Archive for the 'Cerita Sejarah' Category

Seandainya Bangsa Eropa Tidak Datang ke Nusantara

Preambule:

Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah diklat, dan tulisan di bawah ini adalah salah satu tugas diklat tersebut. Iseng-iseng saya posting aja di blog ini, biar ada postingan :mrgreen:

————–

Indonesia menganut azas uti possidetis juris, prinsip di mana suatu negara yang baru merdeka mewarisi wilayah bekas penjajahnya. Indonesia adalah bekas wilayah jajahan Belanda. Wilayah Indonesia saat ini merupakan bekas wilayah Hindia Belanda. Belanda pernah menyepakati traktat perjanjian (treaty) dengan Inggris di Pulau Kalimantan dan Papua dan dengan Portugis di Pulau Timor terkait pembagian wilayah jajahannya. Itulah mengapa Indonesia memiliki batas darat dengan negara lain, yaitu Malaysia di Pulau Kalimantan, Papua Nugini di Pulau Papua, dan Timor-Leste di Pulau Timor (meskipun yang disebut terakhir sepertinya agak sensitif di mata beberapa kalangan).

Apa yang kira-kira terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke Nusantara? Bangsa Eropa pertama yang datang ke nusantara adalah Portugis. Pada tahun 1511 Portugis bahkan berhasil menguasai Malaka, yang pengaruhnya terbentang dari Semenanjung Malaya ke sebagian Pulau Sumatera. Mari kita asumsikan tahun 1511, atau sekitar awal abad XVI, sebagai titik awal perandaian kita.

Bagaimana kondisi geopolitik di nusantara pada sekitar tahun 1511? Di Pulau Jawa terdapat beberapa kerajaan, baik lama maupun baru. Di bagian timur, Kerajaan Majapahit sudah berada di ujung keruntuhannya. Agak ke barat Kerajaan Demak sedang bersiap memberi pukulan penghabisan kepada Majapahit. Lebih ke barat lagi terdapat Kesultanan Cirebon yang baru melepaskan diri dari Kerajaan Sunda.

Di Pulau Sumatera, Kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh bersaing berebut pengaruh di bagian utara. Di bagian tengah terdapat Kerajaan Pagaruyung (Minangkabau) dan Kerajaan Palembang. Sebagian besar wilayah di bagian tengah Sumatera berada di bawah pengaruh Kesultanan Malaka. Sedangkan di bagian selatan berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda.

Di Pulau Kalimantan, Kerajaan Brunei menguasai bagian utara pulau tersebut. Pengaruh Brunei saat itu juga mencapai pesisir Kalimantan dan sebagian Filipina. Selain Brunei, terdapat Kerajaan Kutai Kertanegara dan beberapa kerajaan Melayu lainnya. Suku Dayak yang bermukim di bagian pedalaman pulau relatif tidak terlalu tersentuh oleh pengaruh kerajaan-kerajaan di pesisir pantai Kalimantan.

Di bagian timur nusantara relatif sedikit memiliki catatan sejarah sebelum abad keenambelas. Kerajaan Gowa masih baru tumbuh di Sulawesi bagian selatan. Di sebelah timurnya Kesultanan Ternate sudah memiliki pengaruh sampai ke bagian timur Sulawesi dan bagian barat Papua.

Dengan gambaran geopolitik yang demikian, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi jika bangsa Eropa tidak pernah datang ke nusantara. Pertama, kerajaan-kerajaan tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kekayaan alamnya masing-masing. Kerajaan dengan sumberdaya alam miskin akan runtuh dengan sendirinya dan mungkin “bergabung” dengan kerajaan di sekitarnya yang lebih kaya. Kerajaan kaya akan tumbuh menjadi kekuatan besar dan menarik kerajaan-kerajaan di sekitarnya untuk tunduk dalam sistem upeti (tributary vassal) atau melebur ke wilayahnya. Hasilnya adalah akan ada banyak sekali negara di nusantara, dengan kekuatan maupun ukuran yang bervariasi.

Kedua, kerajaan dengan sumberdaya tinggi akan menguasai kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Politik penaklukan cukup lazim dilakukan di zaman itu. Kerajaan-kerajaan kecil akan tersapu dengan sendirinya. Ketika kondisi sudah mencapai status quo di mana kerajaan-kerajaan yang tersisa memiliki kekuatan relatif seimbang, kemungkinan akan terjadi aliansi antarkerajaan. Aliansi ini bisa didasarkan pada kesamaan bahasa, budaya, ataupun agama. Hasilnya di nusantara akan terdapat beberapa negara yang cukup besar, setidaknya seukuran lima sampai sepuluh provinsi.

Ketiga, kelanjutan ekstrim dari skenario kedua. Kerajaan dengan kekuatan paling tinggi akan berusaha menaklukan seluruh nusantara. Dalam usaha penaklukannya bisa saja keraajan tersebut menggandeng kerajaan lain dalam suatu aliansi. Setelah seluruh nusantara disatukan barulah kue kekuasaan dibagi di antara dua (atau lebih) kerajaan tersebut. Hasilnya akan ada satu negara besar di nusantara ini.

Dari ketiga skenario tersebut, manakah yang menurut Anda paling mungkin terjadi?

