Archive for June, 2009

Curiousity Brings a Genie ^^

Kisah ini diambil dari salah satu dongeng di Kisah 1001 Malam (Arabian Nights), saya comot langsung (dengan beberapa penyingkatan) dari buku One Thousand and One Arabian Nights karya Geraldine McCaughren terbitan Elex Media Komputindo :) *banyak2 terima kasih buat mbak Lumi yg bersedia mencarikan dan mengirimkan buku tersebut :) *. Judul asli kisah ini di buku tersebut adalah “Nelayan dan Sebuah Botol”.

Ada seorang nelayan yang cukup beriman meskipun dia lugu dan kurang berpendidikan. Suatu hari yang cerah dia pergi menjaring di tepi pantai.

“Oh Tuhan Sang Penguasa Langit yang membuat banyak ikan di laut, jalaku sudah sampai dasar. Akan mendapat apakah aku hari ini?” katanya.

Pada helaan pertama, tanpa sengaja jaringnya  mendapat seekor ikanpun menarik sebuah bangkai keledai. Diapun pindah ke tempat lain sambil memandang langit dan berkata,

“Oh Tuhan yang menciptakan ikan, keledai, dan nelayan, berkatilah kami agar tidak mendapat keledai lagi.” Lalu dia kembali menebar jalanya. Kali ini y diperolehnya adalah tembikar penuh lumpur.

“Oh Tuhan yang Maha Kuasa, aku bersyukur atas pemberian tembikar ini. Namun aku akan sangat bersyukur jika Engkau berkenan memberiku banyak  ikan.” Dan diapun menebar jalanya lagi, tapi malang, jalanya tersangkut batu karang dan sobek.

“Oh Tuhan, apakah ayah-ibuku pernah membuatmu murka sebelum aku lahir? Atau ini bagian dari leluconmu?” tanyanya sambil memandang langit.

Ketika dia menarik jalanya, ternyata ada sebuah benda padat yg ikut tersangkut. Setelah diamati, benda tersebut adalah sebuah botol tembaga berwarna kehijauan yang tutupnya tersegel rapat. Dia tidak mengetahui apapun tentang botol tersebut, karenanya langsung saja dia membuka segelnya.

“Kira-kira apa isinya ya, kok sampe disegel gini dan dibuang ke laut sagala?” gumamnya sambil mengocok botol tersebut. Seketika keluar  debu yg kemudian berubah menjadi asap tebal dan menjelma menjadi sesosok jin besar dan menyeramkan. Mukanya pucat, dengan hidung besar seperti termos air, mata kuning seperti sulfur, mulut sedalam jurang, janggut merah, dan bentuk kepala agak kotak.Lalu langit pun bergetar ketika si jin berbicara,

“Oh Sulaiman yang agung sang pengawal Tuhan, aku takkan pernah melupakanmu yang merasa paling benar – tapi kau bukan Sulaiman, kodok budut.”

Si nelayan cuma menggeleng kebingungan.

“Siapa yang membuka botol ini?” tanya sang jin.

“Saya, tuan”

“Bergembiralah! Aku membawa kabar baik untukmu, ajalmu, akan tiba hari ini juga!”

Si nelayan protes, “Mana bisa?! Apa salahku?”

“Sudahlah kodok buduk, silakan pilih kau mau mati dengan cara apa. Tapi sebelum kau putuskan akan mati dengan cara apa, biarlah kuceritakan sebuah kisah,” kata sang jin sambil menyentil burung yg kebetulan lewat di dekatnya.

“Aku adalah Jin Ifrit yg memberontak terhadap Sulaiman si putra Daud. Dia berhasil mengalahkan pasukanku, dan menurungku di dalam botol ini karena aku tidak mau bertobat kepada Tuhan. Dia kemudian menyegel botol ini dan membuangnya ke tengah lautan.”

“Tapi Raja Sulaiman telah wafat 2000 tahun yang lalu!” protes si nelayan.

“Seratus tahun pertama aku bersumpah untuk mengabulkan 3 permintaan apapun dari orang yg berhasil membebaskanku dari botol ini.”

“Tapi tak ada yang datang.”

