yang digunakan sebagai filosofi pemerintahan oleh Jepang. Kemudian ketika Buddhisme datang, sudah ada kepercayaan lokal yaitu Shinto. Untuk menghindari konflik agama, maka pemerintah saat itu membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama apapun. Tiga aliran kepercayaan itu pun harus rela hidup berdampingan. Dan sebagai hasilnya, Konfusianisme menjadi filosofi pemerintahan, Shintoisme menjadi simbol negara, dan Buddha menjadi agama utama. Hal tersebut berlangsung sampai Restorasi Meiji di tahun 1868.

Contoh lain keharmonisan Jepang dalam menyikapi pengaruh luar, bisa kita lihat dalam kehidupan modern. Budaya natal, valentine, maupun menikah di gereja merupakan budaya barat yang jelas2 bernuansa Kristen. Tetapi meskipun penganut Kristen di Jepang tidak ada 1 % nya, budaya itu tetap saja populer di kalangan masyarakat Jepang. Tentu saja dengan sedikit perubahan khas Jepang, seperti hanya cewek yang memberi coklat kepada cowok yang disukainya pada valentine maupun malam natal yang biasa dijadikan “malam pribadi” bersama pasangan 👿 .

xixixi…

Jadi, meskipun luarnya tampak sama tapi setelah dilihat dalemnya ternyata berbeda kan.. :mrgreen: Hal yang sama dapat terlihat di Eropa, dengan memposisikan Prancis sebagai China, Inggris sebagai Jepang, dan negara2 Balkan sebagai Korea ^_^’.

Dan ada trivia unik, mayoritas penduduk di Korea saat ini justru penganut Kristen (41%), melebihi penganut Buddha. Di seluruh Korea (selatan) terdapat 10 ribu gereja, hal yang cukup jarang terlihat di negara Asia. Sepertinya mereka beramai-ramai memeluk Kristen ketika misionaris datang pasca perang Korea (1950), dengan pengharapan menemukan tempat pelarian spiritual setelah tercerai berai karena perang. Kehidupan beragama masyarakat Korea saat ini masih terjaga dengan baik, meskipun dalam praktiknya mereka banyak mencampurkan antara ajaran Kristen, Buddha, dan kepercayaan lokal. Tidak seperti di Jepang yang mulai “mendewakan” rasionalisme maupun di China yang komunis. Benar2 bangsa2 yang menarik 😀

p.s. artikel ini merupakan pendapat pribadi saya saja, dengan kompilasi berbagai sumber yang tertulis di bawah 😉

sumber : Microsoft Encarta, Korea Unmasked (Won-bok RHIE), Age of Empire II

Jenderal Huo

Di suatu jaman di China kuno…

Enam orang murid sedang berjalan dalam perjalanan menuju ibu kota untuk mengikuti ujian negara. Ketika mereka berjalan di sepanjang Sungai Bian pada suatu sore, tiba-tiba selusin perampok muncul dari semak-semak dan mengepung mereka. Para murid ketakutan. Tetapi salah seorang murid yang tinggi dan kuat serta pandai bergulat, yang dijuluki Jenderal Huo, maju menghadapi para perampok.
Huo meminta teman-temannya tidak panik dan tetap berdiri di situ sementara dia sendirian menghadapi para perampok itu. Huo bertarung tanpa rasa takut, dia memukul lutut para perampok itu dengan tongkat dan mematahkan kaki mereka. Tak lama berselang semua perampok itu terkapar di tanah.
Para murid kemudian melaporkan hal itu ke kantor polisi terdekat yang terletak beberapa mil dari situ. Ketika polisi sampai di tempat itu, kebanyakan perampok masih terkapar dan mengeluh kesakitan.
Kelima murid yang lain sangat berterima kasih kepada Huo. “Terima kasih banyak! Jika anda tidak bersama kami, kami bakalan celaka.”
“Tidak juga,” jawab Huo. “Jika saya sendirian, saya mungkin tidak akan menang. Dengan keyakinan kalian berdiri di belakang saya, saya menjadi tidak perlu khawatir akan apa yang ada di belakang saya. Dan meskipun kalian tidak ikut berkelahi, keberadaan kalian memberi banyak keberanian pada diri saya. Itulah sebabnya saya dapat mengalahkan mereka.”