Palembang Trip

Beberapa hari yang lalu, saya sempat jalan-jalan ke Palembang untuk urusan “kampus”. Kebetulan, di kota ini ada temen “otaku” sekaligus tetangga kos saya jaman di Jogja dulu. Jadi, setelah urusan “kampus” selesai, saya sms nodong dia minta diajak jalan-jalan :mrgreen: hehehe…

Sialnya, dia juga bingung kalo disuruh jadi guide buat jalan-jalan. Akhirnya kami jalan-jalan ke jembatan Ampera yang menyeberangi Sungai Musi. Jembatan yang pernah menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini dibangun dengan dana pampasan perang Jepang. Dulunya bagian tengahnya bisa diangkat-turunkan untuk lewat kapal di Sungai Musi, tapi karena mengganggu lalulintas jalan di atasnya maka sejak tahun 1970 tidak diaktifkan lagi mekanisme naik-turunnya.

ampera

ampera lagi

Continue reading ‘Palembang Trip’

Rise and Rise Again Until The Lambs Become Lions

Long weekend kemarin, saya iseng pergi nonton dua film kolosal dua hari berurutan, Prince of Persia Sands of Time (PoP) dan Robin Hood (RH), sendirian :P. Ga usah tanya kenapa saya nonton sendirian, yg jelas libur dari Kamis sampai Minggu benar-benar membutuhkan hiburan visual karena kebetulan minat baca saya sedang turun :P.

Ekspektasi saya terhadap 2 film tersebut malah kebalik :P. Saya mengharapkan sesuatu yang “wah” dari PoP, tapi malah kesan yang didapat biasa-biasa saja. Sebaliknya, saya rada pesimis dengan RH setelah liat trailer-nya di TV, tapi saya malah bener-bener terkesan dengan jalan ceritanya :mrgreen:.

Nah, saya pengen nyeritain sesuatu yang nongol di film RH, tentang om Robin itu sendiri, sepak terjang abang John, dan piagam persamaan hak yang disebut-sebut di film tersebut, yang saya curiga adalah Magna Carta :mrgreen:

(warning spoiler, meskipun ga semua!)

Continue reading ‘Rise and Rise Again Until The Lambs Become Lions’

East Java Trip

Sebulan yang lalu saya sempat main ke beberapa daerah di Jawa Timur. Berikut ini beberapa lokasi yang lumayan menarik perhatian :D.

Gunung Pegat, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan

Komentar saya ketika pertama kali datang ke situ, “Wuih, kayaknya keren kalo dijadiin setting film kungfu” 😛

bukit yang keliatan keren

Merupakan perbukitan karst/kapur, yang sudah berubah bentuk karena ditambang kapurnya. Material batuannya berupa dolomit dan napal. Umumnya kapur yang ditambang diolah untuk dijadikan bata putih, yang konon lebih murah dan lebih ringan dari bata merah. Kebanyakan rumah di daerah yang saya lewati memang menggunakan bata putih untuk temboknya.

Oiya, menurut senior saya, konon perbukitan itu mendapatkan nama “Gunung Pegat” karena selalu memakan korban pegat (putus)nya pasangan yang kencan di bukit tersebut. Senior saya bilang, ketika kuliah lapangan ke daerah tersebut, ada 3 pasangan di angkatannya. Mereka dengan sengaja foto-foto di bukit tersebut meskipun tahu “kutukan”nya. Dan apa hasilnya? Tidak ada yang bertahan sampai sekarang :P. Yang lucu, salah satu teman dia masih menggunakan foto di Gunung Pegat tersebut sebagai profil foto di akun friendsternya ketika terakhir kontak :P.
Percaya atau tidak terserah anda :P.

__

Candi Tikus, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto

Salah satu situs arkeologi yang ditemukan di Trowulan. Candi ini diduga merupakan situs pemandian jaman Majapahit. Candi ini juga merupakan bagian dari kanal kuno Majapahit, yang terletak menyebar di beberapa lokasi di Trowulan. Ibukota Majapahit memang diduga kuat ada di Trowulan, tapi di mana pastinya letak istananya masih belum ada yang bisa memastikan.

Mengenai kenapa namanya Candi Tikus, konon karena penemuannya. Candi ini ditemukan ketika penduduk sibuk berburu tikus yang menggerogoti sawahnya. Ketika memburu tikus sampai ke lubang-lubangnya tanpa sengaja malah menemukan reruntuhan candi tersebut, dan banyak ditemukan tikus juga ketika ditemukan, sehingga dinamai Candi Tikus.

Lanjutan kanalnya ditemukan di 2 tempat, satu ladang jagung dan lainnya di tengah pinggir jalan. Ditemukan oleh perajin batu bata ketika menggali tanah untuk bahan baku bata. Jaringan kanalnya sendiri kebanyakan sudah menjadi persawahan, jarang yang terlihat bentuknya sebagai kanal.

lanjutan kanal

__

Jembatan Suramadu

jembatan suramadu

Yang ini murni iseng ndeso pengen nyobain nyeberang Surabaya-Madura pake alat transportasi darat :mrgreen:

Burjopun Punya Cerita

Tadi sore ada teman saya yang bilang akan datang ke kosan saya untuk numpang menyetrika malam ini. Setelah sudah lama ditunggu dan dia tak kunjung datang juga, sementara naga di perut saya sudah mulai berdemo, maka sayapun ngesot ke warung burjo dekat kosan saya untuk makan malam :P. Sengaja saya ke burjo yang letaknya agak jauh, karena tadi siangnya sudah makan di burjo baru di depan kosan saya persis :D. Nah, ternyata keputusan saya tepat, karena saya mendapat sebuah cerita yang cukup menghibur di sana ;).

