Tanggal 29 Juli kemarin, saya iseng jalan-jalan ke kota Semarang. Tak usahlah ditanya apa alasan saya pergi jalan-jalan, yang jelas di situ masih ada teman dan saudara untuk ditemui
. Saya berangkat dari kosan sekitar jam 9 pagi, dengan diselingi acara mules (karena sarapan dulu, padahal biasanya ga pernah sarapan) ketika menunggu bus kota ke terminal = =’. Dan penantian bus kota jalur 5 ke arah terminal Jombor itu benar-benar lama
. Akhirnya saya berangkat sekitar jam 10 dari terminal Jombor. Di perjalanan yang panas dan belum termasuk PPn (Para Pengamen) itu, entah kenapa saya selalu kebagian tempat duduk di sisi yang kena matahari, padahal dah pindah sampe 2 kali = =’. Akhirnya saya sampai di Semarang Ungaran sekitar jam 1 siang. Saya turun di Ungaran Pojok untuk kemudian dijemput oleh teman saya (yang sialnya lagi pup sehingga saya terpaksa menunggu sekitar 20 menit = =’). Setelah sampai di “rumah tumpangan” teman saya itu di daerah Gunung Pati, sayapun menyusun rencana. Tadinya teman saya itu yang akan menemani saya muter-muter melihat obyek yang menarik di kota Semarang. Tapi ternyata dia ada jadwal jaga warnet dari jam 4 sore sampai jam 12 malam. Jadi sayapun mengabari kakak sepupu saya, yang masih kuliah di situ, untuk minta (baca : maksa
) ditemani jalan-jalan. Setelah sepakat, sayapun meluncur diantar teman saya itu turun bukit lewat lembah naik bukit lagi ke kosan kakak sepupu saya itu di daerah Tembalang
. Dengan kamera pinjaman (turis ora modal
) di tangan dan skill fotografi hampir ngga ada, saya siap menjelajah Semarang
Hari Pertama
—
Tadinya saya ingin jalan-jalan menggunakan transportasi umum, dengan maksud biar bisa ke sini sendiri kapan-kapan. Tapi ternyata kakak sepupu saya itu juga ngga begitu apal jalur-jalur transportasi umum di situ = =’. Dan lagi, dia dapet pinjeman motor nganggur dari temen kosannya, ya sudah akhirnya jalan-jalan naik motor
. Motornya Mio, tadinya saya meragukan apakah motor itu kuat diajak naik turun bukit. Ternyata bisa-bisa aja, dan pengalaman di hari berikutnya semakin meyakinkan kalo naik Mio lebih enak, hehe
.
Tujuan pertama adalah kelenteng Sam Po Kong. Kelenteng ini dibangun untuk mengkultuskan menghormati laksamana Zheng He (Cheng Ho alias Sam Po Kong) yang konon kabarnya pernah singgah di Semarang pada pelayarannya di awal abad ke-15. Dan bagian depan kelenteng tersebut konon dulunya langsung berhadapan dengan laut Jawa. Sepertinya begitu sih, berdasarkan keberadaan pasir pantai di depan kelenteng tersebut. Lagipula kalau dipikir-pikir sedimentasi di daerah pantai laut Jawa (pantura Jawa dan pantai timur Sumatera) relatif tinggi, sehingga masuk akal kalau garis pantai sudah berubah jauh selama sekitar 600 tahun. Hanya saja apakah Zheng He pernah singgah di Semarang atau tidak, saya juga ragu-ragu karena setahu saya kota-kota utama yang rutin dikunjungi Zheng He di Indonesia dalam pelayarannya hanya Gresik, Surabaya, Palembang, dan Pasai
. Mungkin sewaktu dia singgah di dekat Semarang karena mengungsi ketika armadanya terlibat perang saudara di Majapahit dalam pelayaran pertamanya itu yang benar-benar singgah ke dekat Semarang ^^’. Btw, saya pernah membuat postingan tentang pertempuran-pertempuran yg dialami armada Zheng He selama perjalanan muhibahnya di abad XV, kalau Anda tertarik dengan sejarahnya ![]()
Kembali ke soal jalan-jalan
. Untuk masuk ke kelenteng ini gratis, paling bayar parkir aja. Tapi ternyata itu cuma di halaman kuilnya saja
. Sekarang area kuilnya (ada 3 bangunan) diberi pager pembatas, dan hanya pengunjung yang datang untuk bersembahyang yang boleh masuk
. Padahal kata kakak sepupu saya dulu bebas-bebas aja masuknya. Tapi sebenernya pengunjung biasa juga boleh masuk, dengan membayar 75rb dan bisa berfoto di kuil dengan memakai baju tradisional China
. Huhuh… kalau saya paksa masuk dengan membayar 75rb, besoknya saya ga bakalan bisa pulang ke Jogja, yasudah akhirnya terpaksa cuma foto-foto dari luar area pembatas = =’. Sempat terpikir untuk masuk menyamar jadi pengunjung yang bersembahyang, tapi ide itu segera dibatalkan karena sudah kadung ketemu dengan pemandu tempat tersebut
.
–
Setelah puas berfoto di kelenteng, kamipun menuju tujuan selanjutnya, gedung Lawang Sewu. Gedung ini dulunya dipakai sebagai kantor perusahaan kereta api Belanda, tetapi sekarang lebih dikenal sebagai gedung serbaguna yang angker
. Untuk masuk ke dalam gedung ini dikenakan tarif 5rb per orang, dan konon sebaiknya menggunakan jasa “pawang alam gaib”-nya, yang sepertinya juga kuncen bangunan itu, untuk “meminta ijin” dari “penghuni” yang konon ada di situ. Nah, jasa pawang ini biasanya dikasih tarif “seikhlasnya”. Oleh bapak pawang itu dibilang mereka ngga masang tarif, tapi kebanyakan orang ngasih 25rb (kok ya podho wae pasang tarif = =’). Akhirnya saya bilang ke bapak itu kalo kami pikir-pikir dulu sambil jalan-jalan di depan bangunan tersebut. Nah pas melintasi di samping bangunan, terdapat gang yang ditutup barikade kawat yang terbuka setengah. Karena itu terhubung ke halaman belakang gedung, maka kamipun langsuk masuk saja dengan pertimbangan itu termasuk halaman, bukan dalam gedung
Setelah foto-foto sebentar di halaman belakang tersebut, tiba-tiba kami dipanggil oleh pawang yang tadi, dan ditagih 5rb per orang untuk tarif masuk
. Dan dengan nada agak kesal, pawang itu bilang, “Ngga apa-apa ngga pake pemandu. Silakan masuk dan keliling-keliling, tapi hati-hati ya!” Kamipun masuk ke bangunan itu, maksudnya untuk mencari pintu keluar. Tapi karena ngga nemu-nemu, akhirnya balik lagi ke celah yang dibarikade tempat kami masuk tadi dan keluar dari situ
.
Setelah sempat foto-foto sebentar di lokomotif tua yang dipajang di halaman depan, kami menuju bunderan Tugu Muda yang terletak di seberang gedung Lawang Sewu itu. Hari sudah menjelang senja dan kami dengan norak berfoto di situ dengan digangguin anak kecil yang bermain air, dan melihat mahasiswa (sepertinya) yang menjadi relawan KPK membagi-bagikan stiker antikorupsi di bunderan tersebut.
