Archive for the 'Asia Timur Raya' Category

For the Future

Another unimportant post :P. First, take a look/listen to this song:

For The Future – Do As Infinity

I can’t embed since it has “Embedding disabled by request” for this video. However, I managed to embed lower quality video of this song as shown below:

I used to listen to this song around ten years ago. Somehow I felt sentimental back then since I somewhat understand some of the lyric, yet I’ve never really checked the actual lyric nor its meaning. Recently I’ve tried to listen to it, and trying my best to reconstruct the lyric in romanji based on what I heard. The result are below:

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

yaritai koto mo gaman shitetari
yosebaii no ni otona buttari
kotowaru koto mo dekinakattari
hontou no kimi wa doko e itte no

kyou ka shoudo ari no jinsei nante
unzari sono dashou saa ikou

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
hontou no kimi wa
ima misete yo for the future

ato sukoshi ne
mata tsuyoku nareru sa
kagayaku toki wo
kakeruke yo wo for the future

boku wa jiyuu nanda
saa ikou yo

daredatte ichido wa
aozora wo toberu sa
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

saa ichido wa
ano sora wo tobou yo
kyou kara kimi no
genkai mezase for the future

saa ichido wa
ano sora wo tobou yo
furusubi itode
genkai mezase for the future

Then I compare with the actual lyric in romanji from globemoon.net, as shown below:

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Yaritai koto o gaman shitetari
Yoseba ii no ni otona-buttari
Kotowaru koto mo dekina kattari
Hontou no kimi wa doko e itta no

Kyoukasho doori no jinsei nante
Unzari sore deshou
Saa ikou!!

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Tameiki tsuku hima nante nai no sa
FURU SUPIIDO (Full Speed) de genkai mezase
For The Future

Jinsei to yuu na no SUTOORI (Story)
Kono SHINARIO (Scenario) wa kimi ga shuyaku da
Nanika fuman ga aru no dattara
Douzo katte ni kaki naoshichae

Nanimo yaranaide tsubekobe yuu no wa
Tanoshikunai desho
Saa ikou!!

*the yellow part above were not found on the clip that I’ve listen to*

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Hontou no kimi o ima misete yo
For The Future

Ato sukoshi de mata tsuyoku nareru sa
Kagayaku toki o kakenuke yo
For The Future

Bokura jiyuu nanda
Saa ikou yo!!

Daredatte ichido wa oozora o toberu sa
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Saa ichido wa ano sora o tobou yo
Kyou kara kimi no genkai mezase
For The Future

Saa ichido wa ano sora o tobou yo
FURU SUPIIDO (Full Speed) de genkai mezase
For The Future

And the verdict is, not too shabby 😛 😎

I made some minor mistakes in o as mo, or kakenuke as kakeruke, but the most irritating mistake was FURU SUPIIDO as furusubi itode 😆 😆

I was tricked by Engrish! 😆

Alright, after submit relaxing time is over, now I better back to work on my slide 😛

Advertisements

Senbonzakura

Belakangan ini saya sedang suka mendengarkan Senbonzakura, lagu orisinil Vocaloid yang aslinya dinyanyikan suara Hatsune Miku. Entah kenapa akhir-akhir ini suka nyetel lagu ini lagi, mungkin karena sudah bulan Maret (masuk musim semi) meskipun di sini ngga ada sakura :P.

Ada banyak versi cover dari Senbonzakura ini, cuma yang saya suka tonton/dengerin ada empat versi, dua dengan vokal dan dua lainnya hanya instrumen.

1. Lindsey Stirling (biola)

link yutub

Pertama kali saya denger Senbonzakura dari mbak Lindsey ini, sekitar setahun yang lalu. Saya emang ngikutin channel-nya Lindsey sih, sejak nemu video cover Skyrim-nya dia dan Peter Hollens beberapa tahun lalu waktu masih asyik main Skyrim :P.

2. Hatsune Miku (vokal orisinil)

link yutub

Versi vokal asli, saya suka liat video ini sambil menikmati “keimutan” suara Hatsune Miku 😛

3. Wagaki Band (vokal band -sepertinya- indie Jepang)

link yutub

Versi fusion instrumen musik klasik Jepang dan band rock disertai vokal yang agak “mengklasik”. Sepertinya sih band ini memang alirannya fusion instrumen klasik-rock atau semacam itu. Suara mbak-nya mendayu-dayu mencoba “meng-kuno” gimana gitu.

4. Ga tau namanya, berdasar komentar yutub kemungkinan namanya Muoyun (Chinese ghuzheng)

link yutub

Versi favorit saya, datang dengar musik, pulang liat kucing 😀

 

Mistook as…

Have you ever been mistook as a person of certain region/ethnicity that you don’t belong to? Well, I have some experiences that might be suit that condition. It could be just my assumptions™, but at least on some cases I even mistakenly thought as non Indonesian, mostly fellow South East Asian. I think it is harmless to share those experiences :mrgreen:. First of all, my physical appearances were just average for Indonesian, with (slightly below) average height, average weight, average permed black hair, average tanned complexion, slightly slanted eyes, small noose and small mouth. Typical average Indonesian from mid-western part so I think it’s not surprising that sometimes I often thought as a person from it or it’s surrounding area.

Anyway, these are my experiences being mistakenly thought:

  • as a Sundanese by some passers-by during my trip to southern Sukabumi, West Java. Not uncommon, moreover I was traveling with 2 guys who speak Sundanese fluently  😛
  • as an African (or perhaps South American) by fellow passenger while I was on the Metro Subway in Rotterdam. This is weird, and this could be my assumption™ since he didn’t mention that and suddenly asked me whether I believe in God or not and then handed me his religious website pamphlet :P. We had a short conversation back then about his spiritual experience and his activities to encourage Dutch to going back on church. Perhaps I was being thought as a Zwarte Piet (though I’m not that dark on term of complexion :P) or a Good Samaritan Padre from Amazon (this is purely my crap 😆 ) 😛
  • as a Banjar by a shop keeper at a traditional market in Martapura, South Kalimantan. Not uncommon, although it surprised me since I was there with my 2 friends who clearly are not Banjar. I suppose my average Indonesian appearance hinted that shop keeper to talk to me with Banjar language 😛
  • as a Malaysian by another shop keeper at the main road in Hanoi. This is also common given my physical appearance, moreover I was there with a bunch of Malay-like (which is Bahasa Indonesia) speaking people 😛
  • as a Vietnamese by a goods-care guard at Ho Chi Minh mausoleum, still in Hanoi. Now this is weird since I didn’t think my appearance would be that similar with Vietnamese, but those guard initially talked in Vietnamese to me, and since I said I’m not Vietnamese he then spoke in English :P. When I asked my friend who lived there about it, he said it’s not so strange to see me as Vietnamese. Moreover, my body size fits the criteria of Vietnamese, since it is very rare to see obese Vietnamese :lol:. Well, I’m not that skinny or slim, but at least compared to my Indonesian fellow back then I was the slimmest :mrgreen:
  • as a Filipino by a shop keeper at a money changer in Toronto. Regarding my average Indonesian appearance, and possibly South East Asian general appearance, it wasn’t really surprised me, though :P. And since I once mistook a certain Canadian girl as Indonesian, I think that was fair enough 😛
  • as a Japanese by a homeless at the downtown street in Fredericton, New Brunswick. This is nouveau, and probably just an assumption™ since we were in a group and looks busy to take pictures 😛. We were strolling on the street, passing that homeless who just sitting hopelessly and asked us to spare some nickel. As we ignored him and just walked away, he still asked us to spare some coin, even Yen will do :P. Since we don’t have any small changes, and the temperature were getting cold, we just walked away. Perhaps those homeless thought that every Asian-face guy with camera as Japanese, or that was just a mere wild guessing 😛