“Dua ratus tahun berikutnya aku bersumpah untuk memberi dia dan keluarganya kemakmuran sepanjang masa.”

“Dan tidak ada yang datang.”

“Lima ratus tahun berikutnya aku bersumpah memberi dia kekuasaan di muka bumi ini.”

“Dan tetap tak ada yang datang.”

“Seribu tahun berikutnya aku bersumpah… dan bersumpah terus sampai kesabaranku habis dan amarahku memuncak. Akhirnya aku bersumpah siapapun yang membuka botol ini akan kubuat dia merasakan penderitaanku selama beribu-ribu tahun terkurung di botol ini. Akan kucincang dia sampai sekecil atom. Suer!!”

Si jin tampak puas dan menyeringai jahat, sementara si nelayan menatapnya dengan hidung beringsut sambil berkata,

“Ck.. ck.. ck.. Ayolah, kamu becanda kan? Masa kamu mengharapkanku percaya cerita begituan?”

Si jin menjadi belingsatan, “KUKUTUK KAU DAN KETURUNANMU MENJADI ANJING BERMUKA KODOK!” teriaknya murka. Tapi si nelayan cuma cengar cengir.

“Udahlah, jujur aja! Kamu dateng dari mana? Ngga mungkin larr orang segedhe gaban kaya’ kamu bisa muat di botol seuprit ini. Tadi memang aku mengocok botol itu, dan tau2 ada asap dan kamu nongol. Aku memang cuma nelayan, tapi pasti tadi kamu ngumpet di mana gitu terus nongol untuk mengejutkanku, kan ya?”

Si jin menjadi semakin murka, sementara si nelayan melanjutkan.

“Coba sekarang aku masuk ke botol ini, pasti tidak bisa.” Dan sang nelayan pun mencoba memasukkan kakinya ke ujung botol tersebut, yang tentu saja tidak bisa masuk. “Lihat, ngga bisa kan? Kalo tubuhku dipotong kecil-kecil baru bisa.”

“Tapi aku ini jin…” sergah si jin Ifrit kesal.

“Yah, aku tahu! Tapi aku pernah bertemu jin yang ukurannya separuh badanmu (si nelayan berkata dengan meyakinkan) dan dia juga bisa melakukan apa yg kau lakukan. Tapi masuk ke dalam botol ini selama 2000 tahun dan masih segar bugar? Nei.. nei… ga mungkin itu! Jangan membodohiku, tuan! Ayolah, jujur saja! Kau datang dari mana?”

Nampaknya jin Ifrit mulai benar2 kesal karena si nelayan tidak mempercayai ceritanya. “Kodok buduk sialan! Ngga tau ya kalo aku ini sang jin penebar maut untuk nelayan2 buduk macem kau? Nih perhatikan! Akan kutunjukkan kekuatanku! Pasti kau bakal terpana melihatnya!”

Tubuh sang jin pun mulai berubah menjadi asap beraneka warna dan dengan kecepatan tinggi masuk ke dalam botol tersebut. Dengan sigap si nelayan menutup botol tersebut dan memasang kembali segelnya. Sekarang sang jin kembali ke tempat di mana Raja Sulaiman mengurungnya 2000 tahun yang lalu.

“Huh, kembalilah ke asalmu, wahai jin pengambil nyawa para nelayan! Aku harus memberitahu rekan2ku tentang hal ini supaya mereka tidak celaka. Semoga Tuhan melindungi kami dari jin2 semacam engkau!”

Kemudian dia melemparkan kembali botol itu ke tengah laut, dan lepaslah ia dari bahaya karena kecerdikannya yang mucul di saat-saat genting sebagai buah dari keimanannya.