–
Sepuas berfoto di Tugu Muda, kami meluncur ke situs Kota Lama. Menurut kakak sepupu saya, keliling kota lamanya sebaiknya jalan kaki saja. Jadi motorpun diparkir di Stasiun Tawang, dan kami berjalan-jalan menjelajahi Kota Lama (dengan diselingi insiden batere kamera habis
). Mula-mula menuju semacam kolam, lazim disebut volder, yang terbentang di depan stasiun tersebut. Kami duduk-duduk sebentar di tepi kolam sambil memfoto langit senja dan pantulan air. Belakangan saya diberitahu teman saya kalo itu tempat mangkalnya para bencong beberapa jam kemudian = =’. Sepertinya timing saya tepat ^^.
Kemudian kami melanjutkan berjalan-jalan menuju ke Gereja Blenduk. Gereja ini memiliki ciri khas kubah blenduk-nya yang memberikan namanya. Kubah begitu merupakan ciri bangunan Belanda di jaman kolonial. Sialnya sepanjang perjalanan ini kemampuan fotografi saya yang payah menuai karma. Kombinasi situasi malam dan kamera pinjeman yang pas-pasan ditambah skill fotografi nyaris nol menghasilkan hasil foto yang jelek T_T. Kebanyakan fotonya kabur atau kurang cahaya atau goyang.
–
Setelah capek muter-muter Kota Lama, kami kembali ke daerah dekat kos-kosan kakak sepupu saya untuk mencari makan malam. Selesai makan, iseng-iseng kami muter-muter kampus dia di bukit Tembalang. Kampus yang di bukit itu kampus untuk fakultas-fakultas eksakta, sementara fakultas-fakultas non-eksakta ada di kota bagian bawah. Kampus atas itu luas, berbukit-bukit, dan katanya kalo siang panasnya minta ampun
. Di berbagai tempat sedang dibangun bangunan-bangunan baru. Katanya sih kampus yang ada di bawah (fakultas-fakultas non-eksak) akan dipindahkan ke daerah atas semua.
Nah, permasalahan muncul ketika selesai muter-muter kampus itu sudah jam setengah sepuluh malam. Angkutan umum ke tempat teman saya sudah tidak ada, dan kakak sepupu saya tidak bisa mengantarkan saya ke tempat teman saya, sementara teman saya itu baru bisa menjemput setelah jam 12 malam. Akhirnya sayapun luntang-lantung di kos-kosan teman kakak sepupu saya sampai jam 12
. Lumayan menyenangkan juga sesi luntang-lantung ini, saya mendapat beberapa cerita unik. Apalagi karena kebetulan ada teman dari teman kakak sepupu saya (halah ribet amat ya
) yang datang untuk meminjam uang
. Nah dia itu tidak langsung pulang begitu mendapat utangan, tetapi malah bercerita banyak hal tentang pengalamannya dulu
. Dan lagi, mas-mas ini sepertinya tipe yang tidak bisa cerita pendek-pendek, jadi kalo cerita harus panjang
. Tapi tidak apa, saya menikmati kok ceritanya, karena akhirnya ngga terasa sudah jam 12 malam aja
. Akhirnya teman saya datang menjemput dan saya kembali ke “rumah tumpangan” teman saya itu untuk beristirahat.
—–
Hari Kedua
—
Rupanya teman saya itu ingin menebus kegagalannya menemani saya di hari sebelumnya. Jadi dia menawarkan jasa mengantar saya ke obyek-obyek yang belum saya singgahi. Maka jam 9 kami berangkat ke kampus dia karena dia akan mencari dosen pembimbing skripsinya
. Saya sih seneng-seneng aja jalan-jalan ke kampus orang, menyamar sebagai mahasiswa setempat atau lulusan SMA yg mencari tempat kuliahan
. Sial buat teman saya, dosennya ada tapi tidak bersedia memberikan bimbingan karena ada acara di kampus pusatnya
. Jadi setelah main sekitar sejam di kampus dia, kamipun mencari sarapan dan meluncur ke obyek yang direkomendasikannya, yaitu Candi Gedong Songo.
Ternyata perjalanan menuju Candi Gedong Songo ini lumayan lama, memakan waktu sekitar satu setengah jam, dan harus mendaki-gunung-lewati-lembah karena candi tersebut memang terletak di puncak pegunungan. Motor yang saya tumpangi bersama teman saya kali ini motor bebek semi-otomatis, dan saya pikir akan kuat menanjak bukit. Ternyata berkali-kali kehabisan gas di gigi 2 dan 3 sehingga berkali-kali juga saya oper ke gigi 1 ketika menanjak
. Memang sih sewajarnya ketika menanjak menggunakan gigi rendah, tapi ketika sudah mendapatkan kelajuan di gigi 2 atau 3 biasanya masih bisa kedorong naik tanpa harus kehabisan gas
. Seketika teman saya nyeletuk, “emang lebih enak pake Mio ya?”
Akhirnya dengan susah payah kami sampai di Candi Gedong Songo tersebut. Untuk masuk harga tiketnya 7rb rupiah. Candi Gedong Songo ini merupakan kompleks candi yang terdiri dari 9 candi yang didirikan di berbagai bukit terpisah. Disediakan juga jasa naik kuda untuk mengelilingi kompleks candi tersebut, dengan tarif yang saya lupa
(kayaknya sekitar 100rb-an). Hawa di situ dingin, khas pegunungan, meskipun cahaya matahari sesekali menghangatkan. Kamipun mulai menanjak menapaki satu demi satu bangunan candi itu
. Secara umum kesembilan candi itu mirip, khas candi Hindu dengan bentuk prisma-limas dengan pahatan Dewa Hindu di sisi depan dan belakangnya. Tidak semua candi kami singgahi, ada 3 candi yang kami lewatkan karena posisinya jauh (pemalas!
) dan toh bentuknya mirip-mirip
. Ada juga sumber air panas yang mengandung belerang yang konon baik untuk kesehatan, khas daerah tinggi. Akhirnya setelah mengitari komplek candi tersebut, kami turun menuju pintu keluar. Seperti halnya tempat-tempat wisata di Indonesia, jalan menuju pintu keluar diarahkan pada kios souvenir dan warung makan. Untungnya saat itu tidak ada kios ataupun warung yang buka jadi tidak perlu pasang muka datar untuk menolak rayuan penjual
. Mungkin karena sudah bukan musim liburan sekolah dan itu hari Kamis jadi sepi, yang datang kebanyakan orang pacaran
. Ada menu unik yang sepertinya khas daerah wisata di pegunungan, yaitu sate kelinci
. Di tempat wisata daerah tinggi lainnya saya juga menemui menu sate kelinci ini
. Kelinci itu lucu dilihat maupun dielus, tapi enak juga disate
—
Sekitar jam setengah dua, kami log off dari situ. Saya diantar ke tempat menunggu bus menuju Jogja. Tidak lama saya menunggu bus menuju Jogja tiba, dan akhirnya berakhirlah petualangan saya di Semarang
. Mungkin kapan-kapan saya akan mencoba kota lainnya ^^’
—o-o—























