View Larger Map
Bulan lalu, saya sempat jalan-jalan ke Tual, sebuah kota di Provinsi Maluku. Kota ini terletak di Pulau Dullah, berdekatan dengan Pulau Kei Kecil. Pulau Kei Kecil adalah wilayah Kabupaten Maluku Tenggara dengan Langgur sebagai ibukotanya, sedangkan Pulau Dullah merupakan wilayah Kota Tual seutuhnya.
Untuk mencapai Tual dari Jakarta, bisa melalui penerbangan ke Ambon dulu, untuk kemudian terbang ke Langgur.
Berikut laporannya :
Pulau Kei Kecil dan Pulau Dullah terletak berdekatan, bahkan bisa dikatakan hampir menempel karena selat tersempit yang memisahkan kedua pulau tersebut hanya sekitar 150 meter. Sepertinya di masa lalu kedua pulau tersebut menyambung, dan seiring waktu terpisah karena abrasi yang intensif. Kedua pulau tersebut dihubungkan oleh Jembatan Watdek yang dibangun pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 1992. Topografi kedua pulau tersebut relatif datar, dengan kemiringan rata-rata tidak lebih dari 30%, ketinggian tidak lebih dari 200 m, dan beda tinggi rata-rata tidak lebih dari 50 m. Tidak terdapat gunungapi di pulau ini, dan menurut penduduk setempat gempa relatif jarang terjadi jika dibandingkan dengan di Kepulauan Aru. Sepertinya kedua pulau ini terdapat pada zona tunjaman antara lanjutan lempeng Eurasia dan Indo-Australia.
Potensi pariwisata ada pada pantai-pantai berpasir putih, berombak tenang, dan berair jernih yang mengelilingi kedua pulau tersebut. Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara tampaknya cukup serius menggarap potensi pariwisata, dengan mulai membangun sarana dan prasarana di Pantai Ngur Bloat (yang menurut bahasa setempat berarti Pasir Panjang), sebuah pantai pasir putih yang berada di bagian barat laut Pulau Kei Kecil.
Komoditas utama wilayah ini adalah mutiara. Di wilayah Kota Tual, terdapat berbagai toko mutiara yang menjual mutiara air asin maupun air tawar. Harga yang ditawarkan relatif sama, berbanding lurus dengan ukuran. Mutiara hitam biasanya lebih mahal dari mutiara putih, dan mutiara air asin juga lebih mahal dari mutiara air tawar. Uniknya, penjual mutiara ini kebanyakan adalah keturunan Arab, yang sepertinya telah tinggal di sini dari berbagai generasi.
Komoditas utama lainnya adalah ikan laut, suatu hal yang wajar mengingat posisinya yang dikelilingi lautan. Sayur dan buah relatif susah diperoleh, dan kedua pulau ini mengandalkan pasokan sayur dan buah dari luar pulau untuk memenuhi kebutuhannya.
–
Sekian laporannya, copas langsung dari laporan tugas ke luar kota
. Berikut tambahan foto ^^









Astagaaa itu klaim bagasi?
Saya pikir ngantre sembako..
Saya suka foto pantai Ngur Bloat-nya! Langitnya itu lho, gak tahan saya!
Salam kenal.
brarti seafood murah dong, bisa puas2in makan lobster, hiu goreng, dan sifut2 lain yg biasanya malah mahal di kota
oh ini yang kamu bilang waktu itu?
@ Asop: pantainya emang bagus kok
masih sepi, tapi ada semacam wisma yang tadinya dikelola gereja setempat kalo pengen bermalam di deket pantai 
__
@ Irfan Handi: salam kenal juga
__
@ TamaGO: gatau juga, belom sempat nyobain malah
__
@ angrynerdrock: ho oh