Jadi memang, rasa penasaran terkadang membunuh kucing :mrgreen:

Si nelayan yang terlalu penasaran nyaris celaka ketika membuka sebuah botol tanpa tahu isinya. Saya yakin banyak di antara kita yang pernah juga mengalami kejadian yg mirip2 (meskipun tidak selalu bertaruh nyawa) :) . Ketika kita sudah dipenuhi oleh rasa penasaran akan sesuatu, sebaiknya kita selalu mempersiapkan dengan sesuatu yg lain untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu yg mengundang rasa penasaran kita itu :)

I Wish You Would’ve Smiled in The Bookstore

I wish you would’ve smiled in the bakery
or sat on tatty satty

That’s the first sentence of song’s lyric titled “The Bakery” by Arctic Monkeys. I’m not going to explain neither the song nor the band, just want to write about my little experience in the bookstore, instead of the bakery :D

After sending anime DVD to my friend at the post office this afternoon, I went to bookstore to buy some comics that scheduled to be released this week. Aaaand… in the bookstore, I saw couple of cute and attractive girls around. It’s pretty rare at those time, though. Either shop assistants or costumers, I look at them all, because staring is all I can do :P
As I wait my book being plastic-covered, I read a book titled The Boat by Walter Gilbert. It’s about survival instinct and cannibalism within a safety boat during World War II in west Sumatera offshore. Well, during those fast reading, I was looking around occasionally, and I can see more and more attractive female customers came. But as usual, I was only seeing and seeing at them, and sometimes watching :P

Then, after finished fast reading that book, I went to wrap-assistant to take my comics, and go home. As I walked to the exit, I saw a shop assistant of some booth within that store, and our eyes coincidentally met. I’m not sure who started it, but we were smiling each other :P   :cool: :mrgreen:
No, I don’t think anything strange nor weird. I’m not expectig any imaginative development or whatsover too. It just, it’s been ages for me being smiled at by a stranger girl, and I suddenly recall these song, The Bakery by Arctic Monkeys :lol: hehehe…

Kapel Bayi

Postingan ini saya buat karena sudah janji kepada mbak Jutek di plurk untuk menuliskan isi “ceramah” ngga genah saya kepada mbak Rukijem tentang Kapel Bayi :mrgreen:

Cerita ini saya ambil dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karya Michael C. Tang. Berikut ini adalah cerita lengkapnya …