Coba Bandung dong
Eh,eh, pengen deh masuk ke Lawang Sewu & ke Gedong Songo. Tapi kalau ke Gedong Songo ga tau jalannya
Kasih rutenya dong
Btw, heere itu apa sih?
Gambar yg terakhir menyebalkan
Jadi, sdh ketemu yg dicari ke Semarang?
Hari pertama bikin iri tuh. 6 Tahun di Semarang blum pernah ke Sam Poo Kong sama Lawang Sewu… Arggh..
^
Santai Mas, saya 11 tahun tinggal di Jogja belum pernah ke Taman Sari, padahal 200 meter doang dari rumah
Keknya kalo Arm itu suka hal hal yang ‘Antik’ begini ya?
Kelinci kasian
wah hasil jepretan kamera pinjemannya mayan bagus juga
hanjrit… postinganmu panjang bener… kalo diulur bisa lima meter
coba jakarta, jreng… ga ada wisata sejarahnya, sih… palingan kota tua, deket stasiun kota… atau ke ragunan, ke senayan… tapi jangan harap ada transport motor, yang ada cuman ngandalin busway
Aih…. nggak pernah nyinggah semarang.
kapan yah bisa kesana??? kapan-kapan????
Wah sip foto-fotonya. Kapan-kapan perlu nggembel ke Semarang nih…..
@ potato :
Bandung ya, bisa dicoba kapan2 ^^
ke gedong songo itu ada semacam angkot-nya kalo ga salah, tapi sampe di jalan masuk harus ngojek
ga tau, itu ada orang iseng mahat gituan di salah satu batu candi
___
@ Takodok! :