How about you, have you ever experienced something similar? Perhaps a lot of you have :mrgreen:

Kapel Bayi

Postingan ini saya buat karena sudah janji kepada mbak Jutek di plurk untuk menuliskan isi “ceramah” ngga genah saya kepada mbak Rukijem tentang Kapel Bayi :mrgreen:

Cerita ini saya ambil dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang. Berikut ini adalah cerita lengkapnya …

Pada zaman dinasti Ming, terdapatlah sebuah biara yang bernama Kuil Lotus dan terletak di kota Nanning di bagian selatan China. Kuil itu memiliki luas beberapa ribu meter persegi dan sejumlah besar bangunan. Ada sekitar ratusan biksu tinggal di kuil tersebut. Pengunjung yang datang biasanya diajak berkeliling dan dilayani dengan sebaik-baiknya.
Yang terkenal dari kuil ini adalah Kapel Bayi-nya. Seorang wanita yang menginginkan anak dapat menjadi hamil jika dia berdoa semalaman di sana. Syaratnya adalah wanita yang datang untuk berdoa haruslah masih muda dan sehat. Mereka harus berpuasa dulu 7 hari di rumah sebelum berdoa di kuil. Di dalam kuil, setiap wanita harus berkonsultasi dulu dengan tongkat suci. Jika diramal bagus oleh tongkat suci, wanita itu boleh menginap semalam di sebuah kamar di Kapel Bayi untuk berdoa sendirian. Jika ramalannya tidak bagus, para biksu akan meminta wanita itu untuk berdoa sungguh2 dan kembali ke rumah dan mulai berpuasa selama 7 hari lagi.
Kamar2 di Kapel Bayi tidak berjendela. Ketika seorang wanita masuk ke kamar itu semalaman, para biksu menyarankan seorang anggota keluarganya untuk berjaga di luar pintu. Kebanyakan wanita2 tersebut hamil dan melahirkan bayi yg sehat setelah berdoa di situ.
Kuil itu sangat terkenal sehingga tidak hanya keluarga di dekat situ yang tertarik untuk berdoa di Kapel Bayi. Setiap hari ada sekumpulan orang pergi bersembahyang di biara itu dan membawa berbagai macam sesajian. Ketika para wanita itu ditanya bagaimana Buddha mengabulkan doa mereka, beberapa dari mereka menjawab bahwa Buddha memberitahu mereka di dalam mimpi bahwa mereka akan segera hamil, beberapa lainnya malu2 dan menolak mengatakan apa2. Beberapa dari para wanita itu tidak pernah lagi datang ke tempat itu, sementara beberapa lainnya rutin datang ke biara itu.
Kabar ini terdengar  oleh gubernur baru di distrik itu, Wang Dan. Gubernur Wang merasa curiga, “kenapa para wanita harus menginap semalaman di kuil?”
Diapun  pergi ke sana untuk melihatnya sendiri. Tempat itu cukup ramai, dengan dekorasi biara yg cerah dan dikelilingi oleh pohon cemara yg tinggi. Ketika salah seorang biarawan melihat sang gubernur, dia segera memanggil kepala biara dan mengadakan parade untuk menyambutnya. Setelah selesai membakar dupa dan berdoa di hadapan patung Buddha, gubernur Wang berkata kepada sang kepala biara, “Saya mendengar kemasyhuran kuil suci ini, dan bermaksud merekomendasikan anda kepada kaisar untuk menjadi kepala seluruh biarawan di distrik ini.”
Kepala biara sangat senang mendengarnya.
“Saya mendengar Kapel Bayi anda bisa menghasilkan keajaiban, bagaimana cara kerjanya?”
Kepala biara menjawab bahwa para wanita diwajibkan untuk berpuasa selama 7 hari dan apabila mereka benar2 tulus, doa mereka akan terwujud saat bermalam di Kapel Bayi. Gubernur Wang kemudian menanyakan apakah Kapel Bayi dijaga pada malam harinya. Para biarawan menerangkan bahwa tidak ada jalan masuk selain pintu menuju ruang doa, dan ada anggota keluarga yg diminta berjaga semalaman di luar ruangan.
“Kalau begitu,” kata gubernur, “saya juga ingin mengirimkan istri saya kemari.”
“Jika tuanku menginginkan anak,” kata kepala biara, “Istri tuan tidak perlu datang kemari. Cukuplah berdoa sungguh2 di rumah dan saya yakin akan dikabulkan.”
“Tetapi mengapa wanita lain harus datang ke sini?”
“Ketika orang terhormat seperti tuanku gubernur berdoa, saya yakin Buddha akan mendengar doanya secara khusus.”
“Terima kasih,” kata gubernur. “Saya ingin melihat ruangan ajaib itu.”
Ruang aula dipenuhi pengunjung yang berdoa di depan patung Dewi Kuanyin, Dewi Kebajikan, dengan seorang bayi di kedua tangannya dan 4 bayi di sekitar kakinya. Setelah membungkuk sejenak kepada Dewi Kebajikan, gubernur Wang mengunjungi ruang doa. Seluruh ruangan berkarpet. Ranjang, meja, dan kursi sangat bersih dan tertata rapi. Satu2nya pintu masuk hanyalah pintu. Tidak ada retak sedikitpun di dinding sehingga bahkan seekor tikuspun tidak bisa masuk.
Gubernur Wang kemudian pulang dengan masih memendam rasa penasaran tentang keajaiban Kapel Bayi. Dia kemudian menyuruh sekretarisnya untuk membawa dua pelacur kepadanya.
“Minta mereka berpakaian seperti ibu rumah tangga. Kamu sewa mereka dan kirim mereka untuk menginap semalam di Kuil Lotus. Berikan salah satu dari mereka sebotol tinta hitam dan yang lainnya sebotol tinta merah. Jika ada orang mendekati mereka suruh mereka untuk menandai kepala orang tersebut dengan tinta itu.”
Sekretarisnya menemukan 2 pelacur, Zhang Mei dan Li Wan. Sekretaris itu dan seorang pejabat pemerintahan kemudian menyamar sebagai suami kedua pelacur tersebut dan membawa mereka ke biara.