Berawal dari saya dan bapak (ternyata masih lumayan muda, meskipun mukanya sudah bapak2 :P, karenanya selanjutnya saya sebut Aa’ saja ^^’) penjaga burjo itu yang terpingkal-pingkal menonton acara Opera van Java di TV, yang kebetulan temanya memparodikan kisah Manohara dan prahara Malaysia-nya. Ketika jeda iklan, sang sinden melantunkan lagu lama yang dulu dinyanyikan oleh band Malaysia-an bernama Exist yang judulnya saya lupa :P. Saya nyeletuk, “Ini lagu Malaysia-an jaman dulu kan?” Kata si Aa’, “Iya. Dan saya inget banget lagu ini karena ada kenangan sedih.” Singkat kata, dia menceritakan di masa SMA-nya (ketika lagu tersebut sedang populer) dia itu anak yang tidak suka musik dan tidak bisa menyanyi. Tetapi entah mengapa dia dipaksa untuk menyanyikan lagu tersebut, dan berakhir dengan dia terpaksa menyanyikannya sampai menangis karena saking ngga bisa dan ngga maunya. Nah, kemudian cerita berlanjut, kalau dia itu termasuk orator saat masa sekolah, dan berlanjut ketika kuliah di Jogja.
Ketika kuliah di Jogja inilah, si Aa’ mulai berkenalan dengan dunia aktivis kampus. Ketika itu suhu politik Indonesia sedang panas-panasnya, tahun 1998. Dia menceritakan pengalamannya beberapa kali diskusi dengan tokoh-tokoh aktivis, demo di sana-sini, diciduk aparat, menyaksikan gugurnya seorang mahasiswa :|, sampai jadian dan bermesraan dengan cewe’nya saat berdemo ^^.

Beberapa pengalaman uniknya yang cukup berkesan buat saya di antaranya (bisa jadi tidak berurutan kronologisnya) :

Dalam suatu perkumpulan merencanakan demonstrasi, dia diberitahu oleh temannya bahwa ada 2 orang intel polisi yang menyusup di antara para aktivis tersebut. Maka berita itupun disebarkan dengan diam-diam ke seluruh aktivis tanpa melibatkan si intel. Ketika tiba kesempatan, 2 intel tersebut “diciduk” dan digebukin rame-rame oleh para aktivis tersebut 😆

Dalam suatu demonstrasi, si Aa’ sempat bercakap-cakap dengan salah seorang mahasiswa, meskipun belum kenal namanya. Kemudian, ketika terjadi bentrok dengan aparat dan dimulai “pembersihan”, merekapun lari kocar-kacir cari selamat lebih dulu. Si Aa’ pun tak ketinggalan. Ketika dia berlari, dia mendengar ada seseorang yang jatuh di belakangnya. Dia hendak menolong, tapi ditarik oleh temannya yang mengatakan, “Yang penting selamat dulu! Nanti kalau sudah aman baru kita balik lihat keadaan!” Diapun terpaksa ikut lari diseret oleh temannya itu. Ketika keadaan sudah aman, tersebarlah kabar bahwa ada mahasiswa yang meninggal. Si Aa’ pun merasa, jangan-jangan itu tadi orang yang jatuh di belakangnya. Dan ketika dia melihat wajah sang korban, ternyata itu adalah mahasiswa yang sempat bercakap-cakap dengannya sebelum ada “pembersihan” oleh aparat. Dan sepertinya memang dia yang jatuh di belakang si Aa’ ketika kabur tadi.
Mahasiswa itu bernama Moses Gatotkaca. Kalau tertarik dengan kisah Moses, bisa baca-baca di sini. Untuk menghormatinya sebagai salah satu pahlawan reformasi, ruas jalan Kolombo diubah namanya menjadi Jalan Moses Gatotkaca mulai tanggal 20 Mei 1998. (Tapi setau saya kok jalan Sagan ya yg jadi jalan Moses Gtotkaca 😕 😛 Dan saya bener-bener baru tau waktu itu ketika diceritain oleh Aa’ burjo itu tentang sejarah jalan Moses Gatotkaca itu ^^’)

Dalam setiap demonstrasi, si Aa’ selalu membawa tas kecil yang berisi ban tangan berlambang PMI :P. Jadi kalo situasi memburuk, cepat-cepat dia kenakan ban itu dan dia bisa kabur dengan tenang, terutama di tengah hujan peluru karet dan gas air mata ^^’. Awalnya teman-temannya menyindir dan menghina taktiknya, tetapi setelah terbukti efektif malah teman-temannya pada ikut-ikutan memakai taktik itu :P.