itu kan sisa kelinci
yg dicari? ada temen ama sodara tuh
wong saya ke semarang buat refreshing
karena ditolakkok___
@ Idub :

___
@ lambrtz :
hoo.. konon kabarnya Taman Sari isinya kosongan tur banyak spot buat foto2 ya?
___
@ geulist133 :

hehe.. yg cantik lebih suka lagi
kelinci sudah nasibnya untuk disate
___
@ TamaGO :
haha.. mungkin suhu TamaGO bisa memberi petunjuk cara memotret yg baik? ^:)^
___
@ Kurotsuchi :
yg nulis juga pegel 


haha, panjang ya
jakarta? boleh juga, ibukota yg lebih kejam dari ibu tiri ini
naik busway ya.. hehe, busway jogja juga belom sempat kujelajahi semua
___
@ Ando-kun :
haha.. saya juga belom sempat nyinggah Akiba kok ^^
___
@ Omahmiring :
hehe.. silakan nggembel ke Semarang
Huaaa.. puanjaaang postingnya. Dulu saya sempat singgah sebentar ke Semarang, sayang ga sempat jalan-jalan sih
.
Kalau mau cari gedung antik, saya ga perlu pergi jauh-jauh, malahan tiap hari ke sana. Kantorku itu gedung bekas peninggalan jaman Belanda, lengkap dengan suasana kuno dan spooky-nya
belalainya ganesha dicurikah?? ato kitanya yg gk bisa merawat peninggalan2 tersebut?? jadi inget borobudur yg kepala buddhanya pada ilang =_=
jalan2 site2 sejarah ya?? patut dicoba…
klo k bandung kabar2i aja , sy jga blom jalan2 site di bandung tuh hehe…
owh..trip toh…ke semarang toh.. *ngeloyor pergi*
Salam kenal.
hooo udah diposting toh. Btw, nanya dulu, ini lagi kaya benwit ya? (evilsmirk) banyak bener gambarnya, biasanya protes kalo ada yang masang gambar banyak
Waktu ke tempat kakak, saya cuma sempet ke Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Simpang Lima aja
*iri*
*pentung-pentung Arm*
semarang!!!!
saya dua tahun tinggal di sana… tapi gak pernah jalan-jalan..
*malah curcol*
fat. aku 3 tahun di semarang belom pernah ke sam po kong, gereja blendug, kota lama, gedong songo lewat doang pas munggah ungaran
Wah….pas aku n anak2 kpj ke sam po kong…kita boleh foto2 tu disana…meskpun bangunannya blm sempurna….kita masuk ke lawang sewu juga…..auranya emang mistis banget….Men….ke Jkt aja yuk…naek busway keliling kota…ntr mengunjungi museum prasasti n Kota Lama….kayaknya seru…ato keliling yk naek trans yogya…turun di prambanan….foto2 disana…tapi pas week-end ya….
@ Sukma :
hoo.. kantornya gedung antik dan spooky ya ^^
di sini juga banyak gedung antik sih, cuma ga tau spooky ato ngga
___
@ Marimo-head :
hoo.. kekesalan mahasiswa yg ga terima arca lambang kampusnya dipretelin