Selain 2 wanita tersebut, ada sekitar selusin wanita yang hendak berdoa di Kapel Bayi. Pada jam 8 malam, semua ruangan dikunci dan anggota keluarga berjaga di luar ruangan. Semua biarawan kembali ke ruangan mereka. Zhang Mei menanggalkan pakaiannya, memadamkan lilin, dan berbaring di tempat tidur. Pada pukul 10, bel berbunyi dan kesunyian kemudian menyelimuti kuil tersebut. Tiba2 Zhang Mei mendengar suara dari bawah ruangan. Kemudian dia melihat salah satu papan lantai bergeser dan seseorang berkepala gundul muncul dari bawah. Itu adalah kepala seorang biarawan.
Zhang Mei tidak bergerak. Biarawan itu berjinjit ke samping ranjang, menanggalkan jubahnya, dan menyusup ke ranjang. Zhang Mei merasakan biarawan itu memegangi kakinya.
“Anda siapa?” tanyanya, mencoba mendorongnya pergi. “Ini adalah kuil suci.”
“Saya dikirim oleh Buddha untuk memberimu anak,” sang biarawan berbisik sambil memeluk erat Zhang Mei.
Merekapun mulai bermain cinta. Rupanya biarawan itu sangat tinggi staminanya sehingga Zhang Mei yg pelacur berpengalaman pun sampai kewalahan. Ketika selesai, Zhang Mei mengoleskan tinta pada kepala si biarawan tanpa ketahuan. Sebelum pergi, biarawan itu memberikan bungkusan kecil.
“Ini adalah pil untuk membantu anda hamil. Minumlah 3/10 ons tiap pagi dengan air selama seminggu dan kamu akan mempunyai anak.”
Kemudian biarawan itu pergi, dan Zhang Mei terkantuk kelelahan. Beberapa saat kemudian dia disentuh oleh seorang biarawan.
“Apa? Kamu lagi?” teriaknya, mengira kalo itu biarawan yg sama. “Saya lelah.”
“Saya adalah orang lain. Saya akan membuatmu merasa bahagia,” kata biarawan itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. “Minumlah pil ini, maka kamu akan merasa segar sepanajng malam.”
Setelah minum pil itu, Zhang Mei merasa seluruh tubuhnya dialiri keangatan yg menyeluruh. Sama seperti biarawan pertama, Zhang Mei juga mengoleskan tinta merah ke kepala si biarawan. Biarawan itu tidak pergi sampai menjelang subuh.
Sementara di kamar lain, Li Wan juga mengalami kejadian serupa. Dia didatangi 2 biarawan secara bergiliran, dan diberi pil pelancar hamil serta pil pelancar bercinta. Li Wan pun tidak lupa memberi tanda ke kepala 2 biarawan yg mendatanginya.
Gubernur Wang meninggalkan kediamannya sekitar pukul 4 pagi disertai seribu pasukan polisi menuju Kuil Lotus. Ketika tiba di biara, mereka mengumumkan kedatangannya dengan memukul pintu keras2. Gubernur langsung menuju ke kediaman kepala biara, yg ternyata sudah bangun. Gubernur Wang lalu memerintahkan membawa surat ijin kuil dan mengumpulkan seluruh biarawan ke halaman depan kuil.
Kepala biara yg panik segera membunyikan bel dan beberapa saat kemudian seluruh biarawan telah berkumpul. Gubernur kemudian memerintahkan pasukannya memeriksa kepala para biarawan. Dua di antara mereka ditemukan tinta merah di kepalanya, sementara dua lainnya tinta hitam.
“Dari mana kalian mendapat tanda itu?” tanya gubernur.
Keempatnya bingung.
“Mungkin ada seseorang yg iseng terhadap kami.”
“Baiklah. Akan kutunjukkan siapa yg iseng.”
Kemudian kedua pelacur itu dibawa masuk. Mereka menceritakan kepada gubernur apa yg terjadi. Seluruh biarawan menjadi panik. Beberapa wanita juga diinterogasi, beberapa mencoba menyangkal. Dari pemeriksaan seluruh badan, ditemukan pil yg sama seperti yg diterima dua pelacur tadi. Para suami menjadi sangat marah dan membawa istri2nya pulang.
Sebuah penyelidikan mengungkapkan bahwa para biarawan sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Para wanita haruslah bertubuh sehat dan masih muda, dan para biarawan harus memiliki tubuh kuat dan vitalitas tinggi. Dikombinasikan dengan pil khusus pembantu kehamilan, tingkat kehamilan menjadi tinggi. Ketika para wanita menyadari kalo mereka dilecehkan, hampir semuanya tidak berani menceritakan karena takut merusak reputasi keluarga. Beberapa dari mereka senang2 saja melakukannya dan rutin kembali ke situ.
Gubernur kemudian menahan para biarawan dan membakar habis Kuil Lotus.

Jadi, anda berminat membuka usaha “Kapel Bayi”? 😈

Pertempuran yang Terjadi Selama Muhibah Dinasti Ming di Awal Abad XV

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat postingan tentang kasim, alias laki-laki yang dikebiri. Nah, dalam sejarah China klasik, keberadaan kasim sering dianggap sebagai penyebab kejatuhan berbagai dinasti dan rezim yang berkuasa. Umumnya kasim memiliki pengaruh yang besar di istana, dan sering terjadi bahwa para kasim-lah pemegang kekuasaan sebenarnya bersama ibu suri di istana. Tentu saja tidak semua kasim memiliki reputasi yang buruk. Ada beberapa kasim yang berkontribusi positif terhadap penguasanya, atau bahkan terhadap dunia. Ch’ai Lun adalah contoh kasim jaman Dinasti Han yang berjasa menemukan kertas, dan Zheng He adalah kasim Dinasti Ming yang berjasa “menyulut” globalisasi awal Asia-Afrika melalui jalur laut melalui 7 kali perjalanan muhibahnya dalam rentang tahun 1405-1433.
Nah, perjalanan muhibah Zheng He ini dikenal sebagai ekspedisi “damai” yang mementingkan perdagangan di Asia Tenggara dan Samudera Hindia. Tetapi meskipun begitu, tetap saja terjadi beberapa pertempuran antara armada superbesar tersebut (sekitar 40 ribu kapal) dengan beberapa penguasa lokal, baik yang disengaja maupun tidak. Berikut ini peta lokasi dan penjelasan beberapa pertempuran yang terjadi antara armada Zheng He dengan penguasa lokal :

