Kisah ini diambil dari salah satu dongeng di Kisah 1001 Malam (Arabian Nights), saya comot langsung (dengan beberapa penyingkatan) dari buku One Thousand and One Arabian Nights karya Geraldine McCaughren terbitan Elex Media Komputindo
*banyak2 terima kasih buat mbak Lumi yg bersedia mencarikan dan mengirimkan buku tersebut
*. Judul asli kisah ini di buku tersebut adalah “Nelayan dan Sebuah Botol”.
—
Ada seorang nelayan yang cukup beriman meskipun dia lugu dan kurang berpendidikan. Suatu hari yang cerah dia pergi menjaring di tepi pantai.
“Oh Tuhan Sang Penguasa Langit yang membuat banyak ikan di laut, jalaku sudah sampai dasar. Akan mendapat apakah aku hari ini?” katanya.
Pada helaan pertama, tanpa sengaja jaringnya mendapat seekor ikanpun menarik sebuah bangkai keledai. Diapun pindah ke tempat lain sambil memandang langit dan berkata,
“Oh Tuhan yang menciptakan ikan, keledai, dan nelayan, berkatilah kami agar tidak mendapat keledai lagi.” Lalu dia kembali menebar jalanya. Kali ini y diperolehnya adalah tembikar penuh lumpur.
“Oh Tuhan yang Maha Kuasa, aku bersyukur atas pemberian tembikar ini. Namun aku akan sangat bersyukur jika Engkau berkenan memberiku banyak ikan.” Dan diapun menebar jalanya lagi, tapi malang, jalanya tersangkut batu karang dan sobek.
“Oh Tuhan, apakah ayah-ibuku pernah membuatmu murka sebelum aku lahir? Atau ini bagian dari leluconmu?” tanyanya sambil memandang langit.
Ketika dia menarik jalanya, ternyata ada sebuah benda padat yg ikut tersangkut. Setelah diamati, benda tersebut adalah sebuah botol tembaga berwarna kehijauan yang tutupnya tersegel rapat. Dia tidak mengetahui apapun tentang botol tersebut, karenanya langsung saja dia membuka segelnya.
“Kira-kira apa isinya ya, kok sampe disegel gini dan dibuang ke laut sagala?” gumamnya sambil mengocok botol tersebut. Seketika keluar debu yg kemudian berubah menjadi asap tebal dan menjelma menjadi sesosok jin besar dan menyeramkan. Mukanya pucat, dengan hidung besar seperti termos air, mata kuning seperti sulfur, mulut sedalam jurang, janggut merah, dan bentuk kepala agak kotak.Lalu langit pun bergetar ketika si jin berbicara,
“Oh Sulaiman yang agung sang pengawal Tuhan, aku takkan pernah melupakanmu yang merasa paling benar – tapi kau bukan Sulaiman, kodok budut.”
Si nelayan cuma menggeleng kebingungan.
“Siapa yang membuka botol ini?” tanya sang jin.
“Saya, tuan”
“Bergembiralah! Aku membawa kabar baik untukmu, ajalmu, akan tiba hari ini juga!”
Si nelayan protes, “Mana bisa?! Apa salahku?”
“Sudahlah kodok buduk, silakan pilih kau mau mati dengan cara apa. Tapi sebelum kau putuskan akan mati dengan cara apa, biarlah kuceritakan sebuah kisah,” kata sang jin sambil menyentil burung yg kebetulan lewat di dekatnya.
“Aku adalah Jin Ifrit yg memberontak terhadap Sulaiman si putra Daud. Dia berhasil mengalahkan pasukanku, dan menurungku di dalam botol ini karena aku tidak mau bertobat kepada Tuhan. Dia kemudian menyegel botol ini dan membuangnya ke tengah lautan.”
“Tapi Raja Sulaiman telah wafat 2000 tahun yang lalu!” protes si nelayan.
“Seratus tahun pertama aku bersumpah untuk mengabulkan 3 permintaan apapun dari orang yg berhasil membebaskanku dari botol ini.”
“Tapi tak ada yang datang.”
“Dua ratus tahun berikutnya aku bersumpah untuk memberi dia dan keluarganya kemakmuran sepanjang masa.”