ke Bandung masih dalam perencanaan, belom tau mau ke mana aja ^^
___
@ kayass :
iya, jalan2.. silakan ngeloyor
___
@ Fietria :

salah kenal
*bergaya ala neng salah*
___
@ Rukijem :

hehe… itu upload foto-nya sampe semaleman itu = =’
kalo postingan pelesir tapi ga ada gambar sama aja kayak ngomongin cewe cakep, no pics = hoax
ya main2 aja, ada kakaknya tuh di Semarang kan
___
@ itikkecil :
wah, dua tahun itu pas umur berapa? ^^
___
@ my cousin :
suruh siapa selama di Semarang ga “memanfaatkan” mbak Koneng buat nemenin jalan2
___
@ Hesti :
ke Jakarta? boleh2 aja kapan2 ^^
muter2 naik busway wae
aduh fat, ngapain memanfaatkan si oneng, lha duluan gw gitu loh yang tinggal di semarang
hooo banyak yang nawarin ke bandung…
ayo ke bandung…hahaha…
btw ga sekalian wisata kuliner kah?
padahal di semarang kan ada bandeng dan kue moci yang enak…
biasa dikasi oleh2 itu sama temen…hehe…
jadi ini iklan kemarin? heh! nyebelin! *cekik Arm*
*liat gambarnya dowang, teks-nya kepanjangan*
ehem, tabahkanlah hatimu Nak..
he?!
teteup ya bro, jualan..
anw, setuju sama potato, kasi rute-nya dong.
percuma ngiklan tapi ga membantu menemukan tempatnya
rada sensi krn pengenKalo melihat daftar tempat yang dikunjungi, sepertinya ini memang wisata sejarah.
Tapi untuk sebuah perjalanan hemat 1,5 hari, ini keren, mengabseni tempat2 yang menjadi landmark kota Semarang. Btul2 sudah bisa ngaku: “pernah ke Semarang” 
BTW kenapa fotonya goyang? Motret sambil dibonceng di motor?
Eh, yang diatas itu komen keseribux??
Wah, saya musti dapet suvenir kaos Liverpul no. 11 nih
@ my cousin :
lha udah tinggal duluan ngapa ga jalan2 ^^
___
@ Felicia :

Bandung iya kapan-kapan ^^
saya belom pernah khusus pergi ke Bandung sih, pernahnya hanya lewat
kalo wisata kuliner saya ga bisa balik Jogja lagi besoknya
___
@ Lumijer :
yayaya.. saya tabah menghadapinya
jualan apa?
tanya sopir angkot aja
___
@ jensen99 :
. kita jalan kaki kok pas keliling kota lama ^^
sebenernya bukan niatnya wisata sejarah sih ^^
itu goyang karena malem2, cahaya kurang sementara bliz kamera ga kuat
eh, iya juga, postingan ke-1000
nganu, kalo musim kemaren no.11 itu Albert Riera, kalo mau si Yossi Benayoun dia no.15
@ Arm
Lha, yang saya incer emang kaosnya Riera! Sebagai seorang pemain PES 2009 (apalagi Riera harus diciptakan sendiri karena secara default gak ada dalam gim) tentu saja saya sedikit hafal seragam pemain.
Gambar yang keren. Tapiiiiii, jauh….
mw k jombor kan bisa pake colt busuk yg jurusan prambanan-jombor, klo nunggu jalur 5 emang lama (g tanya pakarnya dulu sih..)
foto2 senjanya keren men!!