battle_zhenghe-fix

1406, pelayaran pertama – PERANG RAJA BARAT DAN RAJA TIMUR DI JAWA

Pada pelayaran pertama, armada China berkunjung ke bagian timur Pulau Jawa pada tahun 1406. Saat itu di Jawa sedang terjadi perang saudara antara Wirabumi, putra selir Hayam Wuruk, dengan Wikramawardhana, menantu Hayam Wuruk. Ketika akan mangkat, Hayam Wuruk berwasiat kepada Wikramawardhana untuk untuk meneruskan tahtanya, sementara Wirabumi menjadi penguasa di Blambangan, bagian timur Pulau Jawa. Setelah Hayam Wuruk mangkat, terjadilah perang saudara. Perang pertama pecah pada tahun 1401, sedangkan perang kedua terjadi pada tahun 1404-1406, dengan hasil Raja Timur digulingkan Raja Barat pada tahun 1406.
Ketika armada Zheng He sedang mengadakan pertemuan dan perdagangan dengan perantau Tionghoa di Gresik, yang merupakan bekas kekuasaan Raja Timur Wirabumi, anak buah Zheng He diserang oleh Raja Barat karena disangka hendak berkomplot dengan sisa-sisa kekuasaan Raja Timur. Dalam serbuan tersebut setidaknya 170 anak buah Zheng He tewas, sehingga Zheng He terpaksa mundur ke dekat Semarang untuk melindungi perantau Tionghoa di sana. Setelah menyadari kekeliruanya, Wikramawardhana segera mengirim utusan ke China untuk menghadap Kaisar Ming untuk meminta maaf. Oleh Kaisar Yong Le, Wirakramawardhana diwajibkan mengganti kerugian sebesar 60.000 tail emas. Pada tahun 1406, utusan Wikramawardhana dikirim ke China untuk menyerahkan 10.000 tail emas sebagai cicilan ganti rugi. Karena dianggap telah menyadari kesalahannya, Kaisar Ming menghapuskan sisa hutangnya dan sejak itu hubungan Ming-Jawa terpelihara dengan baik.

1407, pelayaran pertama – BAJAK LAUT CHEN ZHUYI DI PALEMBANG

Pada awal Dinasti Ming, sudah ada orang-orang perantau Tionghoa yang menetap di Palembang. Salah satunya adalah Chen Zhuyi yang berasal dari Chaozhou. Karena melanggar hukum di China, dia melarikan diri ke Palembang. Awalnya dia bekerja untuk raja Sriwijaya. Kemudian ketika raja Sriwijaya mangkat, dan Sriwijaya runtuh diserbu Majapahit, dia menghimpun bajak laut setempat dan menguasai perairan antara Palembang dan Jambi. Saat itu, selain Chen Zhuyi, kelompok perantau Tionghoa pimpinan Liang Daoming dan Shi Jiqing juga mendominasi Palembang dengan tetap tunduk pada Majapahit.
Ketika armada Zheng He kembali dari Calicut dan sampai di Palembang tahun 1407, Chen Zhuyi bermaksud untuk merompak armada tersebut, dengan berpura-pura mengikuti titah kaisar Ming untuk bertobat. Maksud jahat Chen tersebut dilaporkan oleh Shi Jiqing kepada Zheng He. Ketika kapal-kapal Chen Zhuyi mendekati armada Ming pada malam hari untuk serangan mendadak, anak buah Zheng He sudah siap sehingga Chen Zhuyi dan kelompoknya balik dikurung dan ditembaki dengan meriam. Pada pertempuran tersebut setidaknya lebih dari 5000 anak buah Chen Zhuyi tewas, 10 kapalnya terbakar, 7 kapalnya tertawan, dan stempel simbol kekuasaan Chen Zhuyi disita. Chen Zhuyi dan 2 komplotannya ditawan dan dibawa ke Nanjing untuk dieksekusi. Setelah perairan Palembang bebas ancaman bajak laut, Shi Jiqing diberi gelar duta Xuan Wei oleh kaisar Ming dan menjadi pemimpin perantau Tionghoa yang sah. Sebelumnya, ketika Sriwijaya runtuh, oleh Majapahit Shi Jiqing diangkat untuk mengurusi administrasi dan keagamaan di Palembang. Menurut Ming Shi, catatan sejarah Dinasti Ming, Shi Jiqing tetap tunduk kepada Majapahit meskipun menerima gelar dari kaisar Ming.

1411, pelayaran ke-3 – PERTEMPURAN DENGAN CEYLON

Ketika armada Zheng He menyinggahi Ceylon (Sri Lanka) pada pelayaran pertamanya, penguasa Ceylon bersikap tidak bersahabat sehingga armada Ming melanjutkan perjalannya ke Calicut, India. Pada pelayarannya yang ke-3, armada Ming kembali singgah di Ceylon pada tahun 1411 dengan membawa prasasti 3 bahasa sebagai tanda hubungan diplomatik.
Saat itu, pulau Ceylon terbagi menjadi 3 negara yang saling berperang, dan penguasa yang ditemui Zheng He adalah Alakeswara. Raja Alakeswara menolak pemasangan prasasti tersebut karena menganggapnya mengusik kedaulatannya, dan mengerahkan pasukan untuk mengusir armada China dengan kekerasan. Armada Zheng He kabur ke India, dan beberapa waktu kemudian kembali lagi ke Ceylon untuk membalas perlakuan sang raja. Tanpa kesulitan, armada Ming yang memang sudah siap bertempur membungkam perlawanan Ceylon dan menawan Raja Alakeswara ke Nanjing. Terkesan dan takut dengan kekuatan China, akhirnya Alakeswara menjalin hubungan sebagai negara vassal Ming dan membayar upeti kepada China setiap tahunnya. Pembayaran upeti tersebut berlangsung sampai lebih dari 40 tahun hingga tahun 1459. Prasasti 3 bahasa tersebut didirikan di Dondra Head, tanjung selatan Sri Lanka, dan saat ini tersimpan di Museum nasional di Colombo.