“Dan tidak ada yang datang.”
“Lima ratus tahun berikutnya aku bersumpah memberi dia kekuasaan di muka bumi ini.”
“Dan tetap tak ada yang datang.”
“Seribu tahun berikutnya aku bersumpah… dan bersumpah terus sampai kesabaranku habis dan amarahku memuncak. Akhirnya aku bersumpah siapapun yang membuka botol ini akan kubuat dia merasakan penderitaanku selama beribu-ribu tahun terkurung di botol ini. Akan kucincang dia sampai sekecil atom. Suer!!”
Si jin tampak puas dan menyeringai jahat, sementara si nelayan menatapnya dengan hidung beringsut sambil berkata,
“Ck.. ck.. ck.. Ayolah, kamu becanda kan? Masa kamu mengharapkanku percaya cerita begituan?”
Si jin menjadi belingsatan, “KUKUTUK KAU DAN KETURUNANMU MENJADI ANJING BERMUKA KODOK!” teriaknya murka. Tapi si nelayan cuma cengar cengir.
“Udahlah, jujur aja! Kamu dateng dari mana? Ngga mungkin larr orang segedhe gaban kaya’ kamu bisa muat di botol seuprit ini. Tadi memang aku mengocok botol itu, dan tau2 ada asap dan kamu nongol. Aku memang cuma nelayan, tapi pasti tadi kamu ngumpet di mana gitu terus nongol untuk mengejutkanku, kan ya?”
Si jin menjadi semakin murka, sementara si nelayan melanjutkan.
“Coba sekarang aku masuk ke botol ini, pasti tidak bisa.” Dan sang nelayan pun mencoba memasukkan kakinya ke ujung botol tersebut, yang tentu saja tidak bisa masuk. “Lihat, ngga bisa kan? Kalo tubuhku dipotong kecil-kecil baru bisa.”
“Tapi aku ini jin…” sergah si jin Ifrit kesal.
“Yah, aku tahu! Tapi aku pernah bertemu jin yang ukurannya separuh badanmu (si nelayan berkata dengan meyakinkan) dan dia juga bisa melakukan apa yg kau lakukan. Tapi masuk ke dalam botol ini selama 2000 tahun dan masih segar bugar? Nei.. nei… ga mungkin itu! Jangan membodohiku, tuan! Ayolah, jujur saja! Kau datang dari mana?”
Nampaknya jin Ifrit mulai benar2 kesal karena si nelayan tidak mempercayai ceritanya. “Kodok buduk sialan! Ngga tau ya kalo aku ini sang jin penebar maut untuk nelayan2 buduk macem kau? Nih perhatikan! Akan kutunjukkan kekuatanku! Pasti kau bakal terpana melihatnya!”
Tubuh sang jin pun mulai berubah menjadi asap beraneka warna dan dengan kecepatan tinggi masuk ke dalam botol tersebut. Dengan sigap si nelayan menutup botol tersebut dan memasang kembali segelnya. Sekarang sang jin kembali ke tempat di mana Raja Sulaiman mengurungnya 2000 tahun yang lalu.
“Huh, kembalilah ke asalmu, wahai jin pengambil nyawa para nelayan! Aku harus memberitahu rekan2ku tentang hal ini supaya mereka tidak celaka. Semoga Tuhan melindungi kami dari jin2 semacam engkau!”
Kemudian dia melemparkan kembali botol itu ke tengah laut, dan lepaslah ia dari bahaya karena kecerdikannya yang mucul di saat-saat genting sebagai buah dari keimanannya.
—
Jadi memang, rasa penasaran terkadang membunuh kucing
Si nelayan yang terlalu penasaran nyaris celaka ketika membuka sebuah botol tanpa tahu isinya. Saya yakin banyak di antara kita yang pernah juga mengalami kejadian yg mirip2 (meskipun tidak selalu bertaruh nyawa)
. Ketika kita sudah dipenuhi oleh rasa penasaran akan sesuatu, sebaiknya kita selalu mempersiapkan dengan sesuatu yg lain untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu yg mengundang rasa penasaran kita itu

terakhir komen