Dalam suatu demonstrasi besar-besaran di alun-alun kidul/selatan (dia bilang demo sejuta umat), para mahasiswa bergerak dari balairung UGM menuju alkid (alun-alun kidul) dengan berjalan kaki, kira-kira ada 6-7 km. Di sepanjang jalan banyak masyarakat yang memberikan minuman maupun makanan untuk para mahasiswa. Kata si Aa’, kalau yang diberikan oleh warga sih gampang ngambilnya, karena sudah ditata di meja dan tinggal ambil saja di pinggir jalan. Nah, katanya yang repot kalau mengambil yang diberikan oleh pegawai kantor dan bank. Harus masuk-masuk dulu ke kantornya, terkadang sampai naik-naik 2-3 lantai :P. Toh namanya diberi ya diterima saja. Si Aa’ dan ceweknya bertugas sebagai seksi konsumsi, yang mengurusi perbekalan dan konsumsi para mahasiswa yang berupa nasi bungkus. Bekal dan bantuan dari warga pun dibagikan, sementara itu cewek si Aa’ ini menyisakan 2 bungkus nasi untuk mereka. Ternyata ada satu orang yang belum kebagian, sehingga diberikanlah satu bungkus kepadanya, biar si Aa’ dan cewe’nya sebungkus berdua ^^’. Nah, ketika mahasiswa lain memasuki alkid, si Aa’ dan cewe’nya sudah duduk di sebuah taman untuk menikmati nasi bungkus. Tiba-tiba seorang mahasiswa yang mengenalinya sebagai seksi konsumsi meminta jatah bagiannya. Yowis, nasi yang tinggal satu bungkus dan belum sempat dimakan itupun diberikannya. Akhirnya demo besar-besaran itupun bubar juga, dan si Aa’ digamit cewe’nya untuk kabur dari situ ke kos-kosan si cewe, untuk masak mie rebus karena sedari pagi belum makan ^^’. Kos-kosan si cewe’ ada di daerah Jetis, dan mereka berjalan kaki dari alkid sampai daerah Jetis, kira-kira ada 5 km. Dan si Aa’ pun kemudian diantar sampai ke kos-kosannya di daerah Pogung menggunakan kendaraan. Wew, romantisme memang jarang tepat waktu :P.

Ini kejadian yang paling membuat saya ngakak. Konon nama si Aa’ sudah termasuk daftar orang yang berpotensi diciduk oleh aparat. Suatu ketika di masa reformasi itu, Jogja sedang musim kering. Air kekurangan di mana-mana. Si Aa’ pun terpaksa menumpang mandi di kampus dekat kos-kosannya dengan diam-diam, demi menghindari cidukan aparat juga. Ternyata salah seorang teman aktivis si Aa’ sudah tertangkap, dan dia “bernyanyi” menyebut nama dan alamat si Aa’ ini. Otomatis dilacak ke kos-kosan si Aa’ dan ketahuanlah kalau dia sedang mandi di kamar mandi kampus dekat kosannya. Pintu kamar mandi digedor-gedor oleh aparat, sementara si Aa’ yang belum menyadari cuma menyahut, “Iya, tar dulu! Airnya masih banyak kok!”
Ketika gedoran di pintu bukannya berhenti tetapi semakin banyak, diapun membuka pintu sedikit dan menongolkan kepalanya keluar. Seketika itu laras senapan sudah ditodongkan ke kepala dan lehernya. Tentu saja dia kaget, dan setelah menyadari sitausinya diapun minta ijin meneruskan mandi dulu. Mulanya oleh aparat penciduk tidak boleh, tapi si Aa’ bersikeras, “Emangnya ini jaman PKI, masa mandi aja ngga boleh? Saya ngga bakal kabur ke mana juga, orang di kamar mandi ini kok!” Akhirnya dia dibolehkan menyelesaikan mandinya.
Sesampainya di pos penjagaan aparat, dilihatnya teman yang tadi “bernyanyi” itu, dan si Aa’ langsung paham kalau temannya itu yang membocorkan alamatnya. Temannya itu mengaku kalau memang dia “bernyanyi” setelah digebukin, tapi dia juga mengatakan akan bertanggung-jawab. Ketika diberi kesempatan menelpon keluarga dan kerabat, si teman itu menelpon kakaknya, yang ternyata tentara berpangkat sersan di Solo ^^’. Akhirnya sang sersan datang membereskan masalah dan merekapun “dibebaskan” setelah diperingatkan dengan keras oleh aparat dan dimarahi habis-habisan oleh sang sersan ^^’.
Di lain waktu ketika si Aa’ sedang membeli susu, tiba-tiba saja ada razia aktivis, dan diapun ikut keciduk meskipun sudah beralasan “tidak sedang demo”. Sesampainya di pos penjagaan, sang kepala pos sudah hapal dengan si Aa’ sehingga tanpa ragu dia langsung membebaskan dia karena malas berurusan dengan sang sersan kakak temannya :P.
Lucunya, ini yang bikin saya ngakak, beberapa waktu kemudian muncul lagu “Waktuku Mandi” dari Jamrud yang menceritakan penangkapan di kamar mandi :lol:. Si Aa’ sampe komentar, “Ini lagu meniru kisah siapaa ini?” dan dia selalu saja merasa aneh dan lucu kalau mendengar lagu itu 😆

Nah, sepertinya itu saja yang dapat saya ceritakan ^^. Sayang si Aa’ tidak melanjutkan kuliahnya. Katanya sih dia ambil kuliah di 3 kampus (entah bebarengan atau tidak), tapi tiga-tiganya tidak ada yang diselesaikan. Katanya sih terlalu egois ambil 3 kuliah sementara orangtua masih terbebani. Maka dia pun lebih suka mencari duit ketimbang kuliah, dan sekarang menjadi pengusaha burjo ^^. Yah, pengalaman hidup tiap orang memang beda-beda, tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran darinya 😉