1415, pelayaran ke-4 – PERANG SIPIL DI SAMUDERA PASAI

Pada sekitar awal abad ke-15, Kerajaan Samudera Pasai tengah berperang dengan Kerajaaan Nakur (Batak). Dalam suatu pertempuran, raja Pasai meninggal terkena anak panah beracun. Karena putra mahkota, Zaynul Abidin masih kecil dan belum mampu membalas dendam, permaisuri berjanji di hadapan rakyatnya untuk menikahi siapapun yang berhasil membalaskan dendamnya dan merebut wilayah Pasai yang dikuasai Nakur. Seorang nelayan tampil ke muka dan bertempur dengan gagah berani ketika menghadapi Kerajaan Nakur. Bahkan raja Nakur pun berhasil dibunuh olehnya. Maka si nelayan itu pun menjadi suami permaisuri Pasai dan menjadi raja Samudera Pasai, dikenal sebagai ”Raja Tua”.
Ketika Zaynul Abidin tumbuh dewasa, ia membunuh ayah tirinya dan menjadi penguasa Kerajaan Samudera Pasai. Anak si nelayan sebelum menikahi permaisuri, Sekandar (Iskandar), segera mengungsi ke pegunungan dan menghimpun kekuatan untuk menghadapi Zaynul Abidin. Demi stabilitas politik, Zaynul Abidin meminta bantuan armada Zheng He ketika singgah di Pasai tahun 1415. Zheng He disambut dengan baik oleh Zaynul Abidin dan saling bertukar cendera mata. Sekandar yang merasa iri akhirnya menyerang armada Zheng He, dan berhasil dibalas sehingga Sekandar dan keluarganya melarikan diri ke Lambri (Banda Aceh). Akhirnya Sekandar berhasil ditawan di dibawa ke Nanjing untuk dihukum.

Begitulah. Mungkin masih ada pertempuran-pertempuran kecil yang terjadi antara armada tersebut dengan penguasa lokal maupun bajak laut setempat, terutama di pesisir barat Afrika, hanya saja tidak terdapat catatan yang menjelaskan peristiwanya, mungkin karena pertempurannya terlalu kecil sehingga tidak dianggap penting. Adapun maksud dari perjalanan muhibah Zheng He sendiri masih diperdebatkan sampai sekarang. Kebanyakan kalangan berpendapat kalau perjalanan ini memang perjalanan “damai”, dalam artian usaha “pamer kekuatan” kaisar Ming (Yong Le) untuk menaklukan negara-negara “barbar” ke dalam sistem upeti mereka. Dan negara-negara tersebut juga kebanyakan tidak terlalu memusingkan makna dari sistem upeti tersebut, karena dengan hanya membayar upeti berupa hasil bumi yg bisa jadi kurang berharga, mereka dapat berdagang banyak benda-benda berguna dari China seperti keramik, sutera, alat ukur, obat-obatan, teh, dan sebagainya yang malah memberikan keuntungan kepada mereka.

Membaca Manhua

Terpengaruh postingan Mas Jensen yang ini, iseng2 saya ikutan ah bikin postingan sejenis :mrgreen: hehe.. Jadi, 2 minggu terakhir ini saya iseng nyewa komik di rentalan, yg berjudul Legend of The Condor Heroes (LoTCH) dan Pendekar Hina Kelana. Dua seri tersebut merupakan manhua (komik China/Hongkong/Taiwan) karya Lee Chi Ching yg dibuat berdasarkan novel cersil karya Jin Yong, dan dua-duanya sudah diterbitkan oleh m&c! beberapa tahun silam.

Mengenai garis besar ceritanya, sepertinya sih benar2 mengikuti novel2 Jin Yong tersebut yg terbit di tahun 1960-an. Saya ngga tau pasti karena memang belum membaca novel2nya 😛 hehe..

LoTCH berlatar di akhir jaman Dinasti Song Selatan, di awal kebangkitan kekuatan Temujin dan bangsa Mongolnya. Bercerita mengenai Kwee Ceng, bocah negeri Song yang karena suatu perjanjian antara ayahnya dan saudara angkatnya tanpa sengaja terlibat dengan urusan politik luar negeri Song-Jin dan terdampar hingga tumbuh besar di padang gurun Mongolia. Setelah tumbuh besar, Kwee Ceng masih harus bertemu dan bertanding dengan Yo Kang, anak saudara angkat ayahnya, untuk memenuhi perjanjian guru2nya dengan rahib Khu Chi Kie, orang yg melibatkan ayah Kwee Ceng dan Yo Kang dalam urusan luar negeri kerajaan Jin-Song, dan juga menjadi guru Yo Kang. Untuk selanjutnya, diceritakan tentang perjalanan hidup Kwee Ceng mulai dari dia menjadi orang kepercayaan Temujin, kisah cintanya dengan Oey Yong Jie, dan perjalanannya menemukan kembali rasa nasionalisme Song-nya ketika akhirnya Mongol mencoba menaklukan Song setelah Jin. Untuk lebih jelasnya baca aja sendiri, dan maaf saya males ngasih skrinsyut gambarnya, gugling aja 😛 hehe..

Saya ngga akan berpanjang lebar menjabarkan ceritanya, cuma ada hal menarik yaitu ada beberapa karakter dari komik itu yang memang benar2 ada dalam sejarah, di antaranya :

Jenghis Khan, dan kroni2nya (maksudnya jenderal2 dan keluarganya :mrgreen: ) yg menganggap Kwee Ceng sebagai keluarga sendiri, bahkan Tolui (anak ke-4 Jenghis) mengangkat saudara dengan Kwee Ceng, dan Jebe (salah satu jenderal andalan Jenghis) adalah guru pertama Kwee Ceng dalam ilmu memanah.

Rahib Khu Chi Kie dari aliran Coan Cin yg kemudian dipanggil mengunjungi Jenghis Khan untuk memberi saran awet muda memang benar2 ada, dikenal juga sebagai Ch’ang Ch’un dari aliran Ch’uan Chin (salah satu sekte Tao).

Setahu saya itu sih, kalo ada yg mau nambahin silakan :mrgreen:

Novel LoTCH sendiri merupakan bagian awal dari trilogi Condor Heroes karya Jin Yong. Bagian kedua adalah Return of The Condor Heroes (yg saya yakin banyak di antara Anda sekalian yg familiar dengan judul ini) dengan Yo Ko, anak Yo Kang, sebagai tokoh utama. Sedangkan bagian ketiga adalah Golok Pembunuh Naga (To Liong To) dengan Thio Boe Kie (yg kebetulan mewarisi Golok Pembunuh Naga buatan Kwee Ceng) sebagai tokoh utama.

