Saya Ini Baik Atau Cuek?

Tadi sore saya menaiki bus Trans Jogja dalam perjalanan menuju kos-kosan saya dari terminal. Saya menaiki jalur 3A turun di shelter/halte sebelum perempatan ring-road utara – jalan Kaliurang. Nah, dalam bus tersebut ada seorang bapak-bapak yang sudah cukup sepuh yang kebetulan duduk di sebelah saya. Nah, 3 halte sebelum saya turun, beliau menanyakan di mana untuk turun di daerah Kuningan. Setahu saya daerah Kuningan ya daerah perempatan itu. Memang, jarak halte ke perempatan itu masih ada sekitar 300 meter. Saya kemudian, sambil tersenyum tentunya, menjawab di halte yang sama seperti saya turun, tetapi kalau kurang yakin silakan tanyakan petugas di bus tersebut. Bapak itu pun mengiyakan dan kemudian diam. Kemudian satu halte sebelum halte tujuan saya, iseng-iseng saya tanyakan mau ke mana tujuan si bapak itu. Dijawabnya kalau dia akan ke jalan Kaliurang, tapi tidak dia jelaskan secara spesifik di kilometer berapa. Dan kami pun kembali diam.

Nah, kemudian sampailah saya di halte tujuan. Sesuai petunjuk saya tadi, bapak itu benar-benar menanyakan pada mas-mas petugas bus, dan dijawab memang di situlah turunnya. Saya kemudian turun dari bus dan keluar halte, sementara bapak tadi saya lihat masih bertanya kepada petugas halte. Saya jadi agak iba dengan bapak itu. Umurnya kira-kira sudah 50-an lewat, tampak ringkih (dengan bau napasnya yang kurang sedap :P), dan tampak kurang mengenali area sekitar. Apalagi hari sudah malam, sekitar jam 19.30 malam di mana transportasi umum yang berhenti di mana saja sudah jarang. Saya bertanya-tanya sendiri apakah tidak ada kerabat yang menjemputnya, apakah dia bisa sampai ke tujuannya, dan pertanyaan semacam itu. Sempat pula terpikir untuk mengantarkan bapak itu, misalnya mengajak dia ke kosan saya dulu kemudian mengantarnya menggunakan motor ke tempat tujuannya. Atau kalau tidak mengajaknya ke kosan saya, setidaknya menemaninya berjalan kaki ke perempatan Kentungan itu untuk kemudian menelponkan kerabatnya. Tapi pada akhirnya saya hanya diam saja dan berlalu. Logika saya mengatakan, saat itu saya sedang kebelet pipis (beneran, susah ditahan dari terminal) dan pulsa hape saya tinggal Rp 85,-, tidak akan banyak berguna kalaupun saya memaksakan menemaninya. Setelah memandangi bapak itu diberi penjelasan oleh petugas halte, saya hanya berlalu menuju kosan saya. Dan berusaha melupakan kejadian barusan…

Jadi, ini saya yang terlalu baik atau saya yang terlalu enggan membantu orang?πŸ˜•

13 Responses to “Saya Ini Baik Atau Cuek?”


  1. 1 Frea July 9, 2009 at 23:28

    Dilema ini juga sering terjadi pada saya, apa saya harus berbagi dan menolong sementara keadaan saya mungkin juga sedang tidak memungkinkan,
    Saya tidak bisa menilai apa arm terlalu baik atau justru enggan menolong, saya merasa tidak punya kapasitas untuk itu, sangat wajar untuk merasa iba, dan apapun keputusan yang arm ambil sudah di pertimbangkan masak-masak.
    Ini lah terkadang apa yang saya sebut dengan, terkadang hati dan tangan suka berbeda pendapat.
    Saran saya?
    Jujurlah pada diri sendiri. toh akan lebih bermakna bila bantuan itu dilakukan dengan sepenuh hati, dan lakukan lah apa yang kita bisa dan masih dalam jangkauan kita.

    Itu sih hanya dua sen saya sajaπŸ˜›

  2. 2 christin July 10, 2009 at 02:07

    kamu merasakan apa setelah itu? jujur pada diri sendiri sajaπŸ˜€

  3. 3 Takodok! July 10, 2009 at 05:00

    Nah, iya, sepertinya tidak puas? Wajar. Soal baik-cuek nya tdk usah terlalu dipikirkan. Kadar bantuan jg soal kebiasaan, jd hampir spt reaksi spontan.