Kisah itu saya ambil dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang (gramedia). Perkataan Huo menjelaskan apa yang menyebabkan berpengaruhnya faktor kandang-tandang dalam pertandingan olahraga, dan pentingnya teman dalam negosiasi bisnis.
Tetapi, baru-baru ini ketika saya nonton Thomas & Uber Cup di TV, salah satu komentator yaitu bung Ricki Subagja (idola saya jaman SD dulu 😀 ) menyatakan bahwa suporter bisa menjadi penyemangat, tetapi bisa juga menjadi beban mental bagi si atlet yang didukung. Nah lo…

Apapun itu, terus terang saya memang merasa lebih nyaman melakukan sesuatu yang penting jika bersama dengan orang lain (biasanya yang cukup ahli di bidang itu 😀 bawaan tipe 5 eneagram nih)

jika burung ngga mau berkicau?

Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?
Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Sajak di atas adalah deskripsi mengenai tiga laki-laki yang hidup di jaman Sengoku Era*, pada akhir keshogunan* Ashikaga di akhir abad 16 di Jepang. Tiga pria tersebut sama-sama bercita-cita ingin mempersatukan Jepang, dikenal memiliki karakter yang sangat mencolok. Sesuai dengan deskripsi sajak tersebut : Nobunaga, gegabah, tegas, brutal; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar, penuh perhitungan.

Kalimat-kalimat di atas saya ambil dari buku Taiko, novel epik tentang perang dan kemenangan pada jaman feodal Jepang. Memang, dalam buku itu tokoh utamanya adalah Toyotomi Hideyoshi, yang sukses menyatukan Jepang di bawah pemerintahannya.
Tetapi, saya punya komentar sendiri tentang sajak di atas tersebut :

  • Orang yang gegabah dan brutal merupakan orang yang kemungkinan cepat matinya paling besar, sudah dibuktikan oleh Nobunaga yang mati di usia 50 karena bunuh diri waktu dikepung oleh pasukan Akechi Mitsuhide yang memberontak.
  • Orang yang berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mencapai tujuannya akan mencapai sukses sesuai apa yang diusahakannya. Hideyoshi sudah membuktikan bahwa dari seorang pembawa sandal Nobunaga, ia bisa menjelma menjadi penguasa mutlak negeri Jepang dan digelari Sang Taiko.
  • Tetapi sejarah membuktikan bahwa orang yang sabarlah yang mampu menjadi penguasa Jepang dan mendirikan rezim yang bertahan selama lebih dari 200 tahun. Ya, Tokugawa Ieyasu sukses mendirikan keshogunan Tokugawa, dikenal sebagai jaman Edo, yang bertahan sampai tahun 1850an. Hideyoshi sendiri sudah keburu mati tua saat pasukannya masih sibuk berperang menginvasi Korea, yang akhirnya gagal. Sepeninggal Hideyoshi, Ieyasu, yang tidak ikut ambil bagian dalam invasi ke Korea sehingga pasukannya relatif masih utuh, mengambil kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan dengan membentuk blok timur dan berperang dengan blok barat pengikut klan Toyotomi, dengan pertempuran Sekigahara sebagai puncaknya. Pertempuran itu dimenangi Tokugawa Ieyasu dan diapun menjadi Shogun Tokugawa pertama.

Kesimpulan, pepatah orang sabar disayang Tuhan memang ada benarnya 😀 hehe…

*Sengoku Era, periode negara-negara (lebih tepat disebut propinsi feodal) berperang di Jepang. Periode ini secara umum terjadi pada tahun 1573 saat keshogunan Ashikaga mulai melemah sampai tahun 1602 saat Ieyasu keluar sebagai pemenang.

*Shogun, pemimpin besar militer, semacam panglima tertinggi (fuhrer) yang menguasai militer Jepang pada masa Feodal. Keshogunan (Shogunate) adalah semacam pemerintahan junta yang menguasai seluruh Jepang (yang kekuasaannya lebih sering melebihi kaisar). Jabatan shogun diwariskan kepada keturunannya, seperti halnya kaisar.