Komik berikutnya, yaitu Pendekar Hina Kelana (PHK), dengan judul asli novel yaitu Xiào Ào Jiāng Hú (arti harfiahnya “menertawakan dunia di Jiang Hu”), atau dalam versi Inggris-nya disebut Smiling Proud Wanderer. Latar waktu yang digunakan tidak jelas, tetapi sepertinya terjadi pada masa Dinasti Ming (kata wiki sih 😛 ). Menceritakan Linghu Chong, murid pertama perguruan pedang Hua Shan (sebuah perguruan lurus), yg jujur dan baik hati dan hobi minum arak dan bertingkah slengehan 😆 hehe.. Linghu Chong kemudian terlibat dengan berbagai intrik antar perguruan2 pedang aliran lurus sendiri dan juga bentrokan dengan aliran sesat, yang membuat kita bertanya-tanya sendiri mana yg aliran lurus dan mana yg aliran sesat 😉 hehe.. Selanjutnya diceritakan juga perebutan kitab silat sakti bikinan kasim 😆 , juga kisah cinta Linghu Chong sampai dia menemukan jodoh sejatinya. 🙂

Setelah menuntaskan membaca PHK, ada beberapa hal yg berkesan buat saya, yaitu (hati2 spoiler, skip aja kalo ga mau tau 🙂 ) :

Di volume 12-13, diceritakan tentang pertemuan Linghu Chong dengan Ren Yingying melalui kecapi dan bagaimana Yingying mulai menyukai Linghu Chong. Menurut saya, Ren Yingying ini benar2 tipe tsundere, dia menyukai Linghu Chong tapi selalu menyangkal, malah awalnya menolak diketahui wajahnya sampe disangka nenek2 😆 , dan menggunakan berbagai alasan untuk menahan Linghu Chong agar selalu di sisinya 😎 (luv u Yingying-chan :mrgreen: hehe). Atao malah bisa jadi masuk kategori yandere, karena tidak segan2 membunuh murid Shaolin untuk melindungi dirinya dan Linghu Chong sebagai bentuk rasa cintanya (seyem)..

Kitab Bunga Matahari yg disebut sebagai kitab ilmu silat terkuat diciptakan oleh kasim di jaman Dinasti Tang. Karena dibuat oleh dan diperuntukkan kepada kasim, maka orang yg mempelajari kungfu tersebut lama-kelamaan kehilangan maskulinitasnya dan menjadi feminin = =’. Contohnya adalah Dongfang Bubai sang ketua aliran sesat yg jadi cowok melambai dan menyukai laki2, atau Lin Pingzhi si murid termuda perguruan Hua Shan yg sudah menguasai kungfu tersebut sebelum menikahi Yue Lingshan sehingga tidak sempat “menggarap” istrinya karena kehilangan “keperkasaan” 😆 hihihi… Sampai mati juga saya ngga bakal mau mempelajari kungfu kaya’ gitu 😆

Masih tentang “keperkasaan”, di volume 20, Tian Bo Guang, pendekar dari aliran sesat yg dijuluki “Pendekar Pemetik Bunga” karena suka mencabuli gadis2 dan wanita2 cantik, bertobat dan menjadi biksu atas paksaan anjuran biksu Bu Jie. Nah, cara biksu Bu Jie “menganjurkan” Tian Bo Guang untuk menjadi biksu adalah… merobohkannya, menarik celananya, dan mengambil sebilah pisau.. dalam sekejap Tian Bo Guang sudah menjadi biksu 😆 (silahkan terka sendiri apa maksudnya, yg jelas saya ngakak guling2 pas baca bagian ini 😆 😆 😆 )

Mengenai artwork kedua manhua tersebut, menurut saya sih biasa2 saja, seperti manhua China/Hk/Tw pada umumnya yg susah dibedakan muka karakter2nya 😆 . Tapi jujur saya lebih suka artworknya Lee Chi Ching yg simpel ini ketimbang Tony Wong, yg karakter2 cowoknya digambar terlalu berotot :mrgreen:

Oh iya, sebagai catatan tambahan, sepertinya dalam penterjemahan LoCTH pihak m&c! masih menggunakan nama2 dalam dialek Hokkian yg memang banyak digunakan warga keturunan Tionghoa di Indonesia, misalnya Kwee Ceng kalau dalam dialek Pinyin adalah Guo Jing. Sedangkan untuk penterjemahan PHK sudah menggunakan nama2 dalam dialek Pinyin yg lebih populer dan lebih banyak digunakan dalam bahasa Mandarin.

Jadi, anda membaca apa akhir2 ini? :mrgreen:

Bangsa-bangsa Asia Timur

Serupa tapi tak sama.

Begitulah idiom yang saya rasa cukup pas untuk menggambarkan bangsa2 di Asia Timur. Secara umum terdapat 3 bangsa yang cukup besar di Asia Timur, yaitu China, Korea, dan Jepang. Tiga bangsa tersebut relatif memiliki tampilan luar yang sama, sehingga orang biasanya susah membedakan mana yang orang China, Korea, maupun Jepang jika melihat secara sekilas. Nah, untuk soal tampilan luar boleh saja sama, tapi isi dalamnya alias karakter 3 bangsa itu sama sekali berbeda. Ini dipengaruhi oleh kombinasi kondisi geografis dan faktor sejarah yang menghasilkan karakter yang berbeda-beda di antara 3 bangsa itu.

Oiya, orang2 Mongol saya masukkan sebagai minoritas di China. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap Republik Mongolia, secara kultur mereka awalnya memang berbeda dengan China yaitu sebagai bangsa pengembara. Tetapi setelah menaklukan China mereka menjadi bangsa “beradab” dan malah menyerap budaya China besar2an dalam kehidupan mereka selanjutnya, menjadi bangsa petani dan menetap. Hal yang sama terjadi di daerah taklukan Mongol lainnya di Asia Barat.

China

China merupakan negara benua, sebagian besar wilayahnya merupakan daratan yang berada di pusat benua. Sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia, China menganggap kebudayaan mereka adalah peradaban terbaik, sementara menganggap bangsa2 di sekitarnya sebagai bangsa barbar. Di awal pendiriannya, China merupakan kumpulan dari negara2 yang saling berperang satu sama lain. Mereka menyadari bahwa kedamaian dapat dicapai dengan adanya persatuan dari penguasa tunggal yang kuat. Negara2 yang berperang tersebut akhirnya disatukan oleh kaisar Qin Shi Huangdi yang membentuk Dinasti Qin pada tahun 221 SM. Persatuan ini merupakan nilai penting bagi bangsa China sejak saat itu sampai sekarang. Penerus Dinasti Qin, yaitu Dinasti Han (202 SM – 220 M) merupakan dinasti terlama yang memerintah China, sehingga orang2 China sejak saat itu menganggap diri mereka sendiri adalah orang Han. Sejak masa Dinasti Tang (618 M – 845 M), ketika wilayah China semakin meluas, penduduknya sudah merupakan kumpulan dari berbagai suku “barbar” sebagai minoritas dan suku Han sebagai mayoritas. Dinasti Tang menjalankan kebijakan kosmopolitan, dengan membiarkan suku2 minoritas memiliki identitas kesukuan mereka tetapi tetap berada dalam wadah besar kebudayaan Han. Kemunculan suku barbar yang kemudian menguasai beberapa wilayah China (Jurchen/Manchu dan Liao di timur laut, Tangut di barat) pada masa Dinasti Sung (960 M – 1260 M) semakin mendambah suku2 minoritas yang menjadi bagian China. Ketika silih berganti Dinasti Yuan, Ming, dan Qing berkuasa di China, wilayah China sudah bertambah semakin luas seiring dengan penaklukan2 wilayah sekitar. Puncaknya ketika masa Dinasti Qing, wilayah China adalah seperti wilayah RRC saat ini dan ditambah wilayah Republik Mongolia.