    Batasmu segitu ya ndak masalah kan?πŸ˜€

  4. 4 TamaGO July 10, 2009 at 07:20

    Saya sendiri juga orangnya moody klo soal ngebantu orang
    Klo soal kejadian di atas sih nggak usah terlalu dipikirkan, mungkin waktu itu lagi cape bgt setelah perjalanan jauh jadi rasanya males nganterin orang (apalagi klo jauh).

    Kepikiran kenapa tadinya nggak ngebantuin tuh bapak2 sampe berusaha meyakinkan diri sendiri klo itu tindakan yang bisa dimaklumi karena lagi kebelet pipis menunjukkan kamu bukanlah orang yang cuek (klo cuek mah nggak mungkin kepikiran gitu).

    Dan punya pikiran nganterin tuh bapak2 pake motor di kosan menunjukkan sebenarnya kamu itu orang yang baik.klo orang jahat banget akan berpikiran ngajak tuh bapak2 ke tempat sepi, orang jahat iseng bakal pura2 membantu tapi nunjukin arah yg salah,orang yang lumayan baik akan membantu dengan menunjukkan arah yang dituju tapi nggak sampe dianterin,orang baik banget model sinetron bakal nganterin tuh bapak2 sampe tempat tujuan di tengah hujan deras trus ngasih uang ke bapak2 itu karena nggak tega liat keadaannya trus waktu balik ke kos diserempet motor *ngelantur*

  5. 5 Sukma July 10, 2009 at 07:42

    Kalau dibilang cuek nggak juga sih, setidaknya Arm-kun mikirin nasib bapak ituπŸ™‚

  6. 6 Felicia July 10, 2009 at 08:26

    niatnya udah baik sih…
    tapi kalo cuma di niat doank, ga direalisasikan, orang lain jadi ga bisa merasakan kebaikannya itu…hehe…πŸ˜€
    saya juga sering gitu, mikir kayanya saya mesti bantuin deh…
    tapi pada akhirnya cuma nungguin orang lain yang bantuin…

  7. 7 phiy July 10, 2009 at 10:06

    persis. aku juga suka gitu. kadang dalem hati, dalam pikiran, pengennya bantuin orang. tapi sayangnya apa yang ada di aku waktu itu blum cukup untuk bantu banyak. akhirnya cuma jadi angan2 d..πŸ˜€

  8. 8 rukia^^ July 10, 2009 at 10:24

    saya juga sering seperti itu, jadi nggak usah terlalu dipikir banget. Lagian Arm-chan sudah membantu sesuai kemampuan, memberi informasi itu juga bantuan kan ya:mrgreen:

  9. 9 Arm July 11, 2009 at 06:49

    @ Frea | christin :
    iya, saya sudah coba jujur pada diri sendiri, dan setelah itu ya tidak merasakan apa-apa lagi, hanya keinginan untuk membantu sesaat ^^
    mungkin karena pada dasarnya manusia pengen membantu manusia lainnya ya, hanya pelaksanaannya tergantung pada kondisi memungkinkan atau tidak (atau malah tergantung sifat orangnya juga :P) ^^
    ___

    @ Takodok! :
    ho oh, batas segitu bagi saya ngga masalah sih^^’
    ___

    @ TamaGO :
    ahahaha…
    kok bisa2nya ada kepikiran kejadian macem sinetron gitu^^’
    yep, saya juga sudah memaklumi (atau membuat pemakluman :P) kondisi saya kemaren itu^^’
    ___

    @ Sukma :
    hehe… iya sih ^^
    ___

    @ Felicia | phiy | rukia^^ :
    nah itu, pemikiran tanpa tindakan tidak akan ada efeknya^^’
    yah, sebaiknya memang ada tindakan, tapi kalaupun baru sampe taraf niat juga mendingan, kan ya..? (mencari pembenaran :P)

  10. 10 Arm alergic July 11, 2009 at 12:49

    jawabannya sudah sangat jelas! kenapa ditanyakan?

  11. 11 Snowie July 13, 2009 at 22:44

    Sda. Udah tau jawabannya, kenapa tanya?:mrgreen:
    .
    .
    .
    Perasaan, ke dua komen saya pake “sda” deh.πŸ˜€

  12. 12 Arm July 14, 2009 at 08:04

    @ Arm alergic & Snowie :
    apa dong?πŸ˜•
    yah, anggap aja saya orang yg tidak terlalu baikπŸ˜›

  13. 13 Asop July 19, 2009 at 12:41

    Hmmm…. tampaknya itu biasa di dunia sekarang ini….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: