Mulai tanggal 25 Oktober 2009, alias minggu terakhir di bulan Oktober, di beberapa negara di belahan bumi utara kembali memundurkan waktunya satu jam. Dalam rangka apa? Kembali ke waktu normal dari waktu yang dimajukan di awal musim semi (minggu pertama bulan April) dalam rangka Summer Time atau disebut Daylight Saving Time (DST) di Amerika.
DST ini dilaksanakan di negara-negara berlintang tinggi, di mana pada musim panas siang hari berlangsung lebih lama dari malam hari. Siang hari yang sudah lebih lama itu dibuat lebih lama lagi menurut waktu pada jam dengan memajukan waktu 1 jam. Semua negara Eropa menerapkannya, sebagian besar Amerika Utara juga menerapkannya, beberapa negara Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika serta sebagian Australia Selatan juga menerapkannya. Dengan memajukan waktu 1 jam, hasilnya siang hari berakhir lebih malam menurut jam.
Mekanisme dari DST ini adalah memajukan waktu di jam menjadi 1 jam lebih cepat pada hari Minggu pertama bulan April, yang dianggap sebagai awal musim semi, pada jam 02.00 menjadi jam 03.00 dini hari sehingga hari itu memiliki 23 jam. Kemudian waktu berjalan seperti biasa sampai pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, yang dianggap akhir musim gugur, orang-orang kembali memundurkan waktunya pada jam 02.00 menjadi jam 01.00, dan hari itu mengalami 25 jam. Tentu saja mekanisme sebaliknya berlaku di belahan bumi selatan, seperti Australia, Amerika Latin, maupun Afrika bagian selatan. Mereka memajukan waktunya di bulan Oktober, dan memundurkannya kembali di bulan April, karena musim panasnya terjadi pada waktu yang berbeda. Oiya, penentuan hari pe-maju-mundur-an waktu ini juga tidak sama di setiap negara, tapi kebanyakan berkisar pada bulan April dan Oktober
Dengan siang hari yang berlangsung lebih lama, diharapkan masyarakat dapat menghemat penggunaan energi karena aktivitas pada waktu yang menurut jam bisa jadi sudah malam (misal jam 20.00) masih terang benderang karena matahari baru terbenam setelahnya (misal jam 21.00). Karena itu disebut Daylight Saving Time. Selain itu diharapkan juga kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada jam-jam yang seharusnya sudah gelap dapat dikurangi dengan kondisi masih terang karena siang yang diperpanjang.
Tentu saja, terdapat efek samping dari pelaksanaan DST ini yang terkait dengan perbedaan waktu antarnegara. Bahkan sebelum diterapkan DSTpun sudah terdapat beberapa permasalahan dalam pembagian zona waktu di bumi. Bumi ini terbagi menjadi 360 derajat yang diwakili oleh garis-garis meridian (bujur), 180 membujur ke barat (BB) dan 180 membujur ke timur (BT). Normalnya setiap 15 derajat terdapat perbedaan waktu 1 jam. Tetapi demi kepentingan ekonomi ada banyak negara yang memaksakan pembagian zona waktunya melangkahi dari “aturan 15 derajat = 1 jam”
. Bahkan RRC yang wilayahnya terdiri dari beberapa zona waktu, menyeragamkan waktu di seluruh wilayahnya dengan alasan memudahkan pemerintahan yang seragam dan memudahkan aktivitas ekonomi. Indonesia sendiri membagi wilayahnya menjadi 3 zona waktu, yaitu WIB, WITA, dan WIT.
Kembali ke masalah DST dan pembagian zona waktu antarnegara. Karena Indonesia bagian barat (WIB) yang terletak pada sekitar 95-105-an derajat BT dari meridian utama (0 derajat) maka normalnya WIB memiliki perbedaan waktu 7 jam dengan meridian utama (GMT). Nah, dengan dimajukannya waktu 1 jam pada summer time ini maka perbedaan waktu antara GMT dengan WIB menjadi 6 jam. Perbedaan ini hanya berlaku selama summer time dilaksanakan, yakni pada bulan April-Oktober. Hal ini terutama sering membingungkan penonton siaran langsung sepakbola di Indonesia, karena misalnya kickoff di Inggris pukul 14.00, tapi di jadwal lokal tertulis pukul 20.00 WIB. Tentu saja, dengan memahami pelaksanaan DST/summer time kita menjadi paham mengapa bisa terjadi demikian.
Hal tersebut bisa juga terjadi pasca pengembalian waktu mundur 1 jam pada bulan Oktober. Seperti pada pertandingan hari Minggu, 25 Oktober 2009 antara Liverpool v.s. Man. United, kickoff waktu Inggris adalah pukul 14.00 CET (Central European Time) tetapi di jadwal lokal (WIB) pukul 21.00 WIB. Itu normal. Tetapi ada saja penonton yang terbiasa menggunakan konversi waktu GMT + 6 untuk WIB karena sebelumnya terbiasa dengan konversi summer time tidak menyadari kalau mulai hari itu (25 Oktober 2009) konversi waktu kembali ke GMT + 7 ^^
Well, apapun konversinya, mau summer time ditambah jadi 2 jam atau 3 jam, pertandingan pada tanggal 25 Oktober 2009 itu dimenangkan Liverpool dengan skor 2-0, intinya itu
–
kalo mau lebih memahami, bisa baca pengalaman blogger ini dan ini yang sudah pernah mengalami tinggal di negara penganut summer time, atau bac-baca di sini
terakhir komen