Tentu saja, wilayah yang luas akan sangat rawan perpecahan. Karena itu, seperti sudah disinggung tadi, China menerapkan kebijakan kosmopolitan dan toleransi terhadap penduduk non-Han. Mereka tidak ambil pusing dari suku maupun agama apapun mereka berasal, yang terpenting mereka berada dalam sebuah kebudayaan besar Han yang bersatu. Tapi jika suku2 minoritas ini coba2 memisahkan diri dari China, maka China tidak segan2 menghajar habis2an gerakan separatis itu. Contoh mudahnya antara lain gerakan separatis di Xinjiang-Uighur, gerakan “kembali ke Mongol” di Mongolia Dalam, maupun pelepasan diri Tibet. Gerakan2 separatis tersebut ditekan habis2an dan akhirnya berkompromi untuk membentuk daerah otonomi khusus.

Politik kosmopolitan ini juga diterapkan dalam hubungannya dengan luar negeri, dalam bentuk negara vassal. Negara vassal bisa dikatakan sebagai negara pengikut yang membayar sejumlah upeti terhadap negara “pelindung”nya setiap tahunnya. Jika negara vassal dalam bahaya diserang negara lain, maka negara “pelindung” akan membantu negara vassal tersebut. Jika negara vassal menolak membayar upeti, maka oleh China hanya akan diabaikan dan mungkin suatu saat diinvasi. Upeti yang dibayarkan biasanya hanya berupa barang hasil bumi tak berharga, tetapi oleh China negara vassal itu akan dihadiahi berbagai benda berharga (porselen, sutera, alat ukur). Jadi pada dasarnya hubungan negara vassal-pelindung ini mutualisme, karena itu banyak negara2 di sekitarnya, terutama di jaman Dinasti Yuan (1271-1368) dan Dinasti Ming (1368-1644), yang menjadi negara vassal bagi China. Contoh negara2 vassal tersebut antara lain : Korea, Jepang, Champa (Vietnam), Malaka, Majapahit (ya, Majapahit sempat jadi vassal-nya Dinasti Ming), Ceylon (Sri Lanka).

Jadi, memang sudah sejak dulu bangsa China lebih suka berkompromi menggunakan materi ketimbang berkonfrontasi langsung dengan lawan-lawannya 😉


Korea

Korea merupakan negara semenanjung. Wilayahnya berupa daratan “perpanjangan” dari benua Asia di bagian timur, dan dikelilingi laut di ketiga sisinya, dan kepulauan Jepang di seberang lautan. Posisi ini merupakan posisi strategis untuk mendapatkan kekuasaan. Negara benua (China) dapat menggunakan semenanjung sebagai batu loncatan ke pulau seberang, begitu pula negara pulau (Jepang) dapat menggunakannya untuk menuju benua. Dan sejarah telah membuktikan bahwa semenanjung Korea telah menjadi incaran bangsa2 di sekitarnya untuk dikuasai. Karena faktor inilah, bangsa Korea harus selalu siap sedia jika ada invasi dari bangsa lain. Mereka harus berjuang habis2an untuk mempertahankan diri dan keluarganya. Hasilnya, tidak seperti bangsa China yang suka kompromi, bangsa Korea sangat keras kepala dan teguh pendirian bahkan cenderung kolot. Ini dikarenakan, jika mereka menerima kompromi, artinya mereka kalah sehingga nilai2 keaslian Korea akan hilang karena bercampur dengan nilai2 luar yang masuk. Bangsa Korea sangat menjunjung tinggi keaslian keturunan sebagai identitas ras. Demi keaslian identitas ras, mereka sangat menghindari perkawinan campuran dengan bangsa lain, karena dengan bercampur dengan bangsa lain, artinya identitas Korea-nya hilang dan berarti mereka kalah. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang keras kepala dan “akan melakukan apa saja” untuk melindungi keaslian diri dan keluarga mereka dan cenderung menolak berkompromi dalam bentuk apapun.

Ancaman terhadap Korea datang dari China, Manchu (Jin/Jurchen), Mongol, Jepang, dan bajak laut Jepang. Sampai dengan masa2 awal Dinasti Koryo (918-1392) bangsa Korea masih mampu bertahan menghadapi invasi dari tetangga-tetangganya, terutama China. Tetapi ketika Mongol menyatukan China dalam Dinasti Yuan, Korea tidak bisa berbuat banyak selain mengakui China/Mongol Yuan sebagai negara “pelindung”nya. Meskipun demikian, Korea tetap mempertahankan kekeras kepalaannya dalam menjaga keaslian bangsa Korea dengan melarang percampuran antara bangsa asing dengan penduduk Korea. Ancaman lainnya datang dari Jepang di tahun 1592 dan 1597. Toyotomi Hideyoshi yang baru saja menyatukan Jepang melanjutkan ambisinya untuk menguasai China dengan menggunakan Korea sebagai batu loncatan. Jepang memang berhasil mendarat di semenanjung Korea (dan bahkan mencapai Seoul), tetapi armada Jepang dihancurkan armada Korea sehingga pasukan yang berada di darat terputus suplai logistiknya dan pada akhirnya dapat dikalahkan.

Selain keras kepala dalam mempertahankan identitas Korea-nya, bangsa Korea juga berkarakter kolektif dengan sesamanya. Ini juga tak lepas dari pengaruh invasi berulangkali yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk mempertahankan identitas bangsa. Sesama orang Korea dapat dengan mudah cepat akrab dan saling berbagi teritori pribadi. Mungkin inilah yang membuat Korea memimpin pasar game online, dibandingkan dengan Jepang yang merajai pasar game console.

Karakteristik bangsa Korea sebenarnya merupakan karakter khas bangsa semenanjung yang keras dan tanpa kompromi. Anda dapat lihat bangsa2 di semenanjung Balkan maupun semenanjung Indochina, meskipun berkali-kali diinvasi bangsa asing maupun saling menginvasi, mereka tetap mempertahankan identitasnya masing2 sebagai bangsa tersendiri. Kasus Korea, mereka telah dipersatukan terlebih dahulu di tahun 57 SM oleh Dinasti Shilla.