Pada zaman dinasti Ming, terdapatlah sebuah biara yang bernama Kuil Lotus dan terletak di kota Nanning di bagian selatan China. Kuil itu memiliki luas beberapa ribu meter persegi dan sejumlah besar bangunan. Ada sekitar ratusan biksu tinggal di kuil tersebut. Pengunjung yang datang biasanya diajak berkeliling dan dilayani dengan sebaik-baiknya.
Yang terkenal dari kuil ini adalah Kapel Bayi-nya. Seorang wanita yang menginginkan anak dapat menjadi hamil jika dia berdoa semalaman di sana. Syaratnya adalah wanita yang datang untuk berdoa haruslah masih muda dan sehat. Mereka harus berpuasa dulu 7 hari di rumah sebelum berdoa di kuil. Di dalam kuil, setiap wanita harus berkonsultasi dulu dengan tongkat suci. Jika diramal bagus oleh tongkat suci, wanita itu boleh menginap semalam di sebuah kamar di Kapel Bayi untuk berdoa sendirian. Jika ramalannya tidak bagus, para biksu akan meminta wanita itu untuk berdoa sungguh2 dan kembali ke rumah dan mulai berpuasa selama 7 hari lagi.
Kamar2 di Kapel Bayi tidak berjendela. Ketika seorang wanita masuk ke kamar itu semalaman, para biksu menyarankan seorang anggota keluarganya untuk berjaga di luar pintu. Kebanyakan wanita2 tersebut hamil dan melahirkan bayi yg sehat setelah berdoa di situ.
Kuil itu sangat terkenal sehingga tidak hanya keluarga di dekat situ yang tertarik untuk berdoa di Kapel Bayi. Setiap hari ada sekumpulan orang pergi bersembahyang di biara itu dan membawa berbagai macam sesajian. Ketika para wanita itu ditanya bagaimana Buddha mengabulkan doa mereka, beberapa dari mereka menjawab bahwa Buddha memberitahu mereka di dalam mimpi bahwa mereka akan segera hamil, beberapa lainnya malu2 dan menolak mengatakan apa2. Beberapa dari para wanita itu tidak pernah lagi datang ke tempat itu, sementara beberapa lainnya rutin datang ke biara itu.
Kabar ini terdengar  oleh gubernur baru di distrik itu, Wang Dan. Gubernur Wang merasa curiga, “kenapa para wanita harus menginap semalaman di kuil?”
Diapun  pergi ke sana untuk melihatnya sendiri. Tempat itu cukup ramai, dengan dekorasi biara yg cerah dan dikelilingi oleh pohon cemara yg tinggi. Ketika salah seorang biarawan melihat sang gubernur, dia segera memanggil kepala biara dan mengadakan parade untuk menyambutnya. Setelah selesai membakar dupa dan berdoa di hadapan patung Buddha, gubernur Wang berkata kepada sang kepala biara, “Saya mendengar kemasyhuran kuil suci ini, dan bermaksud merekomendasikan anda kepada kaisar untuk menjadi kepala seluruh biarawan di distrik ini.”
Kepala biara sangat senang mendengarnya.
“Saya mendengar Kapel Bayi anda bisa menghasilkan keajaiban, bagaimana cara kerjanya?”
Kepala biara menjawab bahwa para wanita diwajibkan untuk berpuasa selama 7 hari dan apabila mereka benar2 tulus, doa mereka akan terwujud saat bermalam di Kapel Bayi. Gubernur Wang kemudian menanyakan apakah Kapel Bayi dijaga pada malam harinya. Para biarawan menerangkan bahwa tidak ada jalan masuk selain pintu menuju ruang doa, dan ada anggota keluarga yg diminta berjaga semalaman di luar ruangan.
“Kalau begitu,” kata gubernur, “saya juga ingin mengirimkan istri saya kemari.”
“Jika tuanku menginginkan anak,” kata kepala biara, “Istri tuan tidak perlu datang kemari. Cukuplah berdoa sungguh2 di rumah dan saya yakin akan dikabulkan.”
“Tetapi mengapa wanita lain harus datang ke sini?”
“Ketika orang terhormat seperti tuanku gubernur berdoa, saya yakin Buddha akan mendengar doanya secara khusus.”
“Terima kasih,” kata gubernur. “Saya ingin melihat ruangan ajaib itu.”
Ruang aula dipenuhi pengunjung yang berdoa di depan patung Dewi Kuanyin, Dewi Kebajikan, dengan seorang bayi di kedua tangannya dan 4 bayi di sekitar kakinya. Setelah membungkuk sejenak kepada Dewi Kebajikan, gubernur Wang mengunjungi ruang doa. Seluruh ruangan berkarpet. Ranjang, meja, dan kursi sangat bersih dan tertata rapi. Satu2nya pintu masuk hanyalah pintu. Tidak ada retak sedikitpun di dinding sehingga bahkan seekor tikuspun tidak bisa masuk.
Gubernur Wang kemudian pulang dengan masih memendam rasa penasaran tentang keajaiban Kapel Bayi. Dia kemudian menyuruh sekretarisnya untuk membawa dua pelacur kepadanya.
“Minta mereka berpakaian seperti ibu rumah tangga. Kamu sewa mereka dan kirim mereka untuk menginap semalam di Kuil Lotus. Berikan salah satu dari mereka sebotol tinta hitam dan yang lainnya sebotol tinta merah. Jika ada orang mendekati mereka suruh mereka untuk menandai kepala orang tersebut dengan tinta itu.”
Sekretarisnya menemukan 2 pelacur, Zhang Mei dan Li Wan. Sekretaris itu dan seorang pejabat pemerintahan kemudian menyamar sebagai suami kedua pelacur tersebut dan membawa mereka ke biara.