Kapel Bayi

Postingan ini saya buat karena sudah janji kepada mbak Jutek di plurk untuk menuliskan isi “ceramah” ngga genah saya kepada mbak Rukijem tentang Kapel Bayi :mrgreen:

Cerita ini saya ambil dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang. Berikut ini adalah cerita lengkapnya …

Pada zaman dinasti Ming, terdapatlah sebuah biara yang bernama Kuil Lotus dan terletak di kota Nanning di bagian selatan China. Kuil itu memiliki luas beberapa ribu meter persegi dan sejumlah besar bangunan. Ada sekitar ratusan biksu tinggal di kuil tersebut. Pengunjung yang datang biasanya diajak berkeliling dan dilayani dengan sebaik-baiknya.
Yang terkenal dari kuil ini adalah Kapel Bayi-nya. Seorang wanita yang menginginkan anak dapat menjadi hamil jika dia berdoa semalaman di sana. Syaratnya adalah wanita yang datang untuk berdoa haruslah masih muda dan sehat. Mereka harus berpuasa dulu 7 hari di rumah sebelum berdoa di kuil. Di dalam kuil, setiap wanita harus berkonsultasi dulu dengan tongkat suci. Jika diramal bagus oleh tongkat suci, wanita itu boleh menginap semalam di sebuah kamar di Kapel Bayi untuk berdoa sendirian. Jika ramalannya tidak bagus, para biksu akan meminta wanita itu untuk berdoa sungguh2 dan kembali ke rumah dan mulai berpuasa selama 7 hari lagi.
Kamar2 di Kapel Bayi tidak berjendela. Ketika seorang wanita masuk ke kamar itu semalaman, para biksu menyarankan seorang anggota keluarganya untuk berjaga di luar pintu. Kebanyakan wanita2 tersebut hamil dan melahirkan bayi yg sehat setelah berdoa di situ.
Kuil itu sangat terkenal sehingga tidak hanya keluarga di dekat situ yang tertarik untuk berdoa di Kapel Bayi. Setiap hari ada sekumpulan orang pergi bersembahyang di biara itu dan membawa berbagai macam sesajian. Ketika para wanita itu ditanya bagaimana Buddha mengabulkan doa mereka, beberapa dari mereka menjawab bahwa Buddha memberitahu mereka di dalam mimpi bahwa mereka akan segera hamil, beberapa lainnya malu2 dan menolak mengatakan apa2. Beberapa dari para wanita itu tidak pernah lagi datang ke tempat itu, sementara beberapa lainnya rutin datang ke biara itu.
Kabar ini terdengar  oleh gubernur baru di distrik itu, Wang Dan. Gubernur Wang merasa curiga, “kenapa para wanita harus menginap semalaman di kuil?”
Diapun  pergi ke sana untuk melihatnya sendiri. Tempat itu cukup ramai, dengan dekorasi biara yg cerah dan dikelilingi oleh pohon cemara yg tinggi. Ketika salah seorang biarawan melihat sang gubernur, dia segera memanggil kepala biara dan mengadakan parade untuk menyambutnya. Setelah selesai membakar dupa dan berdoa di hadapan patung Buddha, gubernur Wang berkata kepada sang kepala biara, “Saya mendengar kemasyhuran kuil suci ini, dan bermaksud merekomendasikan anda kepada kaisar untuk menjadi kepala seluruh biarawan di distrik ini.”
Kepala biara sangat senang mendengarnya.
“Saya mendengar Kapel Bayi anda bisa menghasilkan keajaiban, bagaimana cara kerjanya?”
Kepala biara menjawab bahwa para wanita diwajibkan untuk berpuasa selama 7 hari dan apabila mereka benar2 tulus, doa mereka akan terwujud saat bermalam di Kapel Bayi. Gubernur Wang kemudian menanyakan apakah Kapel Bayi dijaga pada malam harinya. Para biarawan menerangkan bahwa tidak ada jalan masuk selain pintu menuju ruang doa, dan ada anggota keluarga yg diminta berjaga semalaman di luar ruangan.
“Kalau begitu,” kata gubernur, “saya juga ingin mengirimkan istri saya kemari.”
“Jika tuanku menginginkan anak,” kata kepala biara, “Istri tuan tidak perlu datang kemari. Cukuplah berdoa sungguh2 di rumah dan saya yakin akan dikabulkan.”
“Tetapi mengapa wanita lain harus datang ke sini?”
“Ketika orang terhormat seperti tuanku gubernur berdoa, saya yakin Buddha akan mendengar doanya secara khusus.”
“Terima kasih,” kata gubernur. “Saya ingin melihat ruangan ajaib itu.”
Ruang aula dipenuhi pengunjung yang berdoa di depan patung Dewi Kuanyin, Dewi Kebajikan, dengan seorang bayi di kedua tangannya dan 4 bayi di sekitar kakinya. Setelah membungkuk sejenak kepada Dewi Kebajikan, gubernur Wang mengunjungi ruang doa. Seluruh ruangan berkarpet. Ranjang, meja, dan kursi sangat bersih dan tertata rapi. Satu2nya pintu masuk hanyalah pintu. Tidak ada retak sedikitpun di dinding sehingga bahkan seekor tikuspun tidak bisa masuk.
Gubernur Wang kemudian pulang dengan masih memendam rasa penasaran tentang keajaiban Kapel Bayi. Dia kemudian menyuruh sekretarisnya untuk membawa dua pelacur kepadanya.
“Minta mereka berpakaian seperti ibu rumah tangga. Kamu sewa mereka dan kirim mereka untuk menginap semalam di Kuil Lotus. Berikan salah satu dari mereka sebotol tinta hitam dan yang lainnya sebotol tinta merah. Jika ada orang mendekati mereka suruh mereka untuk menandai kepala orang tersebut dengan tinta itu.”
Sekretarisnya menemukan 2 pelacur, Zhang Mei dan Li Wan. Sekretaris itu dan seorang pejabat pemerintahan kemudian menyamar sebagai suami kedua pelacur tersebut dan membawa mereka ke biara.

Selain 2 wanita tersebut, ada sekitar selusin wanita yang hendak berdoa di Kapel Bayi. Pada jam 8 malam, semua ruangan dikunci dan anggota keluarga berjaga di luar ruangan. Semua biarawan kembali ke ruangan mereka. Zhang Mei menanggalkan pakaiannya, memadamkan lilin, dan berbaring di tempat tidur. Pada pukul 10, bel berbunyi dan kesunyian kemudian menyelimuti kuil tersebut. Tiba2 Zhang Mei mendengar suara dari bawah ruangan. Kemudian dia melihat salah satu papan lantai bergeser dan seseorang berkepala gundul muncul dari bawah. Itu adalah kepala seorang biarawan.
Zhang Mei tidak bergerak. Biarawan itu berjinjit ke samping ranjang, menanggalkan jubahnya, dan menyusup ke ranjang. Zhang Mei merasakan biarawan itu memegangi kakinya.
“Anda siapa?” tanyanya, mencoba mendorongnya pergi. “Ini adalah kuil suci.”
“Saya dikirim oleh Buddha untuk memberimu anak,” sang biarawan berbisik sambil memeluk erat Zhang Mei.
Merekapun mulai bermain cinta. Rupanya biarawan itu sangat tinggi staminanya sehingga Zhang Mei yg pelacur berpengalaman pun sampai kewalahan. Ketika selesai, Zhang Mei mengoleskan tinta pada kepala si biarawan tanpa ketahuan. Sebelum pergi, biarawan itu memberikan bungkusan kecil.
“Ini adalah pil untuk membantu anda hamil. Minumlah 3/10 ons tiap pagi dengan air selama seminggu dan kamu akan mempunyai anak.”
Kemudian biarawan itu pergi, dan Zhang Mei terkantuk kelelahan. Beberapa saat kemudian dia disentuh oleh seorang biarawan.
“Apa? Kamu lagi?” teriaknya, mengira kalo itu biarawan yg sama. “Saya lelah.”
“Saya adalah orang lain. Saya akan membuatmu merasa bahagia,” kata biarawan itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. “Minumlah pil ini, maka kamu akan merasa segar sepanajng malam.”
Setelah minum pil itu, Zhang Mei merasa seluruh tubuhnya dialiri keangatan yg menyeluruh. Sama seperti biarawan pertama, Zhang Mei juga mengoleskan tinta merah ke kepala si biarawan. Biarawan itu tidak pergi sampai menjelang subuh.
Sementara di kamar lain, Li Wan juga mengalami kejadian serupa. Dia didatangi 2 biarawan secara bergiliran, dan diberi pil pelancar hamil serta pil pelancar bercinta. Li Wan pun tidak lupa memberi tanda ke kepala 2 biarawan yg mendatanginya.
Gubernur Wang meninggalkan kediamannya sekitar pukul 4 pagi disertai seribu pasukan polisi menuju Kuil Lotus. Ketika tiba di biara, mereka mengumumkan kedatangannya dengan memukul pintu keras2. Gubernur langsung menuju ke kediaman kepala biara, yg ternyata sudah bangun. Gubernur Wang lalu memerintahkan membawa surat ijin kuil dan mengumpulkan seluruh biarawan ke halaman depan kuil.
Kepala biara yg panik segera membunyikan bel dan beberapa saat kemudian seluruh biarawan telah berkumpul. Gubernur kemudian memerintahkan pasukannya memeriksa kepala para biarawan. Dua di antara mereka ditemukan tinta merah di kepalanya, sementara dua lainnya tinta hitam.
“Dari mana kalian mendapat tanda itu?” tanya gubernur.
Keempatnya bingung.
“Mungkin ada seseorang yg iseng terhadap kami.”
“Baiklah. Akan kutunjukkan siapa yg iseng.”
Kemudian kedua pelacur itu dibawa masuk. Mereka menceritakan kepada gubernur apa yg terjadi. Seluruh biarawan menjadi panik. Beberapa wanita juga diinterogasi, beberapa mencoba menyangkal. Dari pemeriksaan seluruh badan, ditemukan pil yg sama seperti yg diterima dua pelacur tadi. Para suami menjadi sangat marah dan membawa istri2nya pulang.
Sebuah penyelidikan mengungkapkan bahwa para biarawan sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Para wanita haruslah bertubuh sehat dan masih muda, dan para biarawan harus memiliki tubuh kuat dan vitalitas tinggi. Dikombinasikan dengan pil khusus pembantu kehamilan, tingkat kehamilan menjadi tinggi. Ketika para wanita menyadari kalo mereka dilecehkan, hampir semuanya tidak berani menceritakan karena takut merusak reputasi keluarga. Beberapa dari mereka senang2 saja melakukannya dan rutin kembali ke situ.
Gubernur kemudian menahan para biarawan dan membakar habis Kuil Lotus.