Jepang

Jepang merupakan negara kepulauan, dengan 4 pulau utama dan wilayah dikelilingi laut. Laut tersebut merupakan benteng alami, yang secara tidak langsung menyelamatkan Jepang dari invasi bangsa asing. Sepanjang sejarah, Jepang hanya takluk oleh bangsa asing pada akhir Perang Dunia II (yang oleh Commodor Perry di tahun 1854 cuma dipaksa membuka diri, belom takluk 😛 ). Invasi Mongol 2 kali tahun 1274 dan 1281 gagal total, salah satunya karena badai kamikaze yang “kebetulan” terjadi dan memporak-porandakan armada Mongol-Yuan.

Karena tidak pernah terusik invasi bangsa asing inilah, maka ancaman terbesar justru datang dari dalam. Orang2 Jepang tidak bisa lari kemana-mana jika terjadi pertempuran di antara mereka dan mau tidak mau harus bertarung sampai penghabisan. Karena itu, orang Jepang menerapkan karakter “damai” dalam kehidupan mereka. Sekitar abad ke-7, Pangeran Shotoku menciptakan Undang2 pertama buat Jepang yang terdiri dari 17 bab, dengan bab pertama berisi tentang keutamaan perdamaian dan keharmonisan. Tentu saja, untuk menjembatani semua pihak jika terjadi perselisihan, harus ada pihak/figur yang “berkekuatan dewa” yang “selalu benar“. Tetapi, tentu saja setiap ada orang dengan kekuatan muncul, pasti kekuatan lama akan ditantang untuk dilengserkan. Jika ini terus berlanjut, maka “perdamaian” yang diharapkan justru tidak akan terjadi. Oleh karena itu, kaisar Jepang yang merupakan “figur penengah” dianggap sebagai keturunan dewa untuk menjaga agar tetap ada “pemimpin dari langit” untuk dipuja rakyat. Sebenarnya kaisar tidak mempunyai kekuasaan apa2 terhadap negerinya. Adalah perdana menteri, kemudian menjadi shogun atau panglima militer tertinggi, yang memegang kekuasaan atas rakyatnya melalui pemerintahan bakufu (pemerintahan militeris). Lucunya, jabatan shogun ini juga diwariskan secara turun temurun 😀 . Sepanjang sejarah Jepang terdapat 3 generasi shogun yang berkuasa cukup lama, yaitu Kamakura/Minamoto (1185-1333), Ashikaga (1333-1573), dan Tokugawa (1600-1860).

Nah, untuk melaksanakan karakter “damai”, orang Jepang cenderung menghindari kontak dengan orang lain karena khawatir menyinggung perasaan. Ketika berkomunikasi dengan orang lain pun, mereka umumnya menggunakan bahasa yang sopan dan cenderung banyak basa basi. Ada istilah honne dan tattemae dalam komunikasi mereka, dimana honne adalah “maksud sebenarnya yang terkandung dalam hati” dan tattemae adalah “omongan yang diucapkan”. Jadi apa yang keluar di mulut belum tentu merupakan maksud sebenarnya. Saking terbiasanya orang Jepang berkomunikasi dengan mempertimbangkan “perdamaian“, mereka bisa saling mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya tanpa harus banyak bicara. Karakteristik ini mirip dengan penduduk pulau di manapun di bumi ini. Contohnya orang Inggris maupun orang Jawa. Mereka cenderung menghindari konflik antar sesamanya dan banyak berbasa-basi dalam berkomunikasi 😛 .

Selain karakter damai, bangsa Jepang juga berkarakter “harmonis” dengan pengaruh2 asing yang masuk ke kebudayaannya. Tidak seperti China yang langsung “melahap” semua pengaruh asing dalam kebudayaan Han bersatu ataupun Korea yang selalu keras kepala mempertahankan keaslian ke-Korea-annya, Jepang sangat fleksibel dalam menyikapi pengaruh luar. Mereka menyerap pengaruh luar, kemudian memprosesnya sedemikian rupa sehingga pengaruh luar itu cocok dengan mereka, dan menghasilkan hal baru yang berciri Jepang. Awalnya pengaruh luar yang datang dari China via Korea adalah Konfusianisme, yang digunakan sebagai filosofi pemerintahan oleh Jepang. Kemudian ketika Buddhisme datang, sudah ada kepercayaan lokal yaitu Shinto. Untuk menghindari konflik agama, maka pemerintah saat itu membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama apapun. Tiga aliran kepercayaan itu pun harus rela hidup berdampingan. Dan sebagai hasilnya, Konfusianisme menjadi filosofi pemerintahan, Shintoisme menjadi simbol negara, dan Buddha menjadi agama utama. Hal tersebut berlangsung sampai Restorasi Meiji di tahun 1868.

Contoh lain keharmonisan Jepang dalam menyikapi pengaruh luar, bisa kita lihat dalam kehidupan modern. Budaya natal, valentine, maupun menikah di gereja merupakan budaya barat yang jelas2 bernuansa Kristen. Tetapi meskipun penganut Kristen di Jepang tidak ada 1 % nya, budaya itu tetap saja populer di kalangan masyarakat Jepang. Tentu saja dengan sedikit perubahan khas Jepang, seperti hanya cewek yang memberi coklat kepada cowok yang disukainya pada valentine maupun malam natal yang biasa dijadikan “malam pribadi” bersama pasangan 👿 .

xixixi…

Jadi, meskipun luarnya tampak sama tapi setelah dilihat dalemnya ternyata berbeda kan.. :mrgreen: Hal yang sama dapat terlihat di Eropa, dengan memposisikan Prancis sebagai China, Inggris sebagai Jepang, dan negara2 Balkan sebagai Korea ^_^’.

Dan ada trivia unik, mayoritas penduduk di Korea saat ini justru penganut Kristen (41%), melebihi penganut Buddha. Di seluruh Korea (selatan) terdapat 10 ribu gereja, hal yang cukup jarang terlihat di negara Asia. Sepertinya mereka beramai-ramai memeluk Kristen ketika misionaris datang pasca perang Korea (1950), dengan pengharapan menemukan tempat pelarian spiritual setelah tercerai berai karena perang. Kehidupan beragama masyarakat Korea saat ini masih terjaga dengan baik, meskipun dalam praktiknya mereka banyak mencampurkan antara ajaran Kristen, Buddha, dan kepercayaan lokal. Tidak seperti di Jepang yang mulai “mendewakan” rasionalisme maupun di China yang komunis. Benar2 bangsa2 yang menarik 😀

p.s. artikel ini merupakan pendapat pribadi saya saja, dengan kompilasi berbagai sumber yang tertulis di bawah 😉

sumber : Microsoft Encarta, Korea Unmasked (Won-bok RHIE), Age of Empire II