Selain 2 wanita tersebut, ada sekitar selusin wanita yang hendak berdoa di Kapel Bayi. Pada jam 8 malam, semua ruangan dikunci dan anggota keluarga berjaga di luar ruangan. Semua biarawan kembali ke ruangan mereka. Zhang Mei menanggalkan pakaiannya, memadamkan lilin, dan berbaring di tempat tidur. Pada pukul 10, bel berbunyi dan kesunyian kemudian menyelimuti kuil tersebut. Tiba2 Zhang Mei mendengar suara dari bawah ruangan. Kemudian dia melihat salah satu papan lantai bergeser dan seseorang berkepala gundul muncul dari bawah. Itu adalah kepala seorang biarawan.
Zhang Mei tidak bergerak. Biarawan itu berjinjit ke samping ranjang, menanggalkan jubahnya, dan menyusup ke ranjang. Zhang Mei merasakan biarawan itu memegangi kakinya.
“Anda siapa?” tanyanya, mencoba mendorongnya pergi. “Ini adalah kuil suci.”
“Saya dikirim oleh Buddha untuk memberimu anak,” sang biarawan berbisik sambil memeluk erat Zhang Mei.
Merekapun mulai bermain cinta. Rupanya biarawan itu sangat tinggi staminanya sehingga Zhang Mei yg pelacur berpengalaman pun sampai kewalahan. Ketika selesai, Zhang Mei mengoleskan tinta pada kepala si biarawan tanpa ketahuan. Sebelum pergi, biarawan itu memberikan bungkusan kecil.
“Ini adalah pil untuk membantu anda hamil. Minumlah 3/10 ons tiap pagi dengan air selama seminggu dan kamu akan mempunyai anak.”
Kemudian biarawan itu pergi, dan Zhang Mei terkantuk kelelahan. Beberapa saat kemudian dia disentuh oleh seorang biarawan.
“Apa? Kamu lagi?” teriaknya, mengira kalo itu biarawan yg sama. “Saya lelah.”
“Saya adalah orang lain. Saya akan membuatmu merasa bahagia,” kata biarawan itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. “Minumlah pil ini, maka kamu akan merasa segar sepanajng malam.”
Setelah minum pil itu, Zhang Mei merasa seluruh tubuhnya dialiri keangatan yg menyeluruh. Sama seperti biarawan pertama, Zhang Mei juga mengoleskan tinta merah ke kepala si biarawan. Biarawan itu tidak pergi sampai menjelang subuh.
Sementara di kamar lain, Li Wan juga mengalami kejadian serupa. Dia didatangi 2 biarawan secara bergiliran, dan diberi pil pelancar hamil serta pil pelancar bercinta. Li Wan pun tidak lupa memberi tanda ke kepala 2 biarawan yg mendatanginya.
Gubernur Wang meninggalkan kediamannya sekitar pukul 4 pagi disertai seribu pasukan polisi menuju Kuil Lotus. Ketika tiba di biara, mereka mengumumkan kedatangannya dengan memukul pintu keras2. Gubernur langsung menuju ke kediaman kepala biara, yg ternyata sudah bangun. Gubernur Wang lalu memerintahkan membawa surat ijin kuil dan mengumpulkan seluruh biarawan ke halaman depan kuil.
Kepala biara yg panik segera membunyikan bel dan beberapa saat kemudian seluruh biarawan telah berkumpul. Gubernur kemudian memerintahkan pasukannya memeriksa kepala para biarawan. Dua di antara mereka ditemukan tinta merah di kepalanya, sementara dua lainnya tinta hitam.
“Dari mana kalian mendapat tanda itu?” tanya gubernur.
Keempatnya bingung.
“Mungkin ada seseorang yg iseng terhadap kami.”
“Baiklah. Akan kutunjukkan siapa yg iseng.”
Kemudian kedua pelacur itu dibawa masuk. Mereka menceritakan kepada gubernur apa yg terjadi. Seluruh biarawan menjadi panik. Beberapa wanita juga diinterogasi, beberapa mencoba menyangkal. Dari pemeriksaan seluruh badan, ditemukan pil yg sama seperti yg diterima dua pelacur tadi. Para suami menjadi sangat marah dan membawa istri2nya pulang.
Sebuah penyelidikan mengungkapkan bahwa para biarawan sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Para wanita haruslah bertubuh sehat dan masih muda, dan para biarawan harus memiliki tubuh kuat dan vitalitas tinggi. Dikombinasikan dengan pil khusus pembantu kehamilan, tingkat kehamilan menjadi tinggi. Ketika para wanita menyadari kalo mereka dilecehkan, hampir semuanya tidak berani menceritakan karena takut merusak reputasi keluarga. Beberapa dari mereka senang2 saja melakukannya dan rutin kembali ke situ.
Gubernur kemudian menahan para biarawan dan membakar habis Kuil Lotus.

Jadi, anda berminat membuka usaha “Kapel Bayi”? :twisted:

Next Page »