Jadi, anda berminat membuka usaha “Kapel Bayi”? 😈

Pertempuran yang Terjadi Selama Muhibah Dinasti Ming di Awal Abad XV

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat postingan tentang kasim, alias laki-laki yang dikebiri. Nah, dalam sejarah China klasik, keberadaan kasim sering dianggap sebagai penyebab kejatuhan berbagai dinasti dan rezim yang berkuasa. Umumnya kasim memiliki pengaruh yang besar di istana, dan sering terjadi bahwa para kasim-lah pemegang kekuasaan sebenarnya bersama ibu suri di istana. Tentu saja tidak semua kasim memiliki reputasi yang buruk. Ada beberapa kasim yang berkontribusi positif terhadap penguasanya, atau bahkan terhadap dunia. Ch’ai Lun adalah contoh kasim jaman Dinasti Han yang berjasa menemukan kertas, dan Zheng He adalah kasim Dinasti Ming yang berjasa “menyulut” globalisasi awal Asia-Afrika melalui jalur laut melalui 7 kali perjalanan muhibahnya dalam rentang tahun 1405-1433.
Nah, perjalanan muhibah Zheng He ini dikenal sebagai ekspedisi “damai” yang mementingkan perdagangan di Asia Tenggara dan Samudera Hindia. Tetapi meskipun begitu, tetap saja terjadi beberapa pertempuran antara armada superbesar tersebut (sekitar 40 ribu kapal) dengan beberapa penguasa lokal, baik yang disengaja maupun tidak. Berikut ini peta lokasi dan penjelasan beberapa pertempuran yang terjadi antara armada Zheng He dengan penguasa lokal :

battle_zhenghe-fix

1406, pelayaran pertama – PERANG RAJA BARAT DAN RAJA TIMUR DI JAWA

Pada pelayaran pertama, armada China berkunjung ke bagian timur Pulau Jawa pada tahun 1406. Saat itu di Jawa sedang terjadi perang saudara antara Wirabumi, putra selir Hayam Wuruk, dengan Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk. Ketika akan mangkat, Hayam Wuruk berwasiat kepada Wikramawardhana untuk untuk meneruskan tahtanya, sementara Wirabumi menjadi penguasa di Blambangan, bagian timur Pulau Jawa. Setelah Hayam Wuruk mangkat, terjadilah perang saudara. Perang pertama pecah pada tahun 1401, sedangkan perang kedua terjadi pada tahun 1404-1406, dengan hasil Raja Timur digulingkan Raja Barat pada tahun 1406.
Ketika armada Zheng He sedang mengadakan pertemuan dan perdagangan dengan perantau Tionghoa di Gresik, yang merupakan bekas kekuasaan Raja Timur Wirabumi, anak buah Zheng He diserang oleh Raja Barat karena disangka hendak berkomplot dengan sisa-sisa kekuasaan Raja Timur. Dalam serbuan tersebut setidaknya 170 anak buah Zheng He tewas, sehingga Zheng He terpaksa mundur ke dekat Semarang untuk melindungi perantau Tionghoa di sana. Setelah menyadari kekeliruanya, Wikramawardhana segera mengirim utusan ke China untuk menghadap Kaisar Ming untuk meminta maaf. Oleh Kaisar Yong Le, Wirakramawardhana diwajibkan mengganti kerugian sebesar 60.000 tail emas. Pada tahun 1406, utusan Wikramawardhana dikirim ke China untuk menyerahkan 10.000 tail emas sebagai cicilan ganti rugi. Karena dianggap telah menyadari kesalahannya, Kaisar Ming menghapuskan sisa hutangnya dan sejak itu hubungan Ming-Jawa terpelihara dengan baik.

1407, pelayaran pertama – BAJAK LAUT CHEN ZHUYI DI PALEMBANG

Pada awal Dinasti Ming, sudah ada orang-orang perantau Tionghoa yang menetap di Palembang. Salah satunya adalah Chen Zhuyi yang berasal dari Chaozhou. Karena melanggar hukum di China, dia melarikan diri ke Palembang. Awalnya dia bekerja untuk raja Sriwijaya. Kemudian ketika raja Sriwijaya mangkat, dan Sriwijaya runtuh diserbu Majapahit, dia menghimpun bajak laut setempat dan menguasai perairan antara Palembang dan Jambi. Saat itu, selain Chen Zhuyi, kelompok perantau Tionghoa pimpinan Liang Daoming dan Shi Jiqing juga mendominasi Palembang dengan tetap tunduk pada Majapahit.
Ketika armada Zheng He kembali dari Calicut dan sampai di Palembang tahun 1407, Chen Zhuyi bermaksud untuk merompak armada tersebut, dengan berpura-pura mengikuti titah kaisar Ming untuk bertobat. Maksud jahat Chen tersebut dilaporkan oleh Shi Jiqing kepada Zheng He. Ketika kapal-kapal Chen Zhuyi mendekati armada Ming pada malam hari untuk serangan mendadak, anak buah Zheng He sudah siap sehingga Chen Zhuyi dan kelompoknya balik dikurung dan ditembaki dengan meriam. Pada pertempuran tersebut setidaknya lebih dari 5000 anak buah Chen Zhuyi tewas, 10 kapalnya terbakar, 7 kapalnya tertawan, dan stempel simbol kekuasaan Chen Zhuyi disita. Chen Zhuyi dan 2 komplotannya ditawan dan dibawa ke Nanjing untuk dieksekusi. Setelah perairan Palembang bebas ancaman bajak laut, Shi Jiqing diberi gelar duta Xuan Wei oleh kaisar Ming dan menjadi pemimpin perantau Tionghoa yang sah. Sebelumnya, ketika Sriwijaya runtuh, oleh Majapahit Shi Jiqing diangkat untuk mengurusi administrasi dan keagamaan di Palembang. Menurut Ming Shi, catatan sejarah Dinasti Ming, Shi Jiqing tetap tunduk kepada Majapahit meskipun menerima gelar dari kaisar Ming.

1411, pelayaran ke-3 – PERTEMPURAN DENGAN CEYLON

Ketika armada Zheng He menyinggahi Ceylon (Sri Lanka) pada pelayaran pertamanya, penguasa Ceylon bersikap tidak bersahabat sehingga armada Ming melanjutkan perjalannya ke Calicut, India. Pada pelayarannya yang ke-3, armada Ming kembali singgah di Ceylon pada tahun 1411 dengan membawa prasasti 3 bahasa sebagai tanda hubungan diplomatik.
Saat itu, pulau Ceylon terbagi menjadi 3 negara yang saling berperang, dan penguasa yang ditemui Zheng He adalah Alakeswara. Raja Alakeswara menolak pemasangan prasasti tersebut karena menganggapnya mengusik kedaulatannya, dan mengerahkan pasukan untuk mengusir armada China dengan kekerasan. Armada Zheng He kabur ke India, dan beberapa waktu kemudian kembali lagi ke Ceylon untuk membalas perlakuan sang raja. Tanpa kesulitan, armada Ming yang memang sudah siap bertempur membungkam perlawanan Ceylon dan menawan Raja Alakeswara ke Nanjing. Terkesan dan takut dengan kekuatan China, akhirnya Alakeswara menjalin hubungan sebagai negara vassal Ming dan membayar upeti kepada China setiap tahunnya. Pembayaran upeti tersebut berlangsung sampai lebih dari 40 tahun hingga tahun 1459. Prasasti 3 bahasa tersebut didirikan di Dondra Head, tanjung selatan Sri Lanka, dan saat ini tersimpan di Museum nasional di Colombo.

1415, pelayaran ke-4 – PERANG SIPIL DI SAMUDERA PASAI

Pada sekitar awal abad ke-15, Kerajaan Samudera Pasai tengah berperang dengan Kerajaaan Nakur (Batak). Dalam suatu pertempuran, raja Pasai meninggal terkena anak panah beracun. Karena putra mahkota, Zaynul Abidin masih kecil dan belum mampu membalas dendam, permaisuri berjanji di hadapan rakyatnya untuk menikahi siapapun yang berhasil membalaskan dendamnya dan merebut wilayah Pasai yang dikuasai Nakur. Seorang nelayan tampil ke muka dan bertempur dengan gagah berani ketika menghadapi Kerajaan Nakur. Bahkan raja Nakur pun berhasil dibunuh olehnya. Maka si nelayan itu pun menjadi suami permaisuri Pasai dan menjadi raja Samudera Pasai, dikenal sebagai ”Raja Tua”.
Ketika Zaynul Abidin tumbuh dewasa, ia membunuh ayah tirinya dan menjadi penguasa Kerajaan Samudera Pasai. Anak si nelayan sebelum menikahi permaisuri, Sekandar (Iskandar), segera mengungsi ke pegunungan dan menghimpun kekuatan untuk menghadapi Zaynul Abidin. Demi stabilitas politik, Zaynul Abidin meminta bantuan armada Zheng He ketika singgah di Pasai tahun 1415. Zheng He disambut dengan baik oleh Zaynul Abidin dan saling bertukar cendera mata. Sekandar yang merasa iri akhirnya menyerang armada Zheng He, dan berhasil dibalas sehingga Sekandar dan keluarganya melarikan diri ke Lambri (Banda Aceh). Akhirnya Sekandar berhasil ditawan di dibawa ke Nanjing untuk dihukum.

Begitulah. Mungkin masih ada pertempuran-pertempuran kecil yang terjadi antara armada tersebut dengan penguasa lokal maupun bajak laut setempat, terutama di pesisir barat Afrika, hanya saja tidak terdapat catatan yang menjelaskan peristiwanya, mungkin karena pertempurannya terlalu kecil sehingga tidak dianggap penting. Adapun maksud dari perjalanan muhibah Zheng He sendiri masih diperdebatkan sampai sekarang. Kebanyakan kalangan berpendapat kalau perjalanan ini memang perjalanan “damai”, dalam artian usaha “pamer kekuatan” kaisar Ming (Yong Le) untuk menaklukan negara-negara “barbar” ke dalam sistem upeti mereka. Dan negara-negara tersebut juga kebanyakan tidak terlalu memusingkan makna dari sistem upeti tersebut, karena dengan hanya membayar upeti berupa hasil bumi yg bisa jadi kurang berharga, mereka dapat berdagang banyak benda-benda berguna dari China seperti keramik, sutera, alat ukur, obat-obatan, teh, dan sebagainya yang malah memberikan keuntungan